P Tower Series [1]

hug12 minggu di Milan sama sekali tak terasa. Semua orang bergembira, sekaligus deg-degan menjelang hari-hari terakhir liburan. Semua orang sudah tahu kalau sehabis liburan, tugas yang jauh lebih berat sudah menanti dengan manis. Tapi… sssttt… ada yang deg-degan karena ada yang patah hati pun ada yang sedang jatuh hati. Sayang rumor belum digosok, sehingga belum tersebut siapa para pemilik hati itu.

APAAA??!!!

Semua orang terperanjat dengan keputusan meeting di hari Senin pagi. Liburan kini terasa bagaikan masa lalu yang usang, dan mendadak semua orang butuh liburan lagi.

Miss S dan Mr B meninggalkan jajaran manajerialnya, pergi menuju helipad bersama para eksekutif  yang siapa lagi kalau bukan Madame R dan Miss Endra. Baru setelah itu para manager saling berpandangan dan mulai riuh rendah menyuarakan kegelisahan masing-masing.

Dengan dramatis Mister Djaja menyeruak diantara kerumunan dan mengomel dengan gaya kocaknya, “Emangnya kita lagi ikut Amazing Race?? Kok dipisah-pisah gini sih? Terus kalau gw butuh desain gimana donk? Gimana mungkin gw terus berhubungan sama Anja, Satria atau Rizal kalau gw di Boz…Boznia…eh Botswan…aahhh tauk deh kota apa dan Anja di London, Satria di Sapporo dan Rizal di Tasik? Terus gw harus minta desain ke kantor cabang kita di Turki? Enggak paham gw, GAGAL PAHAM!”

Lalu Mister Ian dengan suara ramahnya ikut bergumam lugas, “kok gw ditugasin di Karachi? Dimana sih itu? Yakin disitu bukan daerah konflik? Terus bukannya kalau lagi ekspansi, butuh anak desain juga? Kok gw dicemplungin sendirian ginih sih…”

Kemudian keluhan demi keluhan menjalar satu per satu, pada intinya kali ini owner P Tower dan para eksekutif sudah memutuskan bahwa para manager andalan mereka harus dilepas ke daerah-daerah ekspansi terbaru mereka. Mereka sangat percaya bahwa tiap manager bisa menjadi semacam country leader untuk tiap daerah baru tersebut. Tugas ini pun menjadi sangat menantang karena tiap daerah itu hampir bisa dikatakan minim wify, pun terpaut perbedaan waktu yang sangat jauh. Koordinasi mau enggak mau memang harus diatasi dengan warga setempat atau kantor cabang terdekat, dan bukannya dengan para manager yang sudah terlanjur kompak ini.

Sementara itu Miss Anja kalem dan hanya mencoba mendengarkan keluh kesah dengan senyum ramah, hanya saja ketika beberapa karyawan lain masuk ke dalam ruang meeting, dan suasana mulai makin ramai, Miss Anja sempat melihat Miss Selena sedang tersenyum merajuk dan tatapannya penuh cinta… eits… ke siapa nihh? Miss Anja berusaha melongok-longok, tapi seseorang itu tertutup kerumunan banyak orang. Dengan pelan-pelan tapi pasti Miss Anja berusaha menyibak orang-orang di depannya…Hmmm mungkin sama Rizal?…HAP! Satu orang tersibak! Ah ternyata bukan Rizal. Rizal ada di belakang Miss Selena. Sibak lagi…HAP! Ah bukan Mister Pan juga, Mister Pan duduk agak jauh di samping Miss Selena. Okay, satu sibakan lagi, pasti ketahuan nih siapa orangnya…HAP! Ahhhh….Miss Selena sudah berbalik dan pergi ke arah lain. Siapa laki-laki itu? Siapa dia? SIAPA??

“Elu sama SIAPA??” Sekonyong-konyong Mister Sam muncul di depan Miss Anja dan melontarkan pertanyaan yang… eh kok sebelas dua belas sih sama pertanyaan di benak gw. Ah mungkin Cuma kebetulan.

“Eh Sam, gw untungnya emang enggak sendirian sih, gw sama Selena. Kita gak ditugasin ke tempat antah berantah, tapi kita mesti support banyak kantor cabang kali ini. Seminggu bisa tuh ke asia, eropa, dan antartika hahaha…”

Mister Sam tertawa ramah. Anak yang satu ini memang kayak USB, bisa nancep ke banyak orang tanpa harus discan atau terdeteksi bawa virus, alias cocok ke segala lapisan tanpa pandang bulu. Enggak pernah ada keluhan tentang doi.

“Nah elo kemana atau sama siapa, Sam? Tanya Miss Anja tak kalah ramah.

“Gw sih kemana Selena pergi, ya gw disitulah hehehe” Kata Mister Sam dengan ringan dan riang.

“Hahahaha No picture No content sih ya, Sam.” Miss Anja pun ketawa.

“POTRET-POTRET YUUKK! PUMPUNG ADA FAHRI DISINI! SEBELUM KITA TERPISAHKAN WAJIB MILITER KE SELURUH BELAHAN DUNIA!” teriak Miss Eta yang memang paling rajin mengkomando semua orang buat foto-foto.

Lalu semua orang sibuk berkumpul dan berpose.

Tepat di tengah kerumunan pose itu, Mister Djaja berbisik ke orang-orang di sekitarnya; Mister Kencana, Miss Selena, Miss Rose dan Miss Anja.

“Siapa sih yang jadian?” Bisik Mister Djaja penuh intonasi ingin tahu.

Semua tetap dengan wajah senyum ala pose, berusaha menimpali.

“Yang patah hati sih gw tahu.” Bisik Miss Rose.

“Iyah, Rizal.” Celetuk Miss Anja santai.

Miss Selena tetap tersenyum dan berpose-pose dengan genit, pura-pura tak mendengar. Mister Djaja memberi isyarat dengan mata kearah Miss Rose dan Miss Anja, dan menunjuk kearah Miss Selena dengan bibir semampainya. Miss Rose dan Miss Anja hanya mengangkat bahu.

Tiga hari pun berlalu bagaikan kehidupan di pemakaman. Semua orang tampak galau dengan tugas terbaru. Satu per satu ngumpul di ruang sebat, tepat sehari sebelum pemberangkatan.

“Ngopi dulu dong!” Kata Mas Waw riang menyeruak diantara anak-anak sambil membawa baki yang dipenuhi dengan cangkir-cangkir berisi kopi panas favorit penghuni Paraplou Tower.

“Mas Waw, gw bakal kangen kopi bikinan lo nih.” Kata Miss Selena dengan sendu sambil menyeruput kopi panasnya.

“Ah baper ah lu!” Celetuk Mister Sam dengan cuek, sambil tak kalah nikmat menyeruput kopi panasnya.

Miss Selena hanya memelotinya sekilas namun cepat-cepat membenamkan wajahnya di balik cangkirnya.

“Sel, Rizal lo apain sih?” Tanya Mister Satria pada Selena.

“Selena sih pakai punya affair sama orang India bos e-commerce foodism.” Timpal Mister Ian sambil cekikikan.

Miss Anja mengernyit, kalau affair itu sih gw tahu, tapi tadi Selena… sama siapa yah…

Lalu terdengar langkah seseorang dan tiba-tiba SET! Serentak semua orang memandang kearah pintu ruang sebat, tampak Mister Rizal dengan muka kusut sedang mau melangkah masuk ke ruang sebat, tapi begitu menyadari keberadaan Miss Selena disitu, Mister Rizal langsung tanpa babibu beringsut pergi.

Semua orang berpandangan bingung dan akhirnya menatap ke Miss Selena seolah menuntut jawaban dan pertanggungjawaban.

Miss Selena dengan elegan menurunkan cangkir kopinya dan berkata dengan tenang dan tetap genit tentunya, “Cinta itu kayak minum kopi. Semua harus dicicipi dan dirasakan dengan sepenuh hati. Tapi tidak akan ada yang bisa menjamin, ketika kopi itu habis, kamu akan sangat menyukainya, atau kamu akan lebih memilih kopi jenis lain. So, guys, nanti kalau kangen-kangen, kodein gw sama Anja yah, kan kita yang paling bisa mobile sekarang ini. Sipp. Okay? Gw cabs dulu yah.”

Semua terpaku mendengar penjelasan Miss Selena dan tak mampu menahan kepergian Miss Selena yang dengan elegan melenggang meninggalkan mereka semua.

Mister Kencana yang tersadar duluan.

“Terus anak P Tower yang jadian siapa sih?”

 

To be continued

In this series, since it talks about loneliness, then keep staying with me and listen to this: https://soundcloud.com/helena-rinthasari/p-tower-series-1

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s