Let the Balloon Fly

balloonYou’re the one that I love. And I’m saying goodbye.

 

Dia selalu riang setiap kali menyapaku, kalaupun hatinya sedang dirundung sedih, sapaannya adalah sesuatu yang selalu kunantikan. Namun beberapa saat terakhir ini ia terdiam dan menghilang. Aku memaksanya untuk menemuiku, setelah menunggu ribuan menit, akhirnya ia setuju untuk meluangkan waktu bersamaku.

“Kamu darimana aja?” Tanyaku ringan sekaligus to the point.

Dia menggeleng lemah, “Enggak kemana-mana.”

“Adakah seseorang yang lain di hatimu sekarang ini?” Aku terus bertanya.

Dia memalingkan muka dariku, terlihat jelas dia tidak nyaman dengan pertanyaanku.

Aku selalu tidak suka kalau dia sudah memilih diam sebagai pengganti kata-kata.

“Is there another way for us?” Aku terus menghujaninya dengan pertanyaan, walau aku tahu itu akan sia-sia belaka dan membuatmu makin ingin bersembunyi di balik tembokmu yang kokoh.

“Kamu sadar enggak sih tiba-tiba kamu menghilang begitu aja, it’s not fair for me.” Kataku terus mendesaknya.

“Kenapa?” Pertanyaannya diucapkan dengan seketika mungkin, matanya menatap tajam kearahku.

Kali ini aku yang terdiam. Kami bertatapan beberapa saat. Kali ini aku yang memalingkan wajahku darinya.

“Kamu tahu kan balon yang dijual oleh penjaja balon jalanan, yang setelah diisi udara, akan mengembang, dan kemudian diikat atau diberi batu sebagai pemberat, sampai seseorang membelinya?”

Aku mengangguk.

“Dulu setiap kali aku akan membeli balon itu, aku akan terlebih dulu memimpikannya, membuat khayalan tentangku dan si balon itu, bahkan sebelumnya aku sudah memilih warna apa yang kuinginkan. Namun aku tahu, balon diciptakan untuk mengudara. Kalau hanya dimainkan, ia hanya akan meletus, dan esensinya pun sirna.”

Aku terkesiap mendengar analoginya dan kembali menatap ke arahnya.

“Then you always let the balloon fly?” Tanyaku was-was.

Dia mengangguk dan kali ini dengan sangat mantap.

“Aku memilih berhenti berkhayal tentang aku dan balon itu. Aku akan mencari seseorang yang benar-benar bisa kugenggam, dan bahkan menahanku pergi.” Dia mengakhiri analoginya dengan tenang walaupun terlihat kesedihan tak terbendung di kedua matanya.

“Is it a goodbye?” Tanyaku lirih, pertanyaaan yang aku sangat tak ingin mendengar jawabannya, namun aku tahu aku pun tak yakin bisa hidup tanpa jawaban sejujurnya dari dia.

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca, tanpa kata. Pemandangan itu sudah cukup menjadi jawabanku.

 

The end.

Giving up on you

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s