Tuhan Punya Cerita

Hasil gambar untuk journey

Kalau masih boleh di sini, I will make it count. Kalau udah gak boleh, then I can’t wait to see you there.

 

Suatu hari saya terbangun dengan diagnosa dokter, sekumpulan obat, dan mimpi buruk. Namun begitu, matahari tak mau menunggu saya, sehingga saya harus cepat-cepat mengejarnya. Saat menapakkan kaki, saya merasa tak lagi punya pijakan. Kaki ini tak lagi bersahabat untuk menemani saya terus melangkah apalagi berlari. Kalau boleh jujur, saya ingin menangis keras-keras, tapi sekali lagi matahari mengingatkan saya untuk terus saja menjalani hidup.

Bukan, bukan penyakit yang terlalu parah. Semua masih bisa dikendalikan. Tapi entah ini keberuntungan atau tidak, saya sangat sensitif terhadap rasa sakit. Kalau kamu tertusuk jarum rasanya cuman nylekit, buat saya rasanya bisa seperti tertembak pistol. Sakit. Itu yang saya rasakan beberapa saat terakhir ini. Badan saya juga terasa lemas. Setiap ada waktu luang saya selalu bedrest, tak peduli banyaknya ajakan untuk party atau sekedar minum kopi. I have to.

Ada seorang sahabat mengingatkan saya, kalau kita diberi sakit, itu berarti Tuhan mau kita istirahat. Berhenti. Beberapa saat rasanya saya ingin menangis lagi. I can’t. I can’t stop now. I should run. I want to run. Tapi tubuh berkompromi dengan yang empunya kehidupan. Saya pun dengan legowo memutuskan, baiklah, saya break dulu.

Saya memutuskan untuk membungkam begitu banyak pikiran di kepala dan tangis di hati saya, dan fokus pada kesembuhan saya. Terus menjalani hari semampu saya bisa. Terus memiliki target. Terus berlari walau tak sekencang biasanya. Kadang saat menunggu hasil lab atau giliran terapi, saya sempatkan untuk merenung. Ah merenung, terasa berat. I’m just thinking. Light thinking. Bahwa ternyata ada benarnya, dengan sakit ini dan saya tak bisa lagi melangkah cepat, saya jadi lebih sabar terhadap banyak orang dan banyak hal. Saya jadi lebih melihat dan menghargai banyak hal dengan perspektif baru.

Bahkan saya bisa mulai menertawakan sakit saya ini. Sakit yang disebabkan karena makanan. Lalu saya bayangkan, berapa banyak nasi padang yang saya makan di sela-sela lembur saya, ramen yang saya jejalkan di perut untuk sedikit meredakan patah hati, atau berbotol minuman manis yang saya tenggak untuk melunturkan kepahitan dalam hidup. Jadi kalau benar-benar mau sembuh, saya harus hidup dengan pola makan sehat, dan LANGSING!

Bertahun-tahun Ibu saya berharap saya bisa langsing, dan saya tak mampu mewujudkannya, sekarang menjadi LANGSING adalah sebuah keharusan, supaya saya bisa tetap fit dan tentu saja kembali berlari. Tuhan memang cute.

Saya pun kemudian berusaha keras untuk selalu berpikir positif. Terapi. Bahkan di tempat terapi pun, saya memilih terapis yang baik hati dan memperlakukan kaki saya seperti kakinya sendiri. Bukan barang. Bukan kaki pasien. Bertemu dengan terapis seperti ini saja, saya makin percaya Tuhan selalu punya cara sendiri untuk terus membuat saya bersemangat menyongsong pagi dan kembali mengejar matahari.

Saya belum berhenti, saya malah makin kencang berlari. Saya yakin suatu hari nanti saya bakal LANGSING! Kaki saya akan kembali berdamai dengan bumi. Bahwa semua akan baik-baik saja.

“Just do your best, and I’ll do the rest.” He said.

The end.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s