The Past

Kamu gak akan pernah tahu kalau orang di sebelahmu pernah hampir hancur berantakan.

 

Kalau kamu tanya ada apa dengan masa laluku, hanya ini jawabanku yang bisa aku beri, “Sekarang setiap kali aku menoleh ke belakang, yang aku lihat hanyalah asap hitam membumbung di atas reruntuhan sebuah jembatan. Gak ada lagi alasan untukku kembali ke masa lalu.”

Did they really hurt you?” Kamu masih saja terus bertanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum, “Aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Kalau aku ini seorang samurai, aku dulu terlalu bersemangat mengayunkan katanaku karena aku terlalu mencintai jalan pedang yang kujalani. Tanpa kusadari, ada banyak orang yang melihatku bukan sebagai seorang samurai sejati, tapi ancaman. So, there’s no need to blame anyone.”

“Kenapa sih gak lo balas aja mereka?” Katamu dengan nada sengit.

Aku tetap menggeleng sambil tersenyum, “Saking sayangnya sama mereka, aku lebih suka mengalah dan pergi, bukan karena kalah, tapi aku gak pengin jadi kayak mereka. That’s not me.”

“Tapi lo tuh hampir hancur berantakan dan gue waktu itu sempat pesimis lo bisa balik lagi kayak dulu!” Katamu dengan emosi penuh kekhawatiran.

Aku tertawa, “Hancur berantakannya bukan karena mereka kok, ada alasan yang lebih besar dari itu, dan aku sekarang emang gak balik kayak dulu kan?”

Kamu mengangguk-angguk, “No, you are not. You’re getting better now. Terus alasannya apa?”

“Ada banyak batas di dunia ini yang kalau kamu berani melampauinya, bisa jadi kamu gak akan bisa kembali, kalaupun bisa, belum tentu balik dengan utuh, apalagi jadi lebih baik. Namun begitu, aku tetap memaksakan diri untuk melampauinya.”

Kamu nanar menatapku dan dengan isyarat matamu kamu ingin aku terus memberikan penjelasan.

“Batasan itu ada di luar sama di dalam diri kamu. Batasan yang paling mengerikan adalah tahu seberapa kelam jiwa manusia, dan sebaliknya batasan paling membahagiakan adalah tahu seberapa hangat jiwa manusia. Selebihnya batasan untuk tahu seberapa kuat jiwa kamu bisa bertahan, seberapa cinta kamu sama passion kamu, dan seberapa kuat kamu bisa bertahan jadi diri sendiri, di saat orang-orang memaksamu untuk tidak melampaui batasan itu hanya karena mereka takut melakukannya.”

Kamu makin nanar mendengar penjelasanku. Lalu aku memelukmu erat-erat.

“Yang penting sekarang aku udah baik-baik aja. Gak usah khawatir lagi yah. Sesekali mungkin aku akan tetap keinget sakitnya, tapi itu cuma bagian dari proses healing aja kok.” Bisikku padamu.

Lalu kamu pun juga berbisik padaku, “You went through it very well. I love the better you with all of your scars. Jangan menghilang lagi, yah.”

 

To be continued >> The Present

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s