A Crying Woman Next to Me

perempuan2What is her story?

 

Aku sedang menunggu acara kebaktian di tempat ibadahku ketika seorang perempuan datang. Sekilas aku sempat meliriknya, matanya bengkak dan berkaca-kaca. Lalu ia duduk di sebelahku dengan sangat tenang dan ia dekap tasnya erat-erat seolah ada lubang dalam dirinya yang bisa ia tambal sementara dengan tasnya itu.

Saat acara kebaktian mulai bergulir, aku mendengar dia menangis terisak-isak. Hati ini rasanya tersentuh dan tentu saja ingin sekali bertanya ada apa denganmu? Namun, dari isyarat geraknya, ia hanya ingin menangis, tak ingin tersentuh oleh siapapun dan apapun.

Saat puncak kebaktian, tangisannya makin kuat. Sungguh aku berdoa untuknya, semoga Tuhan benar-benar mendengar suara hati perempuan ini. Pun, kalau memang ia menangis karena cintanya pada Tuhan, tolong, saya mau sesetia dan seyakin itu seperti dia.

Menjelang akhir kebaktian, kusodorkan buku doa padanya, supaya aku bisa menatapnya, dan berharap menemukan celah untuk setidaknya menyapanya dan bertanya tentangnya. Ia menolak dan sekali lagi ia terlihat tak ingin tersentuh oleh siapapun, tapi ia tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat hatiku sendiri merasa damai.

Apakah ia sedang patah hati? Apakah ia lelah menjalani hidupnya? Apakah ada peristiwa kematian atau duka cita yang sedang dihadapinya? Yang kutahu pasti, tangisannya terdengar sangat menyesakkan, menyiratkan luka yang teramat dalam.

Namun senyum di paras yang cantik itu, perempuan ini menangis bukan karena ia lemah. Ia bahkan terlalu kuat, aku yakin banyak hal berat pasti telah ia lalui. Perempuan ini menangis karena ia tahu dia butuh menangis tepat di hadapan Tuhan yang pasti ia yakini dengan sepenuh hatinya. Dia menangis di tempat ibadah tentunya karena ia ingin mencari Tuhan, dan bukan untuk mencari pertolongan dari siapapun yang sedang ada di tempat ibadah, pun belas kasihan atau tatapan iba.

Hanya saja, sungguh, saya ingin dia mengucapkan satu kata, setidaknya mewakili apa yang sedang terjadi padanya, atau apa yang bisa saya lakukan untuknya. Ingin rasanya mengulurkan sebuah sapu tangan untuknya, namun sia-sia. Air matanya bercucuran terlalu deras. Hentakan nafasnya begitu kuat. Saya ingin memeluknya. Namun tak sedikitpun ia memberi ruang pada siapapun untuk menyapanya, ia datang untuk menemui Tuhan. Titik.

Oh Tuhan, manusia macam apa aku ini yang tega membiarkan perempuan ini terus menangis sepanjang kebaktian ini?

Kembali kulirik wajahnya, tunggu, aku mengenali wajah itu. Itu wajah yang sama yang pernah kulihat beberapa tahun yang lalu di kereta. Waktu itu aku melihat seorang pria mengecup dahinya dan mengantarkan ia pergi. Lalu sepanjang perjalanan dari Jogja ke Jakarta, perempuan ini menangis, dan sama, saat itupun ia tak ingin membagi kisahnya pada orang tak dikenalnya, namun setidaknya saat itu ia menerima sapu tangan yang kusodorkan padanya.

Tepat di akhir kebaktian, aku bersimpuh dan mendoakan perempuan di sebelahku ini, semoga apapun yang sedang dia hadapi, ia bisa melaluinya dengan baik, dan kelak ada yang menjaga hatinya dengan lembut. Aku pun berniat tetap akan menyapanya.

Hanya saja, saat aku selesai berdoa, perempuan itu sudah berlalu pergi. Aku masih bisa melihat sekilas punggungnya, dan langkah kakinya yang gesit dan kuat. Aku tahu ia bisa bertahan dan ia layak mendapatkan keajaiban. Secepatnya.

The end.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s