My Gratitude

I live the present as a present.

 

Menjelang ulang tahun saya kali ini, tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tak memiliki banyak cerita bahkan kata untuk dituliskan karena saat ini saya sedang merasa baik-baik saja dan lebih ingin menikmati hidup ketimbang menuliskannya. Namun, saya pun tak ingin melewatkan kesempatan menjadikan hari ulang tahun saya ini sebagai titik di mana saya boleh menandai perjalanan saya lagi dengan sebuah cerita seperti hari-hari ulang tahun saya yang sebelumnya.

Kisah kali ini adalah kisah bahagia penuh terima kasih sekaligus permintaan maaf saya. Semenjak peristiwa yang saya alami beberapa tahun yang lalu, saya tak lagi sama pun hidup saya. Berat untuk dijalani, namun begitu saya bertemu dengan banyak orang-orang baik yang membantu proses saya mengikhlaskan banyak hal bahkan hingga saat ini. Lalu mengapa saya tak pernah memposting kebahagiaan saya bersama mereka?

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan dengan sangat berat hati untuk hanya mau bertemu bahkan berteman dengan segelintir orang saja. Alasannya sederhana; saya merapuh dan tak mau menyakiti lebih banyak orang dengan keputusan dan sepak terjang saya. Saya tak ingin memutarbalikkan dunia orang lain dengan kehidupan kontroversial yang saya jalani waktu itu. Dan kalau boleh saya jujur, saya tak sanggup lagi menerima judging dari orang lain, saya hanya butuh segelintir orang yang sialnya mereka orang-orang baik yang mau memahami saya apa adanya jadi saya maunya juga cuma sama mereka.

Hari-hari penuh senyum di wajah saya, pelangi di mata saya, gelak tawa yang renyah dan riang tak lagi saya share di media sosial, karena pada akhirnya saya lebih ingin membagikannya dengan orang-orang yang sudah bersusah payah membuat saya tersenyum lagi. Hangat dan bahagia. Rasa yang saya rasa tak perlu dipamerkan namun dirasakan. Toh saya juga bukan artis YouTube atau jejaring sosial yang harus lebih luwes dalam hal privasi.

Dengan begitu saya minta maaf kalau saya tak lagi rajin bersosialisasi baik di dunia nyata maupun maya. Bahkan sapaan pun kadang saya acuhkan. Bukan, bukan maksud hati ingin begitu atau congkak hati, pun bukan salah siapapun, saya hanya butuh waktu untuk memulihkan diri. Alhasil kini saya merasa sudah cukup baik-baik saja dan sedang mencoba membuka pintu saya lagi dengan lebih lebar. Terima kasih kalau mau memaklumi saya dan syukur-syukur tak jera untuk mampir dalam kehidupan saya.

Terima kasih. Kata ini adalah kata yang paling ingin saya suguhkan di cerita kali ini. Tentu ada banyak impian yang belum tercapai, tapi setelah semua yang saya alami akhir-akhir ini, masih bisa hidup dan utuh aja rasanya pengin peluk-peluk yang empunya kehidupan. Belum orang-orang yang semakin ke sini, kok makin lucu-lucu dan baik-baik yang diberikan ke saya. Bikin saya takjub dan menangis bahagia. Bikin saya makin gampang move on dari masa lalu. Bikin saya makin pengin ngejalanin hidup. Bikin saya makin gemes pokoknya.

Analogi hidup saya kali ini adalah parcel hari raya. Diberikan kepada saya untuk dinikmati. Saya tak lagi punya alasan untuk mengeluh apalagi bermuram durja. Saya juga menjalani hidup dengan lebih simple, gak mau lagi heroik. Tentu masih ada harapan ini-itu, dan hidup tak selalu sempurna, but that’s life, right? Senyumin aja, kata anak-anak alay.

So guys, once again, maafkan saya dan terima kasih banyak. Let’s live our present as a present.

Cheers!

 

 

*Pic taken from Kinfolk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s