White Christmas

Di kamar ini aku gak melihat bintang, tapi aku tahu sinarnya menemaniku.

Desember selalu jadi bulan yang meriah sekaligus melo buat gw. Selalu ada memori tentang santa claus yang konon bisa ngabulin semua permintaan kita, lagu-lagu natal yang mengharu biru, tentang ayah, hidup, dan Dia. Setelah setengah tahun terakhir ini bolak-balik rumah sakit, di penghujung tahun gw dirawat di rumah sakit tentunya jadi klimaks bagian hidup gw yang satu ini. Sedih? Melo? Enggak, nyet. Gw bahagia.

Kali ini gw mengikuti prosedur rumah sakit tanpa bantuan siapapun. Saat dokter menunjukkan hasil lab dan menyatakan keharusan untuk dirawat, gw mengangguk dan tersenyum tanpa beban. Lega malah. Dari klinik, transit di UGD, dan berujung di kamar perawatan, semua gw jalani sendiri. Mungkin gw gak normal, tapi keputusan untuk ngasih tau segelintir orang saja tentang kondisi gw ini, really urgent to be made. Gw butuh sendiri.

Akhir-akhir ini udara terasa begitu pengap. Gw butuh mengurai kekusutan itu, mengembalikan kehidupan ke poros gw sendiri, dan mengumpulkan semangat untuk kembali hidup.

Hari demi hari terasa ringan. Gw bisa tidur nyenyak, jadi gak perlu sering-sering merasakan sakit di tubuh gw. And you know what, once again I must say, I am happy. Banyak keinginan belum terwujud, banyak kekhawatiran menggantung, banyak rasa belum tersampaikan. Tapi gw tahu, gw tetap aja jauh lebih beruntung daripada banyak orang, and I’m grateful for that.

Molley sahabat gw datang menjenguk. Menghujani gw dengan peluk.

How are you, nyet?”

Fine laa. Kapan lagi bisa cuti dari kehidupan ini nyet.” Jawabku sambil tersenyum.

“Nyet, what do you feel now, selain demam, nyeri perut dan gejala penyakit dunia ketiga lo itu?” Tanyanya lagi.

Gw tertawa, selalu suka dengan cara bicaranya yang to the point sekaligus sarkastik, “Anehnya gw bahagia, nyet. Tenang. Dan di sela kemeriahan bakteri di perut gw, ada satu orang yang selalu nyantol di kepala gw. Udah disuntik antibiotik, tetep aja doi bertahan.”

Make you sad or add more happiness to you?” Katanya sambil menatap tajam.

Happy. Far far away dari melo. Gw menerima semua ini kok, nyet. Kalau emang masih belum bisa ngelupain, ya udah, biarin aja dia di kepala gw, coz there’s something bigger than that.”

Molley mengernyitkan keningnya, menunggu penjelasan gw berikutnya.

“Gw ngerasa Dia lagi sayang-sayangnya sama gw, nyet. Tiap hari rasanya gw dipeluk, so pengobatan lancar, and I feel nothing but happy. It’s more than enough for me.” Jawabku sambil tersenyum.

“Cinta lo nambah?” Tanyanya sambil tersenyum.

Gw mengangguk sambil tertawa. “Ini kali ya yang namanya faith?”

Tell me.” Sahutnya to the point.

You know my story kan, nyet. Sering banget gw sok heroik ngelakuin banyak cara, resah gak karuan karena hidup, dan nangis karena kehilangan banyak hal yang ujung-ujungnya emang ternyata gw mau dikasih yang lebih baik dari semua itu. So, kali ini gw bukan pasrah, tapi percaya. I believe in Him.” Kataku sambil tersenyum.

Yeah, I can see that from your face.” Katanya sambil menatapku, ikut lega.

“Tahun ini berasa cepet banget berlalu. Super roller coaster lengkap dengan agenda rumah sakit yang padat. Dikasih istirahat di ujung tahun tuh rasanya bonus. Tahun depan mau kayak apa, I just believe it will be marvelous, more more wonderful than this year. For everyone. For you too, nyet.”

Molley tersenyum dan memelukku lama. It’s all I need, tanpa banyak orang, tapi benar-benar hadir.

Sebelum pulang Molley cuma bilang gini, “buruan sembuh. Let’s have a great holiday with our beloved ones to close this amazing year in a magical way.”

The end.

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s