Your Space

heart3I need you to taste the world, sometimes without me. I have my own reason for that. 

 

Malam ini kamu pulang dengan tawa lebar, dan berceloteh tentang pertunjukan yang baru saja kamu tonton bersama teman-temanmu. Kadang kamu pulang dengan adrenalin yang sebegitu besar selepas kamu melakukan hobi bermusikmu. Kadang kamu tidak pergi kemana-mana dan tersenyum diam mendengarkan aku yang bercerita. Ada ruang bernafas yang cukup antara aku dan kamu, karena kadang aku pun butuh waktu untuk menghilang.

“Kamu tadi kemana? Nongkrong di kafe sama temenmu?” Tanyamu setelah selesai berceloteh panjang lebar.

Aku menggeleng dan terus menatapnya kagum. Pria di hadapanku ini tidak sepopuler Brad Pitt atau cool kayak Johnny Depp, tapi aku suka dan sangat menyayanginya.

Kamu tertegun dan tampak kaget dengan jawabanku, “trus kamu kemana?”

Aku beranjak dan mengambil es teh manis kesukaannya dari dalam lemari es. Mendadak kamu berbinar-binar sembari menyambut es teh manis itu, dan aku pun sangat berharap kamu lupa dengan pertanyaanmu. Namun, setelah menenggak seluruh minuman favoritnya itu dalam sekali teguk, kamu menatapku dan menunggu jawaban. Alih-alih menjawab pertanyaannya, aku mengutarakan hal lain.

“Besok sampai hari jumat aku business trip ke Singapore yah, tapi aku pulangnya minggu pagi.” Kataku sambil menundukkan kepalaku, tak sanggup menatap kedua matanya.

“Aku susul kamu di hari jumat malam kalau gituh.” Sahutnya cepat.

“Kamu kan mau hiking sama temen-temen kamu weekend ini.” Kataku tak kalah cepat.

“Okay.” Katamu cepat dan hanya satu kata.

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, dan melempar bantal kearahnya.

“Cuma gituh?” Tanyaku sebal.

“Itu artinya aku bolehin, itu kan yang kamu minta?” Katanya santai sambil memainkan es batu di gelasnya.

“Iyah. Kalau gitu mungkin aku balik minggu, atau minggu depannya, atau enggak pulang sekalian!” Jawabku emosional.

“Tuh kan, kamu selalu bawa-bawa perasaan. Padahal tadi kita ngobrol santai.” Katamu sambil meletakkan gelas dan mulai memainkan hpnya.

Aku hanya bisa terus menatapnya, dan berharap air mataku tak menetes cepat-cepat.

Tiba-tiba kamu menoleh dan bertanya dengan lembut, “Tadi kamu kemana?”

Aku hanya menggeleng dan menunduk, lalu aku beranjak, tapi kamu meraih dan menahan tanganku.

“Kamu yang sering pergi tanpa kejelasan kemana dan sama siapa. Aku selalu tidak mempermasalahkan hal itu, bukan karena aku tidak peduli, tapi juga bukan berarti aku enggak pengin tahu.” Katamu lembut tanpa memaksakan sebuah jawaban.

Aku melepaskan tanganku darinya dan berlari pergi darinya.

***

Sabtu malam. Starbucks. Marina Bay. Singapura.

Aku terpaku melihatmu tiba-tiba muncul di depanku. Aku memang selalu mengharapkan kamu muncul di saat aku menghilang, tapi tak mengira akan seperti ini, disaat aku benar-benar ingin menjauh darimu untuk sementara waktu.

“Jadi saat kamu menghilang, kamu selalu sendirian?” Tanyanya khawatir.

Aku menunduk dan menjawab lirih, “Mostly.”

“Sebegitu inginnya kah kamu menjauh dariku?” Tanyanya was-was.

Aku mengangguk.

“Lalu setiap hal kecil yang suka kamu ributkan, apakah itu karena kamu sedemikian bencinya padaku?”

Aku mengangguk.

“Kenapa?” Tanyanya dengan nada sangat polos tanpa prasangka.

“Aku mau pulang ke hotel. Sampai ketemu di Jakarta.” Kataku sambil cepat beranjak pergi.

Namun belum sampai jauh, aku segera kembali dan dia masih tampak seolah menantiku, lalu aku memeluknya. Kamu memang tak pernah se-emosional atau sedrama aku, tapi kamu siap menantiku kapan saja aku pulang.

“Aku membencimu karena aku terlalu mencintaimu, Alexander. Kamu satu-satunya orang yang melesak jauh ke dalam hatiku dan itu juga berarti kamu adalah orang yang paling potensial untuk menyakitiku. Aku juga tidak bisa kehilanganmu. Sedikit pun hal yang kamu lakukan, akan selalu berarti buatku, entah itu menyakitkan atau membahagiakan. Dan aku butuh menghilang supaya rasaku tidak terlalu pekat, supaya aku tidak menyakitimu terus-terusan. Aku…” Akupun lalu terisak.

Alexander memelukku erat-erat. Malam itu dia membisikkan beberapa kata yang akhirnya membuatku tak lagi ingin menghilang darinya.

The end.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s