Di Pojok Jakarta Selatan [1]

Musik mengalun, secangkir kopi enak disuguhkan, dan ada ruang hangat dengan banyak cerita.

 

Gerai kopi yang satu itu tak pernah sepi pun tak pernah terlalu ramai. Nyaman untuk dijadikan ruang di mana pembicaraan receh, serius atau intim sekalipun bertebaran mesra di udara. Dari tahun ke tahun, walaupun gerai kopi ini berpindah-pindah tempat, namun asal masih di area Jakarta Selatan, di situlah kamu bisa menemukan Sophie, cewek manis yang suka nulis dengan tawa yang ramah, namun beberapa saat terakhir ini sangat piki dalam hal berbagi kursi di gerai favoritnya itu.

“Soph, sejak gue kenal elo beberapa tahun yang lalu, udah ada sekitar 10 nama cowok yang pernah mampir di obrolan-obrolan kita. Apa kabar ya mereka sekarang?”

Sophie tergelak dan menyesap kopinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku.

“Ada yang udah married, ada yang masih sendiri, ada yang masih pacar-pacaran aja, but I always wish all the best for them.” Jawabnya santai.

“Ada yang masih ngarepin lo gak?” Tanyaku lagi ingin tahu.

Sophie kembali tergelak dan aku suka. Sophie selalu jujur dengan perasaannya, kalau lucu dia tertawa, kalau sedih nangis, kadang bisa kebalik-balik juga, kalau happy bisa nangis, kalau stres ketawa. That’s her.

“Kalau mau jawab ada kayaknya pede banget ya gue hahaha tapi gue harap gak ada sih.” Jawabnya jujur dan santai. Akhir-akhir ini Sophie memang terlihat lebih bahagia dan santai, dan aku lega melihatnya begitu setelah banyak badai yang Sophie lewati.

“Soph, are you falling in love now?” Tanyaku lugas. Ini yang aku suka dari Sophie, sebagai sahabatnya aku diperbolehkan tanya ini-itu tanpa basa-basi.

Sophie tersipu dan mengangguk sambil tersenyum manis.

“Orangnya kayak apa, Soph?” Tanyaku lagi. Kadang menginterogasi sahabat sendiri emang enak. Apalagi Sophie yang penuh misteri tapi jujur.

“Pinter, gigih, baik, lucu.” Jawabnya singkat sambil senyum-senyum, mungkin ada seraut wajah cowok di benaknya, hmm.. atau dua raut tiga raut?

“Udah lo ajakin ke sini, Soph?” Tanyaku kembali lugas.

Bukannya menjawab, Sophie bertanya.

“Mau tahu gak kenapa orang cenderung memilih pasangan yang bisa bikin dia nyaman ketimbang tersanjung atau terpesona?”

Aku berpikir sejenak dan ada sih beberapa jawaban gak mutu di kepala ini, tapi aku memilih menggeleng.

To make us feel we are meant to be.” Jawabnya singkat.

Jawaban Sophie bukan rumus fisika atau matematika, walau bisa jadi rumus kimia karena menyangkut chemistry, tapi kok susah dicerna ya.

“Gak ngerti gue, Soph.” Celetukku spontan.

Sophie menyesap kopinya sampai habis lalu beranjak berdiri dengan senyum manis.

“Arya sayang, sabtu minggu depan jam yang sama di sini yah. Bye!” Katanya dengan sangat santai tapi tegas.

Kaget Sophie tiba-tiba pergi ninggalin begitu aja? Itulah Sophie. Selama dia masih bisa aku temuin di pojokan Jakarta Selatan ini, no need to worry then.

 

[To be continued]

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s