Am I Losing Your Magic?

Aku gak pernah salah orang. Apalagi salah menilai. Dan apalagi ini kamu.

 

Kalau aku merasa diperlakukan sebagai vas utuh saat bertemu denganmu, sementara di saat itu sebenarnya aku merasa retak dan hampir hancur, aku melihatmu sebagai sesosok manusia. Walaupun aku mengagumimu setengah mati, tapi aku tak pernah lupa kalau kamu juga seorang manusia. Karakter yang kuat dan menonjol dengan sisi rapuh yang tampak jelas terlihat karena ada benteng yang kamu bangun di sekelilingmu.

Sampai sekarang pun aku masih mengagumimu, dan berusaha memahami situasi dan segenap kamu dengan perspektif seseorang yang masih sama manusianya.

Mungkin bagimu aku seperti menjauh dan dingin. Mungkin kamu kira aku akan mundur begitu saja saat melihat sisi rapuhmu. Tapi bukankah kamu yang lebih bisa menerimaku apa adanya saat itu? I learn from the best and I stay then. Aku memilih diam, karena aku tahu tiap sudut gelap yang kamu rasakan dan hadapi. Dan aku mencoba mengerti.

Let me remind you again about your magic.

Kamu paling jeli melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Entah itu kebaikan hati, bakat, atau motivasi terdalam seseorang. Kamu juga paling pintar membaca ekspresi dan mimik muka. Tentu tak semua benar saat kamu membacaku, karena aku tahu kamu bisa membaca, dan aku pintar menyembunyikannya.

Kamu juga selalu punya kata-kata penuh strategi untuk membuat atau mengarahkan lawan bicaramu berbalik mendukung pendapatmu seolah-olah itu hasil pemikiran mereka sendiri. Fantastis.

Kamu dan semua ide gilamu, selalu sukses membawa orang ke tingkat berpikir yang lebih tinggi atau lebih dalam.

Kamu unik. Aku selalu suka kejujuranmu dalam bersikap. Percayalah, setiap kali kamu berusaha menjawab diplomatis, aku tahu jawabanmu yang sebenarnya. Akhirnya, sering-seringnya kamu lebih suka menjadi jujur di depanku, dan aku suka.

Dari sederet orang hebat yang pernah berdiskusi denganku, kamu adalah keajaiban yang pernah kutemui. Kamu hebat dan kuat sekaligus jujur dalam bersikap. Tentu ada orang yang tetap menuntutmu lebih. Tentu kamu juga melakukan kesalahan. But once again, I understand it. Kamu masih manusia. Manusia yang aku kagumi setengah mati.

Tapi aku gak mau sendirian menghadapi semua ini.

Stay with me. With us.

 

The end.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s