Starbucks Pagi Ini

sbx1…my favorite ever.

 

Dari waktu ke waktu, Starbucks tidak pernah berubah. Konsisten dengan atmosfernya yang nyaman sekaligus dingin. Pemilihan standarisasi untuk desain interiornya yang diterapkan di seluruh gerainya, membuat saya selalu mencari atmosfer yang ditimbulkannya kemanapun saya pergi. Di negara manapun saya menyesap secangkir kopinya, ada kenyamanan yang sama yang saya temui disitu. Pun dingin. Ada sejumput sensasi dingin yang saya rasakan di tempat ini, dingin yang saya butuhkan, di sela hingar bingar kehidupan saya, di mana saya sangat menyanjung kebutuhan akan privasi.

Sebutkan saja berbagai kafe terkenal lainnya, yang bahkan mungkin kualitas kopinya jauh lebih bagus, tak ada yang menandingi sensasi Starbucks buat saya. Saya bukan pecinta kopi sejati, sehingga saya butuh paduan berupa atmosfer yang pas untuk menemani saya minum secangkir kopi.

Kalau saya sedang merasa berantakan sekalipun, saya selalu suka meluangkan waktu ke Starbucks. Tempat di mana saya bisa merasa mempunyai dunia sendiri, dan diperbolehkan termangu sendirian.

Starbucks pun selalu menjadi kantor kedua saya, bahkan mungkin sebenarnya kantor utama di hati saya, karena di manapun saya bekerja, proyek apapun yang sedang saya kerjakan, saya selalu merasa lebih bisa berkonsentrasi hanya dengan bekerja di gerai kopi yang satu ini.

Starbucks akan menjadi tempat di mana saya selalu ingin kembali dan kembali lagi. Bukan, bukan karena efek strategi marketingnya yang aduhai, atau gengsi yang kerap dilekatkan pada gerai yang satu ini. Sama sekali bukan. Ini karena saya jatuh hati, dan Starbucks memberikan apa yang saya butuhkan, yang membuat saya tak ingin lagi berpindah hati.

Itulah cara hati saya bekerja. Mungkin sama seperti hatimu atau hatinya. Pun saya juga mengerti sepenuhnya bahwa kadang kita tak mendapatkan apa yang sesuai dengan keinginan hati kita, kadang kita harus melalui berbagai hal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, saya sudah melakukannya dan masih melakukannya.

Namun di titik ini, saya sungguh ingin kembali jatuh hati, merasakan kembali hati saya berderap cepat, bergelora dan tersenyum. Saya tak ingin memaksa hati saya terus berkompromi. Seperti sahabat saya pernah ucapkan, “Hidup cuma sekali. You deserve better.”

Pun dalam hal cinta. Saya sudah bertemu dengan berbagai karakter, dan tiba-tiba hati saya jatuh hati pada pria sederhana yang jenaka dan apa adanya, jauh dari kesan glamor atau sophisticated, pun tanpa kata-kata bersayap yang selalu saya suka dari sosok Rangga di AADC. Kalau ditanya alasan utamanya apa, sama seperti alasan saya jatuh hati pada Starbucks dan beberapa hal istimewa lainnya, pun persis seperti lirik lagu Tompi yang berjudul ‘Tak Pernah Setengah Hati’ yaitu; hidupku kan selalu membutuhkanmu.

Sama seperti pendapat saya beberapa tahun yang lalu, buat saya kata ‘membutuhkan’ lebih besar maknanya daripada kata ‘mencintai’. Membutuhkan, tak hanya mencintai, namun juga dengan rendah hati mengakui bahwa kita membutuhkan seseorang itu, sekuat dan sehebat apapun kita.

Starbucks pagi ini akan terus sama bagi saya. Saya akan terus mencari sesuatu atau seseorang yang Starbucks selalu bisa berikan pada saya, hingga kelak bisa saya perkenalkan pada Starbucks sebagai apa yang saya cari selama ini dengan sepenuh hati.

The end.

 


2 thoughts on “Starbucks Pagi Ini

  1. Wah samaaa, walau bukan coffeelovers (akhirnya milih choco atau caramel :D), tenang, walau bermenung, coret sana-sini orang2 pun tidak peduli. Ganti gaya duduk suka2😀, dan itu sempurnaa😀.

    Untuk Starbucks dan cinta, saya belum sampai ketingkatan itu mbak Helen😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s