Surat Cinta untuk Kamu

dad1Dear my little princess, let me give you a hug. Kalau di surga ada kantor pos, sudah Ayah pastikan, surat Ayah akan datang setiap hari untukmu. Surat berisi rangkaian kata pujian dan rasa bangga Ayah sama kamu. Bahwa kamu harus terus berpijar apapun yang terjadi, karena Ayah akan terus mencintaimu.

 

Hari itu Ayah mengajakku bermain petak umpet. Aku selalu kalah karena Ayah selalu bisa menemukanku. Hanya saja, Ayah selalu mengalah dan membiarkan Ayah yang selalu mencariku. Kali ini Ayah memintaku untuk mencarinya.

“Coba sekarang kamu yang cari Ayah, yah. Tutup wajah kamu, dan hitung dari satu sampai sepuluh, yah.” Kata Ayah lembut.

Aku menutup wajahku namun aku berusaha mengintip dari sela jari-jariku.

“Ayo cantik, tutup wajah kamu.” Kata Ayah sabar.

Aku tergelak dan Ayah menutupkan kedua tanganku di wajahku sendiri.

“Hitung yah, sayang?” Ucap Ayah lembut.

Aku mengangguk. Saat Ayah mulai melangkah, aku langsung menarik tangannya. Ayah menatapku, dan langsung memelukku erat-erat.

“Kenapa cantik? Ayah yakin kamu pasti bisa menemukan Ayah.”

Aku menggeleng keras dan memeluknya erat-erat. Kami berpelukan selama beberapa saat. Lalu Ayah melepaskan pelukan dan menggandengku ke sebuah taman bermain yang indah dengan musik gembira. Ayah membelikanku sebuah es krim dan menggandengku ke sebuah bangku.

“Kamu duduk disini yah, makan es krim kamu.” Kata Ayah dengan nada yang selalu lembut.

Wajahku menampakkan kekhawatiran yang teramat sangat dan mencoba beranjak mengikutinya, tapi Ayah memberi isyarat untuk ku tetap duduk. Tak lama kemudian, Ayah menari!

Ayah memang selalu suka menari, walaupun tariannya tidak bisa digolongkan dalam jenis tarian apapun. Aku tergelak melihatnya. Saat es krimku habis, Ayah mengulurkan tangannya dan kami menari bersama.

18 tahun kemudian. Di sebuah acara dansa nan romantis, aku memegang erat tangan yang kokoh dengan bahu yang kuat.

Bukan tangan yang sama, bukan pula Ayah. Tapi aku bisa melihat sosok Ayah dalam dirimu. Kamu selalu bisa membuatku tertawa disaat aku sedih. Kamu tidak memiliki kata-kata bijak untuk menenangkanku, tapi caramu memperhatikanku selalu mampu membuatku merasa nyaman.

Kamu persis seperti Ayah, yang tidak membutuhkan uang atau kekayaan untuk terus berkarya. Kamu melakukan banyak hal dengan sepenuh hatimu, bekerja pantang menyerah, hidup sederhana dan jujur. Tidak menjanjikan apapun namun kamu selalu dapat membuat seseorang ingin bergelayut manja dan percaya hanya padamu, karena kamu selalu memberikan yang terbaik untuk orang lain terutama orang yang kamu sayangi.

Aku mengagumimu setengah mati. Kamu bisa menjadi setegar karang, diam seperti gunung, berceloteh riang seperti riak ombak di pantai, dan tenang seperti lautan yang mampu menanggung segalanya. Membuat si api merah bernama aku ini takluk padamu.

Kamu persis seperti Ayah. Kamu memberiku rasa yang bahkan aku tak yakin bisa menampungnya seorang diri. Bahkan rasa yang barangkali tidak akan pernah ada habisnya, seperti yang Ayah berikan padaku. Rasa yang tidak mengenal tanggal kadaluarsa.

Aku selalu ingin tenggelam dalam pelukanmu, seperti dulu aku setiap kali berada dalam pelukan Ayah. Aku ingin kamu selamanya disini. Namun, aku tak mampu menanggung rasa ini sendirian. Berulangkali aku menghilang darimu, berulangkali aku berusaha menepismu, namun kamu satu-satunya yang selalu ingin membuatku kembali.

Kusentakkan kedua tanganmu dan aku berlari pergi menuju kamar dan cepat-cepat menutup pintunya. Kamu mengejar dan berusaha membuka pintu namun sia-sia.

Aku terduduk dan menangis di pintu. Sementara kamu terduduk di posisi yang sama, berbatas pintu.

“Kamu kenapa? Aku disini.” Katamu lirih namun tegas.

Aku terus menangis dan tiba-tiba secarik kertas terselip di bawah pintu.

Aku

Lalu kertas kedua muncul di bawah pintu.

Akan selalu

Aku mulai tersenyum.

Kertas ketiga melengkapi kalimatnya.

Menunggumu

 

The end.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s