My Black Valentine

23707236785402852650z3xyyacIni Valentine saya. Kamu?

 

Saya sebenarnya juga mau menikmati Valentine dengan ciuman hangat, coklat mahal dan bunga mewah dari pacar. Klise tapi bukankah ini yang memang paling diharapkan sama insan di dunia ini pada tanggal ini?

Valentine saya selalu berbeda dengan Valentine orang lain, sayangnya pula tidak terjadi tepat di tanggal Valentine berlangsung, pun tak selalu berasal dari doi. Bahkan datangnya dari orang-orang yang tak pernah saya duga sebelumnya namun kehadirannya sungguh mengena di hati.

Pernah suatu hari seseorang melamar saya dengan kata yang santun, tatapan mata yang tajam demi meyakinkan saya, dan celetukan lucu yang bagaikan letupan segar di sela-sela kalimatnya yang serius menggetarkan hati. Saya jatuh hati dengan cara melamarnya. Bukan, ini bukan pinangan tunangan atau pernikahan. Ini sebuah komitmen yang disodorkan pada saya, yang walaupun bukan perkara asmara, tapi menyangkut sebagian besar kehidupan saya. Lamaran seseorang ini sungguh membuat hati saya berbunga-bunga, kalau ini terjadi di hari Valentine, pasti saya akan baper berat.

Lamaran ini kemudian diikuti dengan janji-janji yang Ia tepati, sehingga berkomitmen dengannya menjadi hal mudah. Saya pun berjanji pada diri saya sendiri, kalau saya hanya mau dilamar persis seperti yang pria itu lakukan pada saya, apalagi kalau memang menyangkut masalah hati dan hidup bersama selamanya.

Pun pernah saya menikmati kebaikan hati seseorang yang tidak diwakili dengan, sekali lagi, bunga dan coklat, tapi sebentuk pengertian dan pemahaman terhadap saya sebagai pribadi. Bahkan saya melakukan banyak hal aneh sekalipun, tak membuatnya berubah pikiran tentang saya atau berhenti menyayangi saya.

Kalau mau disingkat Valentine buat saya itu tak ubahnya seperti, meminjam kata-kata dari teman saya, “Cowok ganteng atau kaya sekalipun pasti kalah sama cowok gigih”. Sungguh saya selalu terpesona pada keluarga, sahabat, kolega, dan teman saya yang sungguh gigih menghadapi dan menerima saya, dan itu membuat hari-hari saya selalu berasa Valentine.

Namun, demi memaknai hari Valentine ini, saya sengaja menuliskan kisah cinta penuh warna ini tepat di hari Valentine. Barangkali penafsiran Valentine menjadi cinta yang universal ini pun klise, tapi sekali lagi, bukankah ini yang memang paling diharapkan sama insan di dunia ini pada tanggal ini?

Buat yang sendirian, gak punya janji dinner, atau sepi di hati, jangan sedih. Saya yakin Valentine kalian pun juga sama seperti Valentine saya, terjadi tidak hanya di hari ini dan tak selalu dihangatkan oleh seorang kekasih hati tapi orang-orang yang tentunya selalu di hati.

Happy Valentine, guys.

Iklan

Soulmate

2069ba25328aedf83ded7af102995c1fKamu percaya gak soulmate itu ada?

 

Dulu saya percaya kalau soulmate itu nyata ada. Apalagi saya pernah mengira kalau saya punya soulmate, karena apapun yang terjadi pada saya dan dia, kami selalu terus saling mencari.

Beberapa sahabat juga berpikir saya dan dia adalah soulmate karena alasan masih saling mencari itu. Padahal saya pure mempersembahkan #BFF buat doi. Alasan saya kalau diterjemahkan dalam pemikiran dan rasa seorang perempuan sederhana di jaman dulu adalah; saya gak cinta. titik. sudah. move on. ganti.

Hanya saja di era HP dan PHP yang berkibar sekarang ini, tentu saja saya tidak mungkin mengabaikan pesan via apps chat atau media sosial. Dan bukan maksud hati PHP, tapi apa salahnya bertemu toh memang sudah berteman lama. Kalau dibilang sayang, tentu saja sayang, karena saya kenal doi. Tak kenal maka tak sayang, dan saya kenal doi bukan?

Lalu apa rasa sayang itu gak cukup buat jadi modal rasa cinta dan pernikahan? Ketika pertanyaan itu dilontarkan seorang sahabat saya, cuma senyum yang bisa saya berikan buat jawabannya. Inilah rasa bagi banyak orang, cair dan complicated. Sementara bagi saya, rasa itu padat dan simple. Kalau gak pas, ya dilepas.

Tentu untuk tahu pas enggaknya saya selalu membiarkan diri saya berproses terlebih dulu. Dan sekarang apakah saya masih percaya adanya soulmate?

Absolutely. Saya masih percaya kalau soulmate itu ada, tapi bukan hanya karena takdir, melainkan kerja keras. Walaupun akhirnya saya tahu dia bukan soulmate saya, tapi untuk terus mencari selama lebih dari satu dekade merupakan kerja keras dua orang, yang bagaimanapun juga, sungguh mengena di hati saya. Sayangnya, rasa sayang itu tak lagi sama. Namun begitu, saya tetap yakin, apapun bentuk hubungan kita dengan orang lain, saat dua orang masih sama-sama bekerja keras untuk saling memahami dan menerima, entah itu hubungan profesional, persahabatan, asmara atau apapun itu, layaklah disebut soulmate. Toh sebuah pertemuan adalah takdir dan bukan hanya sebuah kebetulan, bukan?

Saya percaya adanya soulmate. What about you, guys?

The Sparkling 4th of July

 

redlight1I am here because of you.

 

Menulis satu alinea penuh cinta adalah ritual yang selalu saya lakukan di saat hari ulang tahun saya. Tak semuanya bernada mayor, upbeat, dan penuh kebahagiaan, tapi semuanya harus diabadikan, seperti ulang tahun saya kali ini.

Tahun lalu, tulisan saya sangat minor, masih begitu banyak hal yang belum bisa saya maafkan, termasuk memaafkan diri sendiri. Tak heran, setahun berikutnya menjadi satu periode yang sebenarnya masih sangat sulit untuk saya jalani. Ada saatnya, saya pengin giving up, just giving up. Bahkan untuk bisa merayakan ulang tahun saya hari ini dengan senyum manis dan lega pun rasanya tak terbayangkan.

Hari ini juga genap 1000 hari di mana pada suatu masa di masa lalu, saya mengalami hal yang amazing. Peristiwa yang sungguh membuat saya broken heart pada hidup, talenta, dan kebaikan dalam diri manusia. Mengapa 1000 hari ini penting bagi saya, karena seperti ritual doa kematian, selayaknya pada 1000 hari, segala sesuatunya usai dan yang meninggal diyakini sudah naik ke surga, pun yang ditinggalkan sudah bisa merelakan dan moving on. Saya pun mengamini bahwa hari ini adalah hari penutup untuk pelajaran berharga yang boleh saya alami hari itu.

Di hari ulang tahun saya kali ini, saya menerima apapun yang ada dalam hidup saya, baik itu cinta, rindu yang teramat sangat, kebaikan, ketulusan, kesetiaan pun luka hati, patah hati, sakit hati, kemarahan dan segala hal yang sungguh membuat hati saya sedih. Namun, saya yakin, dengan menerima dan kemudian memaafkan, ini satu-satunya jalan, saya bisa memaafkan diri sendiri dan kembali menjadi diri saya sendiri.

Namun, tentunya saya tak pernah sendiri. Saya selalu percaya, diantara orang jahat selalu ada orang baik. Itulah orang-orang tercinta saya, yang dengan tulus, tetap mau berjalan di sebelah saya, apapun yang terjadi pada saya dan apa kata dunia ini tentang saya. Pun saya menyadari, tak mudah untuk berada di sebelah saya, di mana saya tak sehebat yang orang kebanyakan pikirkan, sebaliknya, saya bisa merapuh, menangis tiada henti, dan menghilang. Namun, saya yakin kalian adalah orang-orang hebat penuh cinta, yang walaupun selalu ada hitam dan putih dalam diri saya, kalian tetap percaya pada saya, membuat saya bertumbuh, mengembalikan kepercayaan saya pada hati manusia, dan selalu menggenggam tangan saya, supaya saya tak sepenuhnya menghilang.

Oleh karena itu, di hari ulang tahun saya ini, dengan sepenuh hati, saya ucapkan, “terima kasih”. Walaupun saya masih harus melakukan begitu banyak hal untuk kembali membangun hidup saya, namun kali ini saya tak lagi ingin berkecil hati dan menangis, karena setidaknya kali ini saya sudah kembali berani memiliki impian, dan saya ingin membuat kalian tersenyum, seperti halnya kalian yang tak pernah lelah membuat saya tersenyum. Kapanpun jika kalian pernah merasa tak berarti, bukalah tulisan saya ini untuk mengingatkan bahwa kalian selalu berarti untuk saya.

Ayah saya, walaupun beliau orang yang sederhana, namun di sepanjang kehidupannya di dunia ini selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi saya hingga beliau pergi. Sehingga saya yakin, di surga sana, Ayah saya pasti memaksa Tuhan untuk memberikan hanya orang-orang yang terbaik dalam kehidupan saya. Itulah kalian bagi saya. Terbaik.

Sekali lagi, terima kasih. I am here because of you. We still have a long way to go, but let us make it happy and awesome.

The end.

 

<< My Another Candle

 

 

 

Saya Bukan Kartini, tapi Saya Selalu Jadi Inspirasi

Tentu saya terdengar arogan, tapi ini adalah paradoks untuk saya.

 

heart2Saya adalah perempuan biasa yang entah mengapa saya sering berada di situasi di mana para perempuan lain suka mempertanyakan eksistensi saya di kehidupan pria-pria mereka. Padahal saya ini tak suka berselingkuh atau menjadi selingkuhan. Saya hanya kadang terlalu pintar menempatkan orang sesuai posisi yang mereka inginkan dalam hidup saya.

Ini terjadi tidak hanya sekali dua kali. Ada beberapa pria yang memang mengaku tak sanggup meraih saya dan memilih mencari duplikat saya. Pun ada perempuan yang tak sanggup menandingi saya dan akhirnya menyerah, bahkan tanpa paksaan atau tekanan dari saya sekalipun.

Sejujurnya saya heran, karena saya ini kadang ingin bertukar posisi, di mana saya yang memiliki si pria. Menjadi tak teraih kalau pada akhirnya berujung menjadi cinta tak sampai juga rasanya tentu saja pedih. Bagaimanapun juga saya juga perempuan, punya hati, punya perasaan.

Kalau ada perempuan yang barangkali saking bencinya pada saya lalu menyerang saya, saya sebenarnya tak tahu, harus merasa iba atau salut. Tentunya saya salut karena dia sanggup hidup di bawah bayang-bayang perempuan lain demi cintanya pada si pria. Iba karena pada akhirnya setelah hal ini terjadi berulangkali pada saya, bisa dipastikan alih-alih berharap hubungan berjalan langgeng malah selamanya tak akan bahagia, karena pada akhirnya bukan saya penyebabnya. Kuncinya tentu saja pada diri seseorang itu, baik si pria atau si wanita, dan kualitas hubungan itu sendiri. Tentu saja kalau sudah diawali dengan bayang-bayang orang lain, sudah bisa dipastikan bukan ujungnya kemana.

Menjadi tak teraih pun akhirnya saya syukuri, bukan karena saya perempuan berdarah biru atau bertalenta, bukan. Namun karena saya benar-benar ingin diraih oleh seseorang yang mampu meraih saya. Saya juga tak ingin dipertandingkan, sebaliknya saya hanya mau pria yang bisa memenangkan hati saya. Inilah artinya menjadi perempuan yang sesungguhnya baik itu sesuai ajaran dalam filosofi Jawa atau yang Ayah saya berusaha jejalkan kepada saya dengan perlakuan penuh kasih sayangnya kepada saya.

Tentu kadang-kadang saya pun iseng berbuat gila karena sisi  bitchy saya tertantang, namun akhirnya saya memilih mengalah bahkan berterimakasih kepada perempuan yang mencemburui dan mengiba pada saya karena telah menyadarkan betapa berharganya diri saya.

Si pria, tentu saya saya menyayangi para pria yang pada akhirnya memperlakukan saya bak inspirasi. Dulu pernah di salah satu kisah, saya ingin mengingatkan bahwa perempuan itu tak baik untuknya, namun lidah saya kelu karena saya sadar barangkali kata-kata saya hanya akan terdengar basi dan ungkapan sakit hati saja. Padahal saya tulus ikhlas ingin mengingatkannya, namun akhirnya saya urungkan. Hingga akhirnya, perpisahan yang menyakitkan menimpa mereka. Saya tidak mengutuk pun saya tak mengharapkan, namun yang saya bisa sarankan, carilah pasangan yang tidak mengenal saya, atau pasangan yang saat bertemu dengan si pria, saya sudah tidak lagi ada dalam hidup si pria itu. Sekali lagi bukan karena saya merasa layak menjadi inspirasi, pun jangan salahkan saya, tapi tanya pada diri anda sendiri mengapa saya kemudian bisa menjadi inspirasi atau ancaman di hubungan kalian.

Sebagai perempuan sekali lagi saya mengalah, dan bahkan mendoakan semoga para perempuan lain ini bisa terus berbahagia dan menghargai diri mereka dengan lebih baik, karena tak ada kebahagiaan sempurna selain menjadi inspirasi itu sendiri bagi pria yang kita cintai.

The end.

 

 

Jakarta

city girlSaya suka Jakarta.

 

Di sepanjang perjalanan saya tinggal di Jakarta, sudah terlalu sering pertanyaan seputar alasan saya suka Jakarta dilontarkan pada saya. Bahkan setelah tahu bahwa kota kelahiran saya adalah Yogyakarta, ada yang dengan polos nyeletuk, “Bukannya di sana tenang?” Lalu dengan santai saya jawab, “Siapa yang mencari ketenangan?”

Pernah pula pertanyaan serupa dilontarkan pada saya setelah lawan bicara saya mengetahui bahwa saya pernah menolak tawaran kerja dari perusahaan media cetak utama di Indonesia hanya karena berlokasi di Bandung dan saya tetap memilih Jakarta walaupun waktu itu saya harus menjalani profesi yang sangat saya tidak sukai demi tetap membuka peluang yang lebih baik di Jakarta.

Kalau mau ditarik mundur lagi, pernah terjadi percakapan antara saya dengan pria yang waktu itu saya sukai setengah mati mengenai keputusan saya untuk hijrah ke Jakarta. “Jakarta, kamu yakin? Jakarta itu cuma untuk orang-orang jumawa.” Saya tertawa dan menjawab, “Saya yakin, karena cuma Jakarta yang bisa mewujudkan impian saya.” Dalam hati sebenarnya saya pun membatin I was not born to be humble, baby.

Itulah beberapa contoh pertaruhan besar yang saya lakukan demi bisa hidup di Jakarta. Pada akhirnya semua itu tidak sia-sia, Jakarta menyuguhkan bahkan memberikan kisah-kisah unik penuh warna baik itu tentang orang lain atau yang terjadi pada saya sendiri. Pun akhirnya saya berhasil meraih impian-impian saya di kota tercinta ini.

Saya tidak menutup mata bahwa Jakarta masih perlu pembenahan di semua lininya, kota impian saya selalu London, saya juga orang yang sangat suka berjalan-jalan ke luar negeri dan mengagumi kota-kota lain. Namun, Jakarta tetap istimewa di hati saya. Alasan utama saya mencintai kota ini adalah karena detak jantung saya seirama dengan denyut kota ini. Dinamis. Cepat. Kuat dan Kejam.

Jakarta menyuguhkan semarak hingar bingar yang berantakan namun indah. Dini hari adalah waktu favorit saya menikmati Jakarta, baik untuk sekedar berputar-putar membelah Jakarta atau menanti pagi di Starbucks, gerai favorit saya.

Tentu saja saya mengalami pasang surut kehidupan di Jakarta ini, tapi saya bersyukur selalu bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan yang selalu mampu membuat Jakarta menjadi hangat dan tetap ramah bagi saya untuk terus melangkahkan kaki saya di Jakarta.

Tentu tulisan ini barangkali tak disukai atau tak diamini oleh kebanyakan orang yang tinggal di Jakarta, saya pun bisa memahami itu. Namun, ada beberapa alasan sepele yang sangat penting untuk saya dan yang membuat saya betah tinggal di Jakarta. Saya ini hedonis. Saya suka akses terakselerasi tiada batas, modernitas, kemudahan transportasi dan tentu saja hal-hal yang tampak muluk namun menyajikan kenyamanan. Bukan hal glamor, tapi hal lain yang tak hanya memiliki faktor fungsional namun juga sophisticated value seperti misalnya gerai favorit saya.

Namun, suka juga bukan berarti saya berencana untuk tinggal selamanya, walaupun saya belum mau menentukan hal itu sekarang ini. Kalaupun saya harus meninggalkan Jakarta, saya inginnya hidup di kota besar yang ada di negara lain, karena tak ada kota lain di negara saya yang sanggup menandingi pesona Jakarta untuk saya.

Ini Jakarta bagi saya. Sekali lagi belum tentu sama dengan Jakarta bagi kamu atau kalian. Namun, kalau boleh saya mengingatkan, sesekali nikmatilah dan lihatlah Jakarta dengan perspektif saya, atau setidaknya sempatkan untuk menerima Jakarta tak hanya sebagai tempat mengadu nasib dan sebaliknya tempat dugem, namun sahabat yang memberi ruang bebas untuk anda bisa berkarya lebih.

Terima kasih Jakarta, terima kasih karena sudah banyak memenuhi keinginan saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang beraneka ragam dan beberapa di antaranya sungguh melekat di hati saya. Sematkan saya di tiap sudut kotamu. Biarkan saya terus memeriahkanmu. Selalu.

The end.

 

 

 

 

A Crying Woman Next to Me

perempuan2What is her story?

 

Aku sedang menunggu acara kebaktian di tempat ibadahku ketika seorang perempuan datang. Sekilas aku sempat meliriknya, matanya bengkak dan berkaca-kaca. Lalu ia duduk di sebelahku dengan sangat tenang dan ia dekap tasnya erat-erat seolah ada lubang dalam dirinya yang bisa ia tambal sementara dengan tasnya itu.

Saat acara kebaktian mulai bergulir, aku mendengar dia menangis terisak-isak. Hati ini rasanya tersentuh dan tentu saja ingin sekali bertanya ada apa denganmu? Namun, dari isyarat geraknya, ia hanya ingin menangis, tak ingin tersentuh oleh siapapun dan apapun.

Saat puncak kebaktian, tangisannya makin kuat. Sungguh aku berdoa untuknya, semoga Tuhan benar-benar mendengar suara hati perempuan ini. Pun, kalau memang ia menangis karena cintanya pada Tuhan, tolong, saya mau sesetia dan seyakin itu seperti dia.

Menjelang akhir kebaktian, kusodorkan buku doa padanya, supaya aku bisa menatapnya, dan berharap menemukan celah untuk setidaknya menyapanya dan bertanya tentangnya. Ia menolak dan sekali lagi ia terlihat tak ingin tersentuh oleh siapapun, tapi ia tersenyum. Senyum yang entah mengapa membuat hatiku sendiri merasa damai.

Apakah ia sedang patah hati? Apakah ia lelah menjalani hidupnya? Apakah ada peristiwa kematian atau duka cita yang sedang dihadapinya? Yang kutahu pasti, tangisannya terdengar sangat menyesakkan, menyiratkan luka yang teramat dalam.

Namun senyum di paras yang cantik itu, perempuan ini menangis bukan karena ia lemah. Ia bahkan terlalu kuat, aku yakin banyak hal berat pasti telah ia lalui. Perempuan ini menangis karena ia tahu dia butuh menangis tepat di hadapan Tuhan yang pasti ia yakini dengan sepenuh hatinya. Dia menangis di tempat ibadah tentunya karena ia ingin mencari Tuhan, dan bukan untuk mencari pertolongan dari siapapun yang sedang ada di tempat ibadah, pun belas kasihan atau tatapan iba.

Hanya saja, sungguh, saya ingin dia mengucapkan satu kata, setidaknya mewakili apa yang sedang terjadi padanya, atau apa yang bisa saya lakukan untuknya. Ingin rasanya mengulurkan sebuah sapu tangan untuknya, namun sia-sia. Air matanya bercucuran terlalu deras. Hentakan nafasnya begitu kuat. Saya ingin memeluknya. Namun tak sedikitpun ia memberi ruang pada siapapun untuk menyapanya, ia datang untuk menemui Tuhan. Titik.

Oh Tuhan, manusia macam apa aku ini yang tega membiarkan perempuan ini terus menangis sepanjang kebaktian ini?

Kembali kulirik wajahnya, tunggu, aku mengenali wajah itu. Itu wajah yang sama yang pernah kulihat beberapa tahun yang lalu di kereta. Waktu itu aku melihat seorang pria mengecup dahinya dan mengantarkan ia pergi. Lalu sepanjang perjalanan dari Jogja ke Jakarta, perempuan ini menangis, dan sama, saat itupun ia tak ingin membagi kisahnya pada orang tak dikenalnya, namun setidaknya saat itu ia menerima sapu tangan yang kusodorkan padanya.

Tepat di akhir kebaktian, aku bersimpuh dan mendoakan perempuan di sebelahku ini, semoga apapun yang sedang dia hadapi, ia bisa melaluinya dengan baik, dan kelak ada yang menjaga hatinya dengan lembut. Aku pun berniat tetap akan menyapanya.

Hanya saja, saat aku selesai berdoa, perempuan itu sudah berlalu pergi. Aku masih bisa melihat sekilas punggungnya, dan langkah kakinya yang gesit dan kuat. Aku tahu ia bisa bertahan dan ia layak mendapatkan keajaiban. Secepatnya.

The end.

 

 

Starbucks Pagi Ini

sbx1…my favorite ever.

 

Dari waktu ke waktu, Starbucks tidak pernah berubah. Konsisten dengan atmosfernya yang nyaman sekaligus dingin. Pemilihan standarisasi untuk desain interiornya yang diterapkan di seluruh gerainya, membuat saya selalu mencari atmosfer yang ditimbulkannya kemanapun saya pergi. Di negara manapun saya menyesap secangkir kopinya, ada kenyamanan yang sama yang saya temui disitu. Pun dingin. Ada sejumput sensasi dingin yang saya rasakan di tempat ini, dingin yang saya butuhkan, di sela hingar bingar kehidupan saya, di mana saya sangat menyanjung kebutuhan akan privasi.

Sebutkan saja berbagai kafe terkenal lainnya, yang bahkan mungkin kualitas kopinya jauh lebih bagus, tak ada yang menandingi sensasi Starbucks buat saya. Saya bukan pecinta kopi sejati, sehingga saya butuh paduan berupa atmosfer yang pas untuk menemani saya minum secangkir kopi.

Kalau saya sedang merasa berantakan sekalipun, saya selalu suka meluangkan waktu ke Starbucks. Tempat di mana saya bisa merasa mempunyai dunia sendiri, dan diperbolehkan termangu sendirian.

Starbucks pun selalu menjadi kantor kedua saya, bahkan mungkin sebenarnya kantor utama di hati saya, karena di manapun saya bekerja, proyek apapun yang sedang saya kerjakan, saya selalu merasa lebih bisa berkonsentrasi hanya dengan bekerja di gerai kopi yang satu ini.

Starbucks akan menjadi tempat di mana saya selalu ingin kembali dan kembali lagi. Bukan, bukan karena efek strategi marketingnya yang aduhai, atau gengsi yang kerap dilekatkan pada gerai yang satu ini. Sama sekali bukan. Ini karena saya jatuh hati, dan Starbucks memberikan apa yang saya butuhkan, yang membuat saya tak ingin lagi berpindah hati.

Itulah cara hati saya bekerja. Mungkin sama seperti hatimu atau hatinya. Pun saya juga mengerti sepenuhnya bahwa kadang kita tak mendapatkan apa yang sesuai dengan keinginan hati kita, kadang kita harus melalui berbagai hal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, saya sudah melakukannya dan masih melakukannya.

Namun di titik ini, saya sungguh ingin kembali jatuh hati, merasakan kembali hati saya berderap cepat, bergelora dan tersenyum. Saya tak ingin memaksa hati saya terus berkompromi. Seperti sahabat saya pernah ucapkan, “Hidup cuma sekali. You deserve better.”

Pun dalam hal cinta. Saya sudah bertemu dengan berbagai karakter, dan tiba-tiba hati saya jatuh hati pada pria sederhana yang jenaka dan apa adanya, jauh dari kesan glamor atau sophisticated, pun tanpa kata-kata bersayap yang selalu saya suka dari sosok Rangga di AADC. Kalau ditanya alasan utamanya apa, sama seperti alasan saya jatuh hati pada Starbucks dan beberapa hal istimewa lainnya, pun persis seperti lirik lagu Tompi yang berjudul ‘Tak Pernah Setengah Hati’ yaitu; hidupku kan selalu membutuhkanmu.

Sama seperti pendapat saya beberapa tahun yang lalu, buat saya kata ‘membutuhkan’ lebih besar maknanya daripada kata ‘mencintai’. Membutuhkan, tak hanya mencintai, namun juga dengan rendah hati mengakui bahwa kita membutuhkan seseorang itu, sekuat dan sehebat apapun kita.

Starbucks pagi ini akan terus sama bagi saya. Saya akan terus mencari sesuatu atau seseorang yang Starbucks selalu bisa berikan pada saya, hingga kelak bisa saya perkenalkan pada Starbucks sebagai apa yang saya cari selama ini dengan sepenuh hati.

The end.

 

My Prayers

redgirl4

 

Daddy, do you remember when you took me to a toys store and I can’t choose even one toy? I know you must be upset to me. Even finally, I chose an old doll I found at grandpa’s house and since that time I have kept him for entire of my life. At that time, it was so amazing that you helped me to have him instead of being angry with me. You understood well the way my heart works.

Now, it feels exactly the same. I will do my best to do everything. But, deep inside of me, in every prayers I said, I wish dad, I wish a miracle to make my heart works like it used to be. Amien.

Bambang

anak band2 cropCinta yang memabukkan, penuh hasrat dan terlalu manis untuk dilupakan.

 

Bambang. Ada kisah di balik nama Bambang.

Pria yang satu ini sosoknya sungguh dambaan para gadis muda belia. Rambut panjang ala super star rock, jago ngeband, manly, dengan gaya womanizer yang cool tapi penuh perhatian, sehingga satu kata terucap darinya, sungguh bikin para gadis terbang ke awang-awang.

Saya termasuk salah satu orang yang mendambanya. Tentunya saya ingin mencicipi aroma pria penuh bintang dengan predikat yang aduhai ini. Siapa bisa menolak perhatian yang sebegitu besar seolah-olah cuma saya wanita di planet ini.

Ko-mu-ni-ka-si. Pria yang satu ini sangat lihai perihal yang satu ini. Tarik ulur tak kenal kata putus. Saya pun rela jadi layang-layangnya. Kemanapun angin berhembus, saya ikut mas Bambang. Setiap kata atau curahan hati saya, selalu dapat ia redam sedemikian sehingga saya bisa merasa nyaman dan tenang. Jadi sekali lagi, kemanapun mas Bambang pergi, saya ikut.

Konon, di Jawa, nama Bambang ini biasanya bersanding dengan nama Endang. Kedua nama itu semacam gelar yang diberikan untuk pria dan wanita yang lulus semacam sekolah kepribadian di jaman dahulu, atau bahkan ujian kehidupan. Jadi bayangkan saja, ada pria yang sungguh membuat anda jatuh hati, pun bernama Bambang pula. Duh, saya sampai berharap saya terlahir dengan nama Endang, supaya serasi dan merasa jodoh dengan mas Bambang.

Kelebihan lain dari mas Bambang adalah pesonanya seperti candu. Pokoknya hidup tanpa mas Bambang sehari pun rasanya seperti makan sayur tanpa garam. Bahkan setiap kali saya sudah mau berpaling ke pria lain, mas Bambang seperti punya radar, sehingga menambah dosis perhatiannya pada saya. Ujung-ujungnya, saya selalu ingin pulang pada pelukan mas Bambang.

Kelihaian mas Bambang lainnya yang sangat menonjol adalah penuh kasih. Kalau ada agama yang mengajarkan cinta kasih itu murah hati, sabar dan pemaaf, nah mas Bambang ini lebih dari itu. Penuh kasih sehingga tak segan membagi-bagikannya kepada para gadis yang membutuhkannya, termasuk saya. Tentu itu perbuatan yang sungguh mulia. Mas Bambang sungguh, sungguh baik hati dan tidak sombong.

Sehingga kalau mas Bambang bikin sebel atau marah, bukannya ingin mengusirnya pergi, tapi malah ingin memeluknya. Kalau terbersit ingin melupakannya pun, hati malah mengklaim mas Bambang persis seperti kata Slank ‘terlalu manis untuk dilupakan’. Duh, repot. Pesona mas Bambang ini sungguh bikin hati bergetar dan cinta pun terbelenggu.

Hanya saja, saya akhirnya melepaskan jerat cinta mas Bambang, tentu, tentu dengan berat hati. Ternyata mas Bambang sungguh penuh kasih, yang kebetulan tidak sepenuhnya untuk saya. Mungkin saja, saya ini pun cuma dapat cipratan kasihnya hanya karena mas Bambang iba sama saya. Apapun alasannya, intinya mas Bambang cuma ingin berbuat baik, itu pikiran paling positif saya tentang sosok yang satu ini.

Saya pun memilih undur diri karena saya tahu diri. Saya ini Sari, perempuan Jawa yang inginnya jadi yang pertama, utama dan ultimate di hati pria yang saya cintai. Saya tidak sanggup bersanding dengan pria seperti mas Bambang yang penuh kasih, karena saya tidak suka berbagi. Saya maunya premium dan eksklusif. Mau dibilang egois dan posesif ya monggo. Dibilang tidak dewasa dalam membina hubungan, emang gue pikirin. Seyogyanya, kalau memang tidak ingin ke arah yang serius, sebaiknya ya tidak perlu menggelontor kasih sedemikian rupa. Eits, tapi mas Bambang gak gitu lhoh, itu karena saya saja yang mungkin kegeeran.

Buat saya, mas Bambang akan selalu jadi bintang di hati saya. Berkilau dan bersinar. Hanya saja, sekali lagi saya memilih undur diri. Saya ini cuma perempuan biasa, mana sanggup bersanding dengan mas Bambang. Kelak kalau saya punya anak perempuan, saya akan menceritakan kisah tentang mas Bambang ini, tanpa ragu. Kalau anak saya bertanya, ‘kenapa mama gak sama om Bambang aja?’, saya akan menjawab dengan senyum legowo, ‘buat contoh supaya kamu ndak keblinger sama pria seperti om Bambang, dan memilih pria yang walau tak sehebat om Bambang, tapi yang sungguh-sungguh mencintai kamu, yang menjadikanmu bintang satu-satunya di hatinya.”

The end.