Unspoken Words

food2Seandainya kita mampu menebak jalan pikiran kita satu sama lain. Seandainya paling tidak kita berani jujur satu sama lain.

 

Fe

Restoran bintang lima di hari minggu ini entah mengapa sangat ramai. Terlalu banyak kerumunan orang yang harus aku perhatikan satu demi satu untuk mencari sosokmu. Sampai akhirnya, mataku terpana pada satu pria yang familiar denganku selama 15 tahun terakhir ini.

Mo

Aku melihatnya tersesat di kerumunan orang-orang, tidak susah untuk mengenalinya. Langkahnya selalu lugas dan mantap, tatapan tajam jauh ke depan, rambut panjang tergerai dan bagaimana tidak mudah, ini wanita yang selalu kutemui, kapanpun dan dimanapun dia berada selama 15 tahun terakhir ini.

Fe dan Mo saling berpelukan dan kemudian duduk serta menikmati makan malam mewah favorit mereka. Hingar bingar tawa terdengar di sela-sela pembicaraan mereka.

“How are you, Mo? It should be good right since you invite me to have a very special dinner here?” Tanyaku ringan.

“I celebrate something special in my life today. My freedom, my happiness, my life. Everything Fe, everything in my life. Definitely I like to share it with you.” Mo menjawab tak kalah ringan dan riang.

“Time goes by yah, Mo.” Kataku tetap riang namun sendu.

Fe

Kamu memberikan kejutan yang menyenangkan untukku, yang sebenarnya sudah kesekian kalinya sejak awal kita bertemu bertahun-tahun yang lalu. Hanya saja aku sudah terbiasa melihat punggungmu, kamu yang datang dan selalu beranjak pergi dariku.

Mo hanya mengangguk.

“Anyway, aku lagi punya sederet impian masa depan nih, Fe. Kali ini aku mau serius. Masih, masih tentang eksistensi seputar dunia entertainment hahahaha..” Mo berkata ringan namun penuh tekad.

“Hey, ini emang udah waktunya kamu serius, Mo. Like to hear that. Gw juga nih Mo, tiga tahun belakangan ini hidup gw out of control banget. Gw dengan tegas sudah memutus lingkaran samsara gw ini hahaha… tahun depan, tahun depan harus beda. Tahun depan semuanya harus gw ubah.” Sahut Fe tak kalah bersemangat.

Mo hanya tersenyum sekilas dan matanya ia alihkan ke arah lain.

Mo

Kamu tidak pernah tahu Fe, selalu terasa menyakitkan setiap kali aku harus mendengar impian-impianmu yang menahanmu di kota ini. Aku tidak pernah ingin kehilangan binar-binar bahagia di matamu, walaupun aku yang harus terus kehilangan kamu.

Fe meneguk birnya dengan cepat. Mo mau tak mau terkesiap.

“Haus, Fe?”

Fe tertawa, “Uang di rekening berlimpah, rumah dan mobil tinggal pakai, keluarga dan teman selalu penuh cinta, masalah hidup gw cuma nyari jeda waktu antara gw sama elo gini Mo, buat makan bareng hahahaha I wish! I wish masalah hidup gw cuman itu.”

Mo tersenyum tipis, “I wish the same too, Fe…”

Sekali lagi Mo mengalihkan pandangannya dari Fe, dan tampak nanar seperti berpikir keras dan menahan luka yang teramat sangat. Fe diam-diam menatapnya dengan sedih.

Fe

Ini kata yang tak terucapkan setiap kali aku bersua denganmu akhir-akhir ini, what have you gone through? Kamu tahu enggak sih aku rela pergi darimu supaya kamu bisa bahagia? Kenapa kamu jadi seperti ini? What did she do to you?

Fe mengibaskan rambutnya, tawanya begitu lepas, dan Mo diam-diam menatapnya takjub.

“Akhir tahun mau kemana, Fe? Pulang enggak?” Tanya Mo lugas.

“Pulang dong, it’s Christmas. All I want is just going home, Mo. Kenapa? Mau ngajakin aku liburan akhir tahun di London? Harus antri Mo, udah banyak yang booking aku kalau akhir tahun hahaha” kata Fe penuh canda lengkap dengan kerlingan matanya yang menggoda.

Mo hanya tersenyum lebar menatap Fe.

Mo

Akhir-akhir ini kamu semakin cantik. Tak teraih. Aku tahu aku sendiri yang membuat perasaanmu padaku mati, aku tahu aku tak berhak mempertanyakan kembali rasa cintamu padaku, apalagi berharap memilikimu.

Mo meminum birnya dan tampak senang melihat Fe menyantap sajian mewah malam itu dengan lahap.

“Aku punya rencana kerja akhir tahun ini, tapi tetap berharap bisa menyeruak dan mampir ke rumahmu nanti. May I, Fe?” Kata Mo dengan ringan.

“Anytime dong, Mo. Anytime. Datang aja.” Jawab Fe singkat dengan senyum manis.

Fe

Aku sudah terbiasa untuk tidak mengartikan apapun yang kamu lakukan padaku. Aku sudah terlalu sering menerima kenyataan bahwa tidak pernah akan ada kita, sehingga kapanpun bagiku kamu tak lebih dari seorang teman. Sulit merubah semua itu kini.

Tiba-tiba Fe melihat kearah jam tangannya.

“Time is up, Mo. Yuk balik ke putaran hidup kita masing-masing hahaha A lot of things to do nih. Still hope the best absolutely. Thanx a lot buat special dinnernya ya, Mo.” Kata Fe sambil mengecup pipi Mo.

Fe dan Mo beranjak berdiri. Tampak Mo terpaku menatap kearah Fe.

Mo

Walau terdengar klise tapi seandainya aku bisa memutar kembali sang waktu, I will choose the road not taken dan berharap kamu ada di bagian kisah itu, dan aku yakin aku tidak akan sehancur ini karena terlalu lama memendam rasa ingin memilikimu, dan aku akan terus berpelukan denganmu.

Lalu Fe dan Mo berjalan pulang. Saat sampai di persimpangan dan mereka harus berpisah jalan, mereka saling berpelukan dan berpamitan. Saat keduanya berjalan saling menjauh, Fe menghentikan langkah dan menatap punggung Mo.

Fe

Kenapa kamu terus menemuiku?

Tepat disaat Fe kembali meneruskan langkah kakinya, Mo menengok kearah Fe.

Mo

Kenapa kamu terus mencariku?

 

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s