Jakarta

city girlSaya suka Jakarta.

 

Di sepanjang perjalanan saya tinggal di Jakarta, sudah terlalu sering pertanyaan seputar alasan saya suka Jakarta dilontarkan pada saya. Bahkan setelah tahu bahwa kota kelahiran saya adalah Yogyakarta, ada yang dengan polos nyeletuk, “Bukannya di sana tenang?” Lalu dengan santai saya jawab, “Siapa yang mencari ketenangan?”

Pernah pula pertanyaan serupa dilontarkan pada saya setelah lawan bicara saya mengetahui bahwa saya pernah menolak tawaran kerja dari perusahaan media cetak utama di Indonesia hanya karena berlokasi di Bandung dan saya tetap memilih Jakarta walaupun waktu itu saya harus menjalani profesi yang sangat saya tidak sukai demi tetap membuka peluang yang lebih baik di Jakarta.

Kalau mau ditarik mundur lagi, pernah terjadi percakapan antara saya dengan pria yang waktu itu saya sukai setengah mati mengenai keputusan saya untuk hijrah ke Jakarta. “Jakarta, kamu yakin? Jakarta itu cuma untuk orang-orang jumawa.” Saya tertawa dan menjawab, “Saya yakin, karena cuma Jakarta yang bisa mewujudkan impian saya.” Dalam hati sebenarnya saya pun membatin I was not born to be humble, baby.

Itulah beberapa contoh pertaruhan besar yang saya lakukan demi bisa hidup di Jakarta. Pada akhirnya semua itu tidak sia-sia, Jakarta menyuguhkan bahkan memberikan kisah-kisah unik penuh warna baik itu tentang orang lain atau yang terjadi pada saya sendiri. Pun akhirnya saya berhasil meraih impian-impian saya di kota tercinta ini.

Saya tidak menutup mata bahwa Jakarta masih perlu pembenahan di semua lininya, kota impian saya selalu London, saya juga orang yang sangat suka berjalan-jalan ke luar negeri dan mengagumi kota-kota lain. Namun, Jakarta tetap istimewa di hati saya. Alasan utama saya mencintai kota ini adalah karena detak jantung saya seirama dengan denyut kota ini. Dinamis. Cepat. Kuat dan Kejam.

Jakarta menyuguhkan semarak hingar bingar yang berantakan namun indah. Dini hari adalah waktu favorit saya menikmati Jakarta, baik untuk sekedar berputar-putar membelah Jakarta atau menanti pagi di Starbucks, gerai favorit saya.

Tentu saja saya mengalami pasang surut kehidupan di Jakarta ini, tapi saya bersyukur selalu bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan yang selalu mampu membuat Jakarta menjadi hangat dan tetap ramah bagi saya untuk terus melangkahkan kaki saya di Jakarta.

Tentu tulisan ini barangkali tak disukai atau tak diamini oleh kebanyakan orang yang tinggal di Jakarta, saya pun bisa memahami itu. Namun, ada beberapa alasan sepele yang sangat penting untuk saya dan yang membuat saya betah tinggal di Jakarta. Saya ini hedonis. Saya suka akses terakselerasi tiada batas, modernitas, kemudahan transportasi dan tentu saja hal-hal yang tampak muluk namun menyajikan kenyamanan. Bukan hal glamor, tapi hal lain yang tak hanya memiliki faktor fungsional namun juga sophisticated value seperti misalnya gerai favorit saya.

Namun, suka juga bukan berarti saya berencana untuk tinggal selamanya, walaupun saya belum mau menentukan hal itu sekarang ini. Kalaupun saya harus meninggalkan Jakarta, saya inginnya hidup di kota besar yang ada di negara lain, karena tak ada kota lain di negara saya yang sanggup menandingi pesona Jakarta untuk saya.

Ini Jakarta bagi saya. Sekali lagi belum tentu sama dengan Jakarta bagi kamu atau kalian. Namun, kalau boleh saya mengingatkan, sesekali nikmatilah dan lihatlah Jakarta dengan perspektif saya, atau setidaknya sempatkan untuk menerima Jakarta tak hanya sebagai tempat mengadu nasib dan sebaliknya tempat dugem, namun sahabat yang memberi ruang bebas untuk anda bisa berkarya lebih.

Terima kasih Jakarta, terima kasih karena sudah banyak memenuhi keinginan saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang beraneka ragam dan beberapa di antaranya sungguh melekat di hati saya. Sematkan saya di tiap sudut kotamu. Biarkan saya terus memeriahkanmu. Selalu.

The end.

 

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s