Married Soon!

marriageGuys, tahun ini yah!

 

Pagi yang sunyi dan tenang mendadak heboh karena di salah satu whatsapp grup kesayangan gw, tiba-tiba Andrea si gadis metropolitan yang suka berpindah hati dan kencan sana-sini tiba-tiba ngasih pesen singkat “I want to marry this man.”

Rasanya enggak cuman gw yang tiba-tiba kebangun dan ngerasa mendarat di hari senin yang hiruk pikuk. Para anggota grup langsung sibuk ngasih komentar. Intinya semua pertanyaannya sama: Sama yang mana? Yakin nih sama doi?

Kita semua sibuk heboh, dan Andrea cuma kasih jawaban-jawaban singkat yang sangat tidak menjawab. Sebenarnya kita selalu ngarepin yang terbaik buat Andrea, tapi kali ini keputusannya tidak dibarengi dengan fakta kisah cinta yang solid, so we are wondering, kenapa dia bisa tiba-tiba came up dengan pernyataan itu.

Akhirnya gw memutuskan untuk pergi menemui Andrea yang ternyata lagi sibuk berenang di salah satu apartemen di tengah kota Jakarta, dan pasti tadi ngirim statementnya pas lagi berjemur. Duhh, nyebelin nih emang anak.

Setelah cipika-cipiki dan menyeruput jus buah yang segar, akhirnya gw memeloti Andrea dan menuntut penjelasan. Sementara Andrea malah cengar-cengir dan ketawa-ketiwi, sampai akhirnya Andrea melepaskan kacamata hitamnya.

“Omg! what happen to you, baby?” Teriak gw spontan begitu melihat matanya bengkak.

Lalu gw peluk Andrea erat-erat, sambil berbisik, “Ada sinetron apa nih?”

Andrea tertawa ringan dan melepas pelukan gw.

“Lex, selama ini lo pernah bilang gw pengin married enggak?” Tanyanya ringan.

Gw menggeleng cepat.

“Dari para lelaki yang pernah ada dalam hidup gw, pernah enggak gw bilang pengin married sama at least salah satu dari mereka?”

Gw menggeleng makin cepat dan mantap.

“Akhir-akhir ini lo pernah enggak denger gw lagi serius sama seseorang?” Tanyanya lirih tapi entah kenapa terdengar jenaka.

“Enggak, tuh.” Gw menjawab cepat.

Lalu Andrea terdiam dan memalingkan muka, meninggalkan gw yang terhenyak kebingungan.

“Jadi… jadi gimana sih, ndre? Kok gw jadi bingung ginih?!”

Andrea ketawa dan melempar sedotan ke arah muka tolol gw.

“Lex, kali ini gw udah nemu alasan yang bikin gw memutuskan pengin married.” Jelasnya dengan singkat tapi tegas.

Gw manggut-manggut sambil berkata, “Nah, trus?”

Andrea tersenyum manis, “Kenapa? Butuh gw sebutin sebuah nama?”

“Ya iyalah, emang akta nikah lo, mau lo kosongin?” Timpalku gregetan.

Andrea tertawa lebar.

“Alex ganteng, elo inget enggak waktu kaki gw keseleo pas kita mau pulang dari Hong Kong? Rasanya waktu itu gw beneran enggak nyangka bisa ngejar pesawat kita, lex. Kaki gw sumpah sakit banget, dan kita berdua enggak tahu rute menuju boarding room kita. Tahunya beneran cuman step by step, abis dari lorong ini, masuk ke pemeriksaan imigrasi, terusin ke lorong berikut, sampai masuk ke bis, dan gw pikir udah tuh sampai situ, ternyata masih masuk lorong, trus ngantri kereta cepat, masuk ke lorong lagi, dan di titik itu, gw udah mau nyerah, lex. Gw udah siap lo tinggal, dan gw extend di Hong Kong. Ternyata jeng-jeng… we ended up well in the boarding room, and we caught the plane.” Jelasnya dengan senyum menghias wajahnya.

Gw seneng dia mengingat peristiwa penuh kesakitan itu dengan senyum manis di wajahnya.

“Lo tahu enggak apa yang bikin gw terus berjalan walau kesakitan di hari itu?” Tanyanya sambil menatapku lekat-lekat.

Gw mendadak merasa tolol, dan cuma menebak ngawur, “karena… gw yah?”

Andrea tertawa ngakak dan menjawab, “Narsis lo patut gw acungin jempol, but yes, salah satu alasannya adalah elo, lex. Elo bawain tas gw, dan tatapan lo mendorong gw terus berjalan. Gw bilang ke diri gw sendiri, I started the journey with a lovely friend, so I will end it with him as well.”

Mendadak gw menggelepar penuh haru dan gw peluk Andrea erat-erat. Kalau gw bukan seorang gay, pasti gw jatuh cinta berat nih sama perempuan yang satu ini.

Setelah melepas pelukan, Andrea meneruskan kata-katanya, “Alasan gw satunya, gw tahu tujuan perjalanan itu. Gw akan pulang ke Jakarta, membawa pengalaman indah perjalanan kita, dan moving on dengan bekal yang baru, simply as that, but it pushed me well to keep me walking at that time.”

Gw masih menatapnya dengan wajah tolol, “Eh, trus hubungannya sama statement lo tadi pagi apa, ndre?”

“Alex ganteng, coba deh lo simpulin sendiri. Kali ini gw cuman bisa kasih semua itu ke elo. Bukan karena sok rahasia, tapi ada perjalanan yang emang kita harus ngikutin step by step, dan enggak boleh serakah untuk bisa ngintip dan cari tahu next story-nya, except just follow it.”

Gw manggut-manggut. Andrea tersenyum dan menggenggam kedua tangan gw, untuk menenangkan gw yang masih resah menyimpan banyak tanya.

“Alex, gw juga belum tahu jawabnya. Tapi statement gw pagi tadi adalah kemajuan dalam kamus percintaan gw, right? Still wandering and wondering, tapi kali ini gw tahu siapa teman seperjalanan gw dan tujuan yang mau gw capai. Lo dan gw akan sampai di hari pernikahan gw nanti. Gw dengan gaun putih gw, dan elo dengan tuxedo hitam, mengantar gw ke altar, okay lex? Katanya lembut mengalun.

Gw mengangguk terharu dan memeluknya lagi, sambil berbisik, “I do wish I am not a gay, babe.”

The end.

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s