Pamit*

pexels-photo-mediumButuh ribuan detik untuk membuat satu keputusan, karena aku tidak pernah merubah keputusan yang kubuat sendiri.

 

Banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama padaku tentang kamu. Apakah kamu masih mencintainya? Tentu jawaban tidak bukanlah jawaban yang tampaknya tepat karena aku selalu menyediakan ruang dan waktu kapanpun kamu membutuhkan seseorang.

Kamu kini menatapku nanar dengan pandangan tak percaya ketika akhirnya kamu mengetahui jawabanku yang sesungguhnya.

“Selama ini kamu sebenarnya telah pergi dan tak kembali lagi.” Ucapmu goyah.

Kamu adalah pria yang selalu membuatku jatuh mencinta berulangkali. Aku selalu mengagumimu dan namamu selalu kusebut dalam doaku. Kamu tak pernah tahu betapa perempuan ini gigih dan terus berusaha, hingga akhirnya semua rasa habis, dan yang tersisa adalah sebuah kesadaran bahwa butuh dua hati untuk menghidupkan cinta. Aku tidak pernah menyerah, kamu yang meragu dan mengucapkan pamit padaku dengan sinonim kata yang kamu rangkai sedemikian rupa.

Aku hanya mengangguk dan terdiam.

“Jadi sebenarnya kamu tak pernah menantikanku? Kamu tak mencintaiku lagi seperti dulu?” Tanyamu untuk kesekian kalinya.

Aku enggan menjawab pertanyaanmu dan kembali aku memilih diam.

“Selama ini bukannya kamu selalu ada untukku? Mencari dan menemuiku?” Tanyamu lagi, dan berharap jawabanku kali ini berubah.

Aku kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaanmu.

Kamu terlihat rapuh dan syok, hingga bersimpuh untuk memaksaku memberimu jawaban. Aku tak kuasa untuk menyakitimu karena kamu adalah salah satu pria yang tak kuiijinkan melihat sisi wanitaku yang bitchy ini, namun sekali lagi kamu memaksa.

“Alexander Gunawarman, aku Sophie Winatasari. Ayahku cuma berpesan satu padaku, Cintai laki-laki yang memang layak mencintai dan kucintai. Itu artinya bukan pria yang menganggap dirinya sangat hebat sehingga terus berpikir kalau aku selama ini selalu mencintainya. Bukan pula pria yang membuatku harus menanti lama, pun berjuang sendirian.” Kataku dan memberi jeda padanya untuk benar-benar menerima penjelasanku.

Kamu menatapku lekat-lekat.

“Lagunya Tulus yang berjudul Pamit ini benar-benar mewakili kamu. Pria yang mencoba merangkai kata sedemikian rupa dengan alasan tak ingin menyakiti, namun ingin terus dikenang dan bahkan mungkin ingin selalu dicintai sebagai pria terbaik. Perempuan selalu penuh dengan perasaan, tapi saat kata usai dan pisah terucap, di saat itulah perasaannya padamu sirna. Kapanpun kamu ingin perasaannya kembali, semua tak akan pernah sama. Perempuan mencintai dengan hati, tapi memutuskan dengan logika, karena dia belajar dari seorang pria terbaik yang pernah dan selalu mencintainya yaitu ayahnya. Barangkali tak semua perempuan seperti itu, tapi aku begitu.”

Kamu makin tak percaya dengan apa yang kamu dengar.

“Tapi… tapi kamu selama ini selalu ada untukku…” Katamu dengan gagap.

“I love being gone with the wind everytime I have decided that I am done with someone I love. But at that time, you asked me to be your best friend, so as your wish, baby.” Kataku lembut.

Kamu menggeleng-gelengkan kepalamu makin tak percaya.

“Selama ini kamu… pujian kamu? Caramu menatapku? Caramu membutuhkanku?” Katamu masih gagap.

“I am just a woman. You may call me a bitch. I am so sorry.” Jawabku tegas.

Kamu menatapku dengan penuh kebencian. Namun kuraih dan kugenggam tangannya.

“Maaf kalau aku berkata jujur, dan tidak memilih kata-kata manis yang pada akhirnya memiliki pesan yang sama. Mungkin hari ini aku menyakitimu, dan aku tak ingin dikenang sebagai apapun, dan tak ingin lagi jadi teman baikmu, hanya supaya kamu bisa terus berjalan dan siap mencintai lagi. Suatu hari nanti, saat cinta kembali hadir di hidupmu, jangan pernah menyia-nyiakannya lagi.” Kataku dengan sangat lembut.

Lalu kukecup pipinya dan aku pergi meninggalkannya.

The end.

*Terinspirasi dari lagu Tulus ‘Pamit’

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s