Saya Bukan Kartini, tapi Saya Selalu Jadi Inspirasi

Tentu saya terdengar arogan, tapi ini adalah paradoks untuk saya.

 

heart2Saya adalah perempuan biasa yang entah mengapa saya sering berada di situasi di mana para perempuan lain suka mempertanyakan eksistensi saya di kehidupan pria-pria mereka. Padahal saya ini tak suka berselingkuh atau menjadi selingkuhan. Saya hanya kadang terlalu pintar menempatkan orang sesuai posisi yang mereka inginkan dalam hidup saya.

Ini terjadi tidak hanya sekali dua kali. Ada beberapa pria yang memang mengaku tak sanggup meraih saya dan memilih mencari duplikat saya. Pun ada perempuan yang tak sanggup menandingi saya dan akhirnya menyerah, bahkan tanpa paksaan atau tekanan dari saya sekalipun.

Sejujurnya saya heran, karena saya ini kadang ingin bertukar posisi, di mana saya yang memiliki si pria. Menjadi tak teraih kalau pada akhirnya berujung menjadi cinta tak sampai juga rasanya tentu saja pedih. Bagaimanapun juga saya juga perempuan, punya hati, punya perasaan.

Kalau ada perempuan yang barangkali saking bencinya pada saya lalu menyerang saya, saya sebenarnya tak tahu, harus merasa iba atau salut. Tentunya saya salut karena dia sanggup hidup di bawah bayang-bayang perempuan lain demi cintanya pada si pria. Iba karena pada akhirnya setelah hal ini terjadi berulangkali pada saya, bisa dipastikan alih-alih berharap hubungan berjalan langgeng malah selamanya tak akan bahagia, karena pada akhirnya bukan saya penyebabnya. Kuncinya tentu saja pada diri seseorang itu, baik si pria atau si wanita, dan kualitas hubungan itu sendiri. Tentu saja kalau sudah diawali dengan bayang-bayang orang lain, sudah bisa dipastikan bukan ujungnya kemana.

Menjadi tak teraih pun akhirnya saya syukuri, bukan karena saya perempuan berdarah biru atau bertalenta, bukan. Namun karena saya benar-benar ingin diraih oleh seseorang yang mampu meraih saya. Saya juga tak ingin dipertandingkan, sebaliknya saya hanya mau pria yang bisa memenangkan hati saya. Inilah artinya menjadi perempuan yang sesungguhnya baik itu sesuai ajaran dalam filosofi Jawa atau yang Ayah saya berusaha jejalkan kepada saya dengan perlakuan penuh kasih sayangnya kepada saya.

Tentu kadang-kadang saya pun iseng berbuat gila karena sisi  bitchy saya tertantang, namun akhirnya saya memilih mengalah bahkan berterimakasih kepada perempuan yang mencemburui dan mengiba pada saya karena telah menyadarkan betapa berharganya diri saya.

Si pria, tentu saya saya menyayangi para pria yang pada akhirnya memperlakukan saya bak inspirasi. Dulu pernah di salah satu kisah, saya ingin mengingatkan bahwa perempuan itu tak baik untuknya, namun lidah saya kelu karena saya sadar barangkali kata-kata saya hanya akan terdengar basi dan ungkapan sakit hati saja. Padahal saya tulus ikhlas ingin mengingatkannya, namun akhirnya saya urungkan. Hingga akhirnya, perpisahan yang menyakitkan menimpa mereka. Saya tidak mengutuk pun saya tak mengharapkan, namun yang saya bisa sarankan, carilah pasangan yang tidak mengenal saya, atau pasangan yang saat bertemu dengan si pria, saya sudah tidak lagi ada dalam hidup si pria itu. Sekali lagi bukan karena saya merasa layak menjadi inspirasi, pun jangan salahkan saya, tapi tanya pada diri anda sendiri mengapa saya kemudian bisa menjadi inspirasi atau ancaman di hubungan kalian.

Sebagai perempuan sekali lagi saya mengalah, dan bahkan mendoakan semoga para perempuan lain ini bisa terus berbahagia dan menghargai diri mereka dengan lebih baik, karena tak ada kebahagiaan sempurna selain menjadi inspirasi itu sendiri bagi pria yang kita cintai.

The end.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s