The Present

Kamu gak akan pernah tahu betapa sering aku ingin memeluknya erat-erat.

 

Aku bukan gadis kemarin sore yang dengan gampang jatuh cinta pada seorang pangeran yang menyelamatkannya dari bahaya. Sebaliknya, aku sudah terlalu sering bertemu dengan pangeran tampan berbagai rupa yang membahayakan hidupku dan membuatku tak mudah lagi terpikat pada kisah epik yang mereka tawarkan padaku.

Lalu aku bertemu dengannya.

Kalau dianalogikan, aku adalah vas retak. Boneka dengan baju compang-camping. Jet Li dengan pedang penuh darah dan luka di sekujur tubuh. Piano yang terdengar minor, atau Aceh setelah dilanda tsunami. Tapi dia berbicara denganku seolah aku Emma Watson. Cantik, utuh, dan jujur.

Betapa sejak hari aku bertemu dengannya, aku bersyukur pada sang pemilik hidup yang telah memilihnya untuk jadi perpanjangan tangannya buat menyelamatkan seorang gadis yang bahkan saat itu bernafas pun rasanya terlalu menyakitkan.

Dengan kesederhanaan hatinya, dia memberiku dunia yang penuh dengan bunga, orang-orang yang baik hati, dan pelukan hangat berupa janji-janji yang selalu ditepatinya.

Sosok itu terlalu melekat di hati, karena darinya aku juga menemukan begitu banyak hal yang tak kudapatkan dari begitu banyak pria bermahkota yang pernah kutemui. The art to wear the crown. Bukan, dia bukan pahlawan bertopeng, tapi seorang hebat yang mau jujur mengakui kalau dia bukan mahadewa, tapi sama manusianya denganku dan kamu.

Bersamanya, aku bisa menjadi diriku sendiri, kembali tertawa lepas, dan pelan-pelan sembuh dari luka yang masih membekas. Hidup makin gemerlap sih enggak, tapi aku merasa adem ayem dengan kehidupan yang gak populer tapi makin nyenengin ini.

Yet, once again, ini bukan kisah cinta abg yang tergila-gila sama Superman atau Lee Min Ho. Ini kisah penuh terima kasih dari seorang manusia kepada manusia lainnya. Kalau kamu setidaknya pernah merasa jadi vas retak atau boneka rusak, kamu akan tahu bagaimana setiap aku melihatnya, aku ingin memeluknya erat-erat dan membisikkan terima kasih berulangkali padanya. Betapa setiap kali aku teringat masa lalu, aku menangis haru saat menatapnya, dan diam-diam mengucapkan begitu banyak doa semoga dia selalu dilindungi oleh sang pemilik hidup. Betapa aku berharap bisa membalas kebaikannya dengan tangan-tangan kecil yang kumiliki.

Lalu aku memilih untuk menikmati apa yang ada sekarang ini dengan penuh syukur. Hidup yang sumringah, kejutan hidup yang meriah, bahkan cinta yang kembali menyapa hati.

I want to enjoy the present as a present.

 

To be continued >> The Future

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s