My Lost Child [3]

long_live_the_black_parade_by_maloma

The black parade comes to the city. 

 

Suasana kerajaan masih terus mencekam karena hujan dan awan hitam sebagai penanda kehadiran Alexander, putera kesayangan Raja yang memiliki kekuatan kegelapan. Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan dilakukan Alexander. Karakternya yang sangat mengerikan dan tak tersentuh, membuat orang-orang terlalu takut untuk mendekatinya.

Tersiar kabar, kali ini putera kesayangan Raja ini baru saja pulang dari perang yang sangat besar, dan Ia menjadi pemenang dalam perang tersebut, menebas ribuan kepala dengan pedang di tangannya sendiri. Bukan kepala manusia, namun segala macam makhluk jahat yang mengerikan. Namun tentu saja, orang sehebat dia, memiliki cerita yang paradoks sehingga membuat sosoknya semakin kontroversial. Banyak orang lebih percaya, putera yang satu inilah yang memiliki tugas melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor sang Raja, sehingga Raja sangat menyayanginya. Sekali lagi, tidak ada sanggahan atau penjelasan sedikitpun dari istana mengenai rumor yang beredar tersebut. Semua tentang Alexander adalah bayangan hitam, yang hadir namun tak dapat disentuh. Sirna saat terang menghampiri.

Lalu di suatu malam, setelah berminggu-minggu awan hitam mengurung kerajaan dan seluruh penjuru negeri, terdengar suara auman mengerikan yang menggelegar di salah satu sudut sebuah kota.

Orang-orang melihat ngeri kearah satu titik hitam yang teramat besar. Alexander berdiri di atas tumpukan mayat dengan pedang yang penuh darah. Wajahnya menunduk, bukan lengah namun seolah menunggu sesuatu. Tiba-tiba sekelibatan orang-orang berbaju layaknya seorang biksu memecah keheningan. Alexander meloncat dan bergerak menebas semua biksu itu, diikuti oleh sepuluh Pasukan Kesucian. Tak lama kemudian, semua biksu itu tewas. Selanjutnya terlihat pemandangan yang lebih mengerikan. Sebuah parade hitam di jalanan utama, Alexander memimpin sepuluh orang Pasukan Kesucian menyeret semua mayat itu hingga ke hutan yang terkenal gelap dan angker.

Keesokan harinya, di ruang rapat dewan istana, Alexander dengan jubah hitamnya tampak sedang duduk dan dari kerudungnya yang menyembunyikan sebagian besar wajahnya, tampak seulas senyum. Senyum yang seolah riang, kontras dengan kengerian yang baru saja dilakukannya semalam. Raja, keempat saudara Alexander, dan 9 anggota dewan kehormatan tampak tegang.

Salah satu anak Raja berteriak dengan kecaman yang sangat keras sambil menunjuk kearah Alexander, “Dia membantai para biksu! Jatuhi dia dengan hukuman mati!”

Lalu semua ikut berteriak, “Hukum dia! / Hukum mati dia! / Dia sumber kegelapan!”

Raja menghentakkan tongkat kerajaan dengan sangat keras, dan semua terdiam. Lalu Raja dengan suara berwibawa berkata, “Apa yang telah membutakan mata kalian selama ini?”

Putera sulung Raja dengan penuh amarah berdiri, “Yang mulia! Tidakkah anda tahu dia telah membantai para biksu?”

Raja tetap dengan suara bijaknya dan emosi yang terkendali menjawab, “Kalau kamu selalu dibutakan dengan ambisimu sendiri, maka kamu tidak akan pernah bisa mengenal adikmu sendiri Alexander dan memahami segala perbuatannya. Kemudian untuk apa aku harus menjelaskan padamu?”

Putera sulung Raja tampak semakin marah, “Mana yang lebih dibutakan oleh kekuatan gelap, kami atau ayah?”

Sesaat suasana sunyi oleh kelancangan kata-kata si Putera sulung Raja. Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam melesat cepat kearah Putera sulung Raja. Sesaat kemudian, terlihat Alexander sudah mencengkeram Putera sulung Raja dan pedangnya yang besar, tajam dan berkilap tepat di leher Putera sulung Raja. Semua terkesiap tegang.

Terdengar geraman Alexander yang mengerikan dan suaranya yang berat dan tajam, “Talk with dignity and respect!”

Putera sulung Raja yang tadinya tampak sangat berkuasa dan semena-mena, kini gemetaran dan tampak sangat ketakutan. Begitupun anak-anak Raja yang lain, dan anggota dewan kerajaan.

Tepat disaat itu, 10 pasukan kesucian masuk ke dalam ruang tahta kerajaan semua dengan posisi siaga. Para anak Raja dan anggota dewan makin ketakutan. Ketua pasukan memberi hormat pada Raja dan kemudian pada Alexander, kemudian berbicara dengan tegas, “Biksu dan anak buahnya telah kembali ke kuil mereka. Tidak ada lagi penjahat dan penyihir berkedok biksu di negeri ini. Akan tetapi, kejadian ini membuat para penyihir menyerang negeri lain, yang mulia. Saya mohon kebijakan anda.”

Raja mengangguk dan menjawab, “Arthus, pimpin pasukanmu untuk melawan penyihir itu!”

Arthus yang adalah Putera sulung Raja tampak terkesiap, Alexander melepas cengkeramannya dan berdiri di tepi jendela, tak seorang pun dapat melihat raut wajahnya.

Arthus menjawab dengan suara gemetar, tentu tak segarang beberapa saat yang lalu, “tapi ayah, aku sedang mempersiapkan pasukan untuk menertibkan pajak pada rakyat.”

Raja menjawab, “Buktikan kalau kamu tidak lebih buta daripada ayah.”

ZIIIING…. Angin bertiup sangat kencang. Suasana kerajaan menjadi sangat dingin dan mencekam. Tidak ada yang bisa menolah perintah Raja, karena akan dianggap sebagai pembangkang. Tidak mungkin pula menolak sang Raja disaat ada Alexander yang siap melakukan apa saja demi melindungi ayahnya.

Anak kedua Raja kemudian berusaha memberi usul dengan suara gemetar, “Ayah, banyak sekali perompak dan penjahat yang sering merampok hasil pajak kita, Arthus sangat kita butuhkan untuk menghadapi hal tersebut. Kerajaan ini membutuhkan dia.”

Raja tanpa menoleh kearah anak keduanya menjawab, “Untuk saat ini sampai waktu yang belum kutentukan, Alexander akan menjadi orang kedua setelah aku yang akan memerintah kerajaan ini.”

Suasana ruang tahta kerajaan mendadak ramai dengan bisikan-bisikan kaget para anak-anak Raja dan anggota dewan kerajaan.

Arthus tiba-tiba menyeruak dan berkata, “Apakah aku boleh membawa pasukan Kesucian bersamaku?”

Raja menoleh dan kali ini tampak marah, “Tak seorang pun pernah lancang kepadaku dengan meminta pasukan khususku! Jalankan perintahku dan bawa pasukanmu sendiri!”

Entah keberanian atau keputus-asaan yang teramat besar meluap di diri Arthus, Arthus berteriak, “Ayah selalu berpihak pada Alexander! Dia selalu menang karena Ayah memberinya banyak dukungan!”

Belum sempat semua bereaksi, tiba-tiba sekelebat bayangan hitam dengan sinar keemasan melesat menuju sang Raja, dan Alexander menangkis bayangan hitam itu. Terjadi pertempuran yang sengit di udara, sampai di satu titik, bayangan keemasan itu tersudut dan terdengarlah tawa jahatnya.

Semua kaget melihat seorang penyihir bermuka menyeramkan dengan mata merah di ruang tahta itu. Semua tahu bahwa penyihir itu datang dari bangsa penyihir yang terkenal sangat kuat, jahat dan kejam. Penyihir itu tiba-tiba beranjak dan kembali melesat kearah Raja, namun Alexander berhasil menahannya lagi. Semua orang terkesima dengan pertarungan sengit yang terjadi saat itu. Pasukan Kesucian bersiap untuk menolong Alexander namun Raja menahan mereka.

Beberapa kali Alexander juga terpuruk dan tersudut, namun dengan gagah berani ia kembali menghajar penyihir itu, dan terlihat pedang Alexander berkilap menembus jantung penyihir itu. Penyihir itu tampak marah dan kesakitan lalu terpuruk di lantai sambil berkata, “Aku hanyalah pesan. Pembuka perang diantara bangsa kita…aarhh….” Lalu penyihir itu raib menjadi asap hitam.

Lalu seketika Alexander berputar dan menunduk hormat pada ayahnya, diikuti oleh seluruh pasukan Kesucian. Dengan suara berat yang sangat kuat, Alexander berkata, “Aku siap menjalankan perintah Ayah”.

Raja mengangguk bangga dan mengetukkan tongkat kerajaan pertanda semua perintah Raja telah sah dan harus segera dijalankan.

The end.

 

Pic by Maloma.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s