What I Call Home

You gave me home. But you know that it won’t never be enough for me, without you.

 

Sore ini sepulang dari ngabur bentar di kedai kopi favorit, gue cuma pengin cerita ini ke elo, nyet.

Akhir-akhir ini gue ngerasa stabil dan bahagia, tapi kangen. Gue kangen sama dia yang udah bukain pintu ke rumah kecil gue yang baru ini. After what I went through, lo pasti kebayanglah nyet perasaan gue ini. Gue juga masih selalu punya keinginan yang sama tiap kali ngeliat sosoknya, pengin jejeritan dan meluk sambil bilang makasih. Gue juga ngerti kalau dia gak kemana-mana, masih di situ, dan masih ngejagain kita semua, tapi gue kangen ngobrol tanpa kata sama dia.

Setiap orang pasti punya seseorang, rasa atau apapun yang disebut rumah. Tempat buat kita tinggal dan balik dari mana pun kita pergi. Tempat yang nyaman buat pulang. Tempat kita bisa ngelepas segala atribut kita dan diterima dengan apa adanya.

Gue juga gitu, nyet. Layaknya manusia normal, gue juga selalu butuh pulang ke rumah. Rumah yang gue sebut ini gak jauh dari definisi yang elo punya. Cuma kali ini rumah ini spesial, paling enggak buat gue.

Gue udah berulangkali ditawari sebuah rumah. Bukan, bukan sama agen properti, tapi selalu sama yang empunya rumah itu sendiri. Tentu gue tetap berterimakasih pernah ditawari tinggal walaupun selalu dengan berat hati gue harus ninggalin rumah-rumah itu. Tapi, rumah yang satu ini beda.

Gue gak akan pernah lupa saat pertama pintunya terbuka, nyaman. Gue gak ngeliat apapun, tapi gue cuma merasa dan rasanya bener. It’s something right. Lo pasti juga pernah ngerasa kayak gitu kan nyet, just feel right and you can’t explain it. I was blushing at that time and yes I still can blush every time I remember that moment. Rumah itu berbicara dengan sendirinya, ngeyakinin gue kalau-kalau gue mau tinggal di situ nanti gue bakal happy. Trus gue diajak berkeliling, literally and not. Bagian gak literally-nya yang paling gue suka, soalnya kayak menjelajah ruang dan waktu. Penuh fantasi dan gimmick yang atraktif. Rumah yang satu ini gak terbatas sama tembok, ruang bersekat, dan desain interior yang cantik dan menarik. Rumah ini hidup. Gue pun langsung jatuh hati.

Sampai sekarang gue masih bahagia tinggal di rumah ini, tapi ada satu yang hilang. Dia.

The soul of this home is him. Still him. 

Rumah yang satu ini memang menawarkan sebentuk kehidupan yang menyenangkan lengkap dengan pernak-perniknya, as I told you nyet. Tapi cuma satu yang bisa bikin gue blushing dan gue pengin blushing lagi biar gue tetap pengin tinggal di sini. Joke yang renyah, tatap mata yang berbicara, kata yang penuh emosi dan makna, kehadiran yang jujur, dan cara berpikir serta merasa yang belum pernah gue dapetin dari orang lain. Cuma dia yang bisa bikin gue blushing. Bahkan dengan duduk berdiam, gue tahu dia bisa ngertiin gue. Gue kangen dengan hubungan yang abstrak ini nyet, soalnya cuma sama dia, gue bisa ngerasa lega nemuin makhluk lain yang kurang lebih sama kayak gue.

Udah nyet, gitu aja. Itu yang pengin gue ceritain sore ini. Intinya cuma satu.

I need to go home. 

 

The end.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s