Di Pojok Jakarta Selatan [1]

Musik mengalun, secangkir kopi enak disuguhkan, dan ada ruang hangat dengan banyak cerita.

 

Gerai kopi yang satu itu tak pernah sepi pun tak pernah terlalu ramai. Nyaman untuk dijadikan ruang di mana pembicaraan receh, serius atau intim sekalipun bertebaran mesra di udara. Dari tahun ke tahun, walaupun gerai kopi ini berpindah-pindah tempat, namun asal masih di area Jakarta Selatan, di situlah kamu bisa menemukan Sophie, cewek manis yang suka nulis dengan tawa yang ramah, namun beberapa saat terakhir ini sangat piki dalam hal berbagi kursi di gerai favoritnya itu.

“Soph, sejak gue kenal elo beberapa tahun yang lalu, udah ada sekitar 10 nama cowok yang pernah mampir di obrolan-obrolan kita. Apa kabar ya mereka sekarang?”

Sophie tergelak dan menyesap kopinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaanku.

“Ada yang udah married, ada yang masih sendiri, ada yang masih pacar-pacaran aja, but I always wish all the best for them.” Jawabnya santai.

“Ada yang masih ngarepin lo gak?” Tanyaku lagi ingin tahu.

Sophie kembali tergelak dan aku suka. Sophie selalu jujur dengan perasaannya, kalau lucu dia tertawa, kalau sedih nangis, kadang bisa kebalik-balik juga, kalau happy bisa nangis, kalau stres ketawa. That’s her.

“Kalau mau jawab ada kayaknya pede banget ya gue hahaha tapi gue harap gak ada sih.” Jawabnya jujur dan santai. Akhir-akhir ini Sophie memang terlihat lebih bahagia dan santai, dan aku lega melihatnya begitu setelah banyak badai yang Sophie lewati.

“Soph, are you falling in love now?” Tanyaku lugas. Ini yang aku suka dari Sophie, sebagai sahabatnya aku diperbolehkan tanya ini-itu tanpa basa-basi.

Sophie tersipu dan mengangguk sambil tersenyum manis.

“Orangnya kayak apa, Soph?” Tanyaku lagi. Kadang menginterogasi sahabat sendiri emang enak. Apalagi Sophie yang penuh misteri tapi jujur.

“Pinter, gigih, baik, lucu.” Jawabnya singkat sambil senyum-senyum, mungkin ada seraut wajah cowok di benaknya, hmm.. atau dua raut tiga raut?

“Udah lo ajakin ke sini, Soph?” Tanyaku kembali lugas.

Bukannya menjawab, Sophie bertanya.

“Mau tahu gak kenapa orang cenderung memilih pasangan yang bisa bikin dia nyaman ketimbang tersanjung atau terpesona?”

Aku berpikir sejenak dan ada sih beberapa jawaban gak mutu di kepala ini, tapi aku memilih menggeleng.

To make us feel we are meant to be.” Jawabnya singkat.

Jawaban Sophie bukan rumus fisika atau matematika, walau bisa jadi rumus kimia karena menyangkut chemistry, tapi kok susah dicerna ya.

“Gak ngerti gue, Soph.” Celetukku spontan.

Sophie menyesap kopinya sampai habis lalu beranjak berdiri dengan senyum manis.

“Arya sayang, sabtu minggu depan jam yang sama di sini yah. Bye!” Katanya dengan sangat santai tapi tegas.

Kaget Sophie tiba-tiba pergi ninggalin begitu aja? Itulah Sophie. Selama dia masih bisa aku temuin di pojokan Jakarta Selatan ini, no need to worry then.

 

[To be continued]

 

 

 

 

The Future

Aku tak pernah menyesali jalan hidupku dan ini yang kuinginkan.

 

Aku duduk berduaan dengan pasangan hatiku, menertawakan betapa dulu kami terlalu bodoh dan kelamaan untuk menyadari kami berdua punya rasa yang sama. Kini kami saling menggenggam tangan dengan erat. Bersyukur bahwa kami masih memiliki waktu untuk dilewati bersama dan tentunya cinta untuk sama-sama menghidupkan hati kami.

Aku tetap menjalani kehidupan yang biasa-biasa aja, tapi spektakuler kalo itu menyangkut persahabatan yang tak lekang oleh waktu, kebaikan yang terus diberikan padaku, dan cinta yang bertebaran dan merona di sepanjang jalan hidupku.

Masa lalu bukan lagi jadi kisah sedih, tapi bahan bercandaan. Tanpa kesalahan yang bodoh di masa lalu, dan keputusan untuk moving on berikut menjadi seseorang yang lebih baik di masa setelahnya, aku yakin, aku gak akan layak mendapatkan masa depan yang indah ini.

Aku bahagia bersama orang-orang tersayang yang selama ini selalu maksain satu sekoci denganku mengarungi lautan bernama kehidupan.

Suatu hari nanti, kelak di masa depannya masa depan, aku akan berceloteh manja sama Ayah yang udah duluan menghadap sang pemilik hidup tentang hidup penuh warna yang boleh kumiliki ini.

Terima kasih.

The end.

 

 

 

 

 

The Present

Kamu gak akan pernah tahu betapa sering aku ingin memeluknya erat-erat.

 

Aku bukan gadis kemarin sore yang dengan gampang jatuh cinta pada seorang pangeran yang menyelamatkannya dari bahaya. Sebaliknya, aku sudah terlalu sering bertemu dengan pangeran tampan berbagai rupa yang membahayakan hidupku dan membuatku tak mudah lagi terpikat pada kisah epik yang mereka tawarkan padaku.

Lalu aku bertemu dengannya.

Kalau dianalogikan, aku adalah vas retak. Boneka dengan baju compang-camping. Jet Li dengan pedang penuh darah dan luka di sekujur tubuh. Piano yang terdengar minor, atau Aceh setelah dilanda tsunami. Tapi dia berbicara denganku seolah aku Emma Watson. Cantik, utuh, dan jujur.

Betapa sejak hari aku bertemu dengannya, aku bersyukur pada sang pemilik hidup yang telah memilihnya untuk jadi perpanjangan tangannya buat menyelamatkan seorang gadis yang bahkan saat itu bernafas pun rasanya terlalu menyakitkan.

Dengan kesederhanaan hatinya, dia memberiku dunia yang penuh dengan bunga, orang-orang yang baik hati, dan pelukan hangat berupa janji-janji yang selalu ditepatinya.

Sosok itu terlalu melekat di hati, karena darinya aku juga menemukan begitu banyak hal yang tak kudapatkan dari begitu banyak pria bermahkota yang pernah kutemui. The art to wear the crown. Bukan, dia bukan pahlawan bertopeng, tapi seorang hebat yang mau jujur mengakui kalau dia bukan mahadewa, tapi sama manusianya denganku dan kamu.

Bersamanya, aku bisa menjadi diriku sendiri, kembali tertawa lepas, dan pelan-pelan sembuh dari luka yang masih membekas. Hidup makin gemerlap sih enggak, tapi aku merasa adem ayem dengan kehidupan yang gak populer tapi makin nyenengin ini.

Yet, once again, ini bukan kisah cinta abg yang tergila-gila sama Superman atau Lee Min Ho. Ini kisah penuh terima kasih dari seorang manusia kepada manusia lainnya. Kalau kamu setidaknya pernah merasa jadi vas retak atau boneka rusak, kamu akan tahu bagaimana setiap aku melihatnya, aku ingin memeluknya erat-erat dan membisikkan terima kasih berulangkali padanya. Betapa setiap kali aku teringat masa lalu, aku menangis haru saat menatapnya, dan diam-diam mengucapkan begitu banyak doa semoga dia selalu dilindungi oleh sang pemilik hidup. Betapa aku berharap bisa membalas kebaikannya dengan tangan-tangan kecil yang kumiliki.

Lalu aku memilih untuk menikmati apa yang ada sekarang ini dengan penuh syukur. Hidup yang sumringah, kejutan hidup yang meriah, bahkan cinta yang kembali menyapa hati.

I want to enjoy the present as a present.

 

To be continued >> The Future

The Past

Kamu gak akan pernah tahu kalau orang di sebelahmu pernah hampir hancur berantakan.

 

Kalau kamu tanya ada apa dengan masa laluku, hanya ini jawabanku yang bisa aku beri, “Sekarang setiap kali aku menoleh ke belakang, yang aku lihat hanyalah asap hitam membumbung di atas reruntuhan sebuah jembatan. Gak ada lagi alasan untukku kembali ke masa lalu.”

Did they really hurt you?” Kamu masih saja terus bertanya.

Aku menggeleng sambil tersenyum, “Aku yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Kalau aku ini seorang samurai, aku dulu terlalu bersemangat mengayunkan katanaku karena aku terlalu mencintai jalan pedang yang kujalani. Tanpa kusadari, ada banyak orang yang melihatku bukan sebagai seorang samurai sejati, tapi ancaman. So, there’s no need to blame anyone.”

“Kenapa sih gak lo balas aja mereka?” Katamu dengan nada sengit.

Aku tetap menggeleng sambil tersenyum, “Saking sayangnya sama mereka, aku lebih suka mengalah dan pergi, bukan karena kalah, tapi aku gak pengin jadi kayak mereka. That’s not me.”

“Tapi lo tuh hampir hancur berantakan dan gue waktu itu sempat pesimis lo bisa balik lagi kayak dulu!” Katamu dengan emosi penuh kekhawatiran.

Aku tertawa, “Hancur berantakannya bukan karena mereka kok, ada alasan yang lebih besar dari itu, dan aku sekarang emang gak balik kayak dulu kan?”

Kamu mengangguk-angguk, “No, you are not. You’re getting better now. Terus alasannya apa?”

“Ada banyak batas di dunia ini yang kalau kamu berani melampauinya, bisa jadi kamu gak akan bisa kembali, kalaupun bisa, belum tentu balik dengan utuh, apalagi jadi lebih baik. Namun begitu, aku tetap memaksakan diri untuk melampauinya.”

Kamu nanar menatapku dan dengan isyarat matamu kamu ingin aku terus memberikan penjelasan.

“Batasan itu ada di luar sama di dalam diri kamu. Batasan yang paling mengerikan adalah tahu seberapa kelam jiwa manusia, dan sebaliknya batasan paling membahagiakan adalah tahu seberapa hangat jiwa manusia. Selebihnya batasan untuk tahu seberapa kuat jiwa kamu bisa bertahan, seberapa cinta kamu sama passion kamu, dan seberapa kuat kamu bisa bertahan jadi diri sendiri, di saat orang-orang memaksamu untuk tidak melampaui batasan itu hanya karena mereka takut melakukannya.”

Kamu makin nanar mendengar penjelasanku. Lalu aku memelukmu erat-erat.

“Yang penting sekarang aku udah baik-baik aja. Gak usah khawatir lagi yah. Sesekali mungkin aku akan tetap keinget sakitnya, tapi itu cuma bagian dari proses healing aja kok.” Bisikku padamu.

Lalu kamu pun juga berbisik padaku, “You went through it very well. I love the better you with all of your scars. Jangan menghilang lagi, yah.”

 

To be continued >> The Present

My Black Valentine

23707236785402852650z3xyyacIni Valentine saya. Kamu?

 

Saya sebenarnya juga mau menikmati Valentine dengan ciuman hangat, coklat mahal dan bunga mewah dari pacar. Klise tapi bukankah ini yang memang paling diharapkan sama insan di dunia ini pada tanggal ini?

Valentine saya selalu berbeda dengan Valentine orang lain, sayangnya pula tidak terjadi tepat di tanggal Valentine berlangsung, pun tak selalu berasal dari doi. Bahkan datangnya dari orang-orang yang tak pernah saya duga sebelumnya namun kehadirannya sungguh mengena di hati.

Pernah suatu hari seseorang melamar saya dengan kata yang santun, tatapan mata yang tajam demi meyakinkan saya, dan celetukan lucu yang bagaikan letupan segar di sela-sela kalimatnya yang serius menggetarkan hati. Saya jatuh hati dengan cara melamarnya. Bukan, ini bukan pinangan tunangan atau pernikahan. Ini sebuah komitmen yang disodorkan pada saya, yang walaupun bukan perkara asmara, tapi menyangkut sebagian besar kehidupan saya. Lamaran seseorang ini sungguh membuat hati saya berbunga-bunga, kalau ini terjadi di hari Valentine, pasti saya akan baper berat.

Lamaran ini kemudian diikuti dengan janji-janji yang Ia tepati, sehingga berkomitmen dengannya menjadi hal mudah. Saya pun berjanji pada diri saya sendiri, kalau saya hanya mau dilamar persis seperti yang pria itu lakukan pada saya, apalagi kalau memang menyangkut masalah hati dan hidup bersama selamanya.

Pun pernah saya menikmati kebaikan hati seseorang yang tidak diwakili dengan, sekali lagi, bunga dan coklat, tapi sebentuk pengertian dan pemahaman terhadap saya sebagai pribadi. Bahkan saya melakukan banyak hal aneh sekalipun, tak membuatnya berubah pikiran tentang saya atau berhenti menyayangi saya.

Kalau mau disingkat Valentine buat saya itu tak ubahnya seperti, meminjam kata-kata dari teman saya, “Cowok ganteng atau kaya sekalipun pasti kalah sama cowok gigih”. Sungguh saya selalu terpesona pada keluarga, sahabat, kolega, dan teman saya yang sungguh gigih menghadapi dan menerima saya, dan itu membuat hari-hari saya selalu berasa Valentine.

Namun, demi memaknai hari Valentine ini, saya sengaja menuliskan kisah cinta penuh warna ini tepat di hari Valentine. Barangkali penafsiran Valentine menjadi cinta yang universal ini pun klise, tapi sekali lagi, bukankah ini yang memang paling diharapkan sama insan di dunia ini pada tanggal ini?

Buat yang sendirian, gak punya janji dinner, atau sepi di hati, jangan sedih. Saya yakin Valentine kalian pun juga sama seperti Valentine saya, terjadi tidak hanya di hari ini dan tak selalu dihangatkan oleh seorang kekasih hati tapi orang-orang yang tentunya selalu di hati.

Happy Valentine, guys.

Soulmate

2069ba25328aedf83ded7af102995c1fKamu percaya gak soulmate itu ada?

 

Dulu saya percaya kalau soulmate itu nyata ada. Apalagi saya pernah mengira kalau saya punya soulmate, karena apapun yang terjadi pada saya dan dia, kami selalu terus saling mencari.

Beberapa sahabat juga berpikir saya dan dia adalah soulmate karena alasan masih saling mencari itu. Padahal saya pure mempersembahkan #BFF buat doi. Alasan saya kalau diterjemahkan dalam pemikiran dan rasa seorang perempuan sederhana di jaman dulu adalah; saya gak cinta. titik. sudah. move on. ganti.

Hanya saja di era HP dan PHP yang berkibar sekarang ini, tentu saja saya tidak mungkin mengabaikan pesan via apps chat atau media sosial. Dan bukan maksud hati PHP, tapi apa salahnya bertemu toh memang sudah berteman lama. Kalau dibilang sayang, tentu saja sayang, karena saya kenal doi. Tak kenal maka tak sayang, dan saya kenal doi bukan?

Lalu apa rasa sayang itu gak cukup buat jadi modal rasa cinta dan pernikahan? Ketika pertanyaan itu dilontarkan seorang sahabat saya, cuma senyum yang bisa saya berikan buat jawabannya. Inilah rasa bagi banyak orang, cair dan complicated. Sementara bagi saya, rasa itu padat dan simple. Kalau gak pas, ya dilepas.

Tentu untuk tahu pas enggaknya saya selalu membiarkan diri saya berproses terlebih dulu. Dan sekarang apakah saya masih percaya adanya soulmate?

Absolutely. Saya masih percaya kalau soulmate itu ada, tapi bukan hanya karena takdir, melainkan kerja keras. Walaupun akhirnya saya tahu dia bukan soulmate saya, tapi untuk terus mencari selama lebih dari satu dekade merupakan kerja keras dua orang, yang bagaimanapun juga, sungguh mengena di hati saya. Sayangnya, rasa sayang itu tak lagi sama. Namun begitu, saya tetap yakin, apapun bentuk hubungan kita dengan orang lain, saat dua orang masih sama-sama bekerja keras untuk saling memahami dan menerima, entah itu hubungan profesional, persahabatan, asmara atau apapun itu, layaklah disebut soulmate. Toh sebuah pertemuan adalah takdir dan bukan hanya sebuah kebetulan, bukan?

Saya percaya adanya soulmate. What about you, guys?

The Sparkling 4th of July

 

redlight1I am here because of you.

 

Menulis satu alinea penuh cinta adalah ritual yang selalu saya lakukan di saat hari ulang tahun saya. Tak semuanya bernada mayor, upbeat, dan penuh kebahagiaan, tapi semuanya harus diabadikan, seperti ulang tahun saya kali ini.

Tahun lalu, tulisan saya sangat minor, masih begitu banyak hal yang belum bisa saya maafkan, termasuk memaafkan diri sendiri. Tak heran, setahun berikutnya menjadi satu periode yang sebenarnya masih sangat sulit untuk saya jalani. Ada saatnya, saya pengin giving up, just giving up. Bahkan untuk bisa merayakan ulang tahun saya hari ini dengan senyum manis dan lega pun rasanya tak terbayangkan.

Hari ini juga genap 1000 hari di mana pada suatu masa di masa lalu, saya mengalami hal yang amazing. Peristiwa yang sungguh membuat saya broken heart pada hidup, talenta, dan kebaikan dalam diri manusia. Mengapa 1000 hari ini penting bagi saya, karena seperti ritual doa kematian, selayaknya pada 1000 hari, segala sesuatunya usai dan yang meninggal diyakini sudah naik ke surga, pun yang ditinggalkan sudah bisa merelakan dan moving on. Saya pun mengamini bahwa hari ini adalah hari penutup untuk pelajaran berharga yang boleh saya alami hari itu.

Di hari ulang tahun saya kali ini, saya menerima apapun yang ada dalam hidup saya, baik itu cinta, rindu yang teramat sangat, kebaikan, ketulusan, kesetiaan pun luka hati, patah hati, sakit hati, kemarahan dan segala hal yang sungguh membuat hati saya sedih. Namun, saya yakin, dengan menerima dan kemudian memaafkan, ini satu-satunya jalan, saya bisa memaafkan diri sendiri dan kembali menjadi diri saya sendiri.

Namun, tentunya saya tak pernah sendiri. Saya selalu percaya, diantara orang jahat selalu ada orang baik. Itulah orang-orang tercinta saya, yang dengan tulus, tetap mau berjalan di sebelah saya, apapun yang terjadi pada saya dan apa kata dunia ini tentang saya. Pun saya menyadari, tak mudah untuk berada di sebelah saya, di mana saya tak sehebat yang orang kebanyakan pikirkan, sebaliknya, saya bisa merapuh, menangis tiada henti, dan menghilang. Namun, saya yakin kalian adalah orang-orang hebat penuh cinta, yang walaupun selalu ada hitam dan putih dalam diri saya, kalian tetap percaya pada saya, membuat saya bertumbuh, mengembalikan kepercayaan saya pada hati manusia, dan selalu menggenggam tangan saya, supaya saya tak sepenuhnya menghilang.

Oleh karena itu, di hari ulang tahun saya ini, dengan sepenuh hati, saya ucapkan, “terima kasih”. Walaupun saya masih harus melakukan begitu banyak hal untuk kembali membangun hidup saya, namun kali ini saya tak lagi ingin berkecil hati dan menangis, karena setidaknya kali ini saya sudah kembali berani memiliki impian, dan saya ingin membuat kalian tersenyum, seperti halnya kalian yang tak pernah lelah membuat saya tersenyum. Kapanpun jika kalian pernah merasa tak berarti, bukalah tulisan saya ini untuk mengingatkan bahwa kalian selalu berarti untuk saya.

Ayah saya, walaupun beliau orang yang sederhana, namun di sepanjang kehidupannya di dunia ini selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi saya hingga beliau pergi. Sehingga saya yakin, di surga sana, Ayah saya pasti memaksa Tuhan untuk memberikan hanya orang-orang yang terbaik dalam kehidupan saya. Itulah kalian bagi saya. Terbaik.

Sekali lagi, terima kasih. I am here because of you. We still have a long way to go, but let us make it happy and awesome.

The end.

 

<< My Another Candle

 

 

 

Saya Bukan Kartini, tapi Saya Selalu Jadi Inspirasi

Tentu saya terdengar arogan, tapi ini adalah paradoks untuk saya.

 

heart2Saya adalah perempuan biasa yang entah mengapa saya sering berada di situasi di mana para perempuan lain suka mempertanyakan eksistensi saya di kehidupan pria-pria mereka. Padahal saya ini tak suka berselingkuh atau menjadi selingkuhan. Saya hanya kadang terlalu pintar menempatkan orang sesuai posisi yang mereka inginkan dalam hidup saya.

Ini terjadi tidak hanya sekali dua kali. Ada beberapa pria yang memang mengaku tak sanggup meraih saya dan memilih mencari duplikat saya. Pun ada perempuan yang tak sanggup menandingi saya dan akhirnya menyerah, bahkan tanpa paksaan atau tekanan dari saya sekalipun.

Sejujurnya saya heran, karena saya ini kadang ingin bertukar posisi, di mana saya yang memiliki si pria. Menjadi tak teraih kalau pada akhirnya berujung menjadi cinta tak sampai juga rasanya tentu saja pedih. Bagaimanapun juga saya juga perempuan, punya hati, punya perasaan.

Kalau ada perempuan yang barangkali saking bencinya pada saya lalu menyerang saya, saya sebenarnya tak tahu, harus merasa iba atau salut. Tentunya saya salut karena dia sanggup hidup di bawah bayang-bayang perempuan lain demi cintanya pada si pria. Iba karena pada akhirnya setelah hal ini terjadi berulangkali pada saya, bisa dipastikan alih-alih berharap hubungan berjalan langgeng malah selamanya tak akan bahagia, karena pada akhirnya bukan saya penyebabnya. Kuncinya tentu saja pada diri seseorang itu, baik si pria atau si wanita, dan kualitas hubungan itu sendiri. Tentu saja kalau sudah diawali dengan bayang-bayang orang lain, sudah bisa dipastikan bukan ujungnya kemana.

Menjadi tak teraih pun akhirnya saya syukuri, bukan karena saya perempuan berdarah biru atau bertalenta, bukan. Namun karena saya benar-benar ingin diraih oleh seseorang yang mampu meraih saya. Saya juga tak ingin dipertandingkan, sebaliknya saya hanya mau pria yang bisa memenangkan hati saya. Inilah artinya menjadi perempuan yang sesungguhnya baik itu sesuai ajaran dalam filosofi Jawa atau yang Ayah saya berusaha jejalkan kepada saya dengan perlakuan penuh kasih sayangnya kepada saya.

Tentu kadang-kadang saya pun iseng berbuat gila karena sisi  bitchy saya tertantang, namun akhirnya saya memilih mengalah bahkan berterimakasih kepada perempuan yang mencemburui dan mengiba pada saya karena telah menyadarkan betapa berharganya diri saya.

Si pria, tentu saya saya menyayangi para pria yang pada akhirnya memperlakukan saya bak inspirasi. Dulu pernah di salah satu kisah, saya ingin mengingatkan bahwa perempuan itu tak baik untuknya, namun lidah saya kelu karena saya sadar barangkali kata-kata saya hanya akan terdengar basi dan ungkapan sakit hati saja. Padahal saya tulus ikhlas ingin mengingatkannya, namun akhirnya saya urungkan. Hingga akhirnya, perpisahan yang menyakitkan menimpa mereka. Saya tidak mengutuk pun saya tak mengharapkan, namun yang saya bisa sarankan, carilah pasangan yang tidak mengenal saya, atau pasangan yang saat bertemu dengan si pria, saya sudah tidak lagi ada dalam hidup si pria itu. Sekali lagi bukan karena saya merasa layak menjadi inspirasi, pun jangan salahkan saya, tapi tanya pada diri anda sendiri mengapa saya kemudian bisa menjadi inspirasi atau ancaman di hubungan kalian.

Sebagai perempuan sekali lagi saya mengalah, dan bahkan mendoakan semoga para perempuan lain ini bisa terus berbahagia dan menghargai diri mereka dengan lebih baik, karena tak ada kebahagiaan sempurna selain menjadi inspirasi itu sendiri bagi pria yang kita cintai.

The end.

 

 

Jakarta

city girlSaya suka Jakarta.

 

Di sepanjang perjalanan saya tinggal di Jakarta, sudah terlalu sering pertanyaan seputar alasan saya suka Jakarta dilontarkan pada saya. Bahkan setelah tahu bahwa kota kelahiran saya adalah Yogyakarta, ada yang dengan polos nyeletuk, “Bukannya di sana tenang?” Lalu dengan santai saya jawab, “Siapa yang mencari ketenangan?”

Pernah pula pertanyaan serupa dilontarkan pada saya setelah lawan bicara saya mengetahui bahwa saya pernah menolak tawaran kerja dari perusahaan media cetak utama di Indonesia hanya karena berlokasi di Bandung dan saya tetap memilih Jakarta walaupun waktu itu saya harus menjalani profesi yang sangat saya tidak sukai demi tetap membuka peluang yang lebih baik di Jakarta.

Kalau mau ditarik mundur lagi, pernah terjadi percakapan antara saya dengan pria yang waktu itu saya sukai setengah mati mengenai keputusan saya untuk hijrah ke Jakarta. “Jakarta, kamu yakin? Jakarta itu cuma untuk orang-orang jumawa.” Saya tertawa dan menjawab, “Saya yakin, karena cuma Jakarta yang bisa mewujudkan impian saya.” Dalam hati sebenarnya saya pun membatin I was not born to be humble, baby.

Itulah beberapa contoh pertaruhan besar yang saya lakukan demi bisa hidup di Jakarta. Pada akhirnya semua itu tidak sia-sia, Jakarta menyuguhkan bahkan memberikan kisah-kisah unik penuh warna baik itu tentang orang lain atau yang terjadi pada saya sendiri. Pun akhirnya saya berhasil meraih impian-impian saya di kota tercinta ini.

Saya tidak menutup mata bahwa Jakarta masih perlu pembenahan di semua lininya, kota impian saya selalu London, saya juga orang yang sangat suka berjalan-jalan ke luar negeri dan mengagumi kota-kota lain. Namun, Jakarta tetap istimewa di hati saya. Alasan utama saya mencintai kota ini adalah karena detak jantung saya seirama dengan denyut kota ini. Dinamis. Cepat. Kuat dan Kejam.

Jakarta menyuguhkan semarak hingar bingar yang berantakan namun indah. Dini hari adalah waktu favorit saya menikmati Jakarta, baik untuk sekedar berputar-putar membelah Jakarta atau menanti pagi di Starbucks, gerai favorit saya.

Tentu saja saya mengalami pasang surut kehidupan di Jakarta ini, tapi saya bersyukur selalu bertemu dengan orang-orang yang menyenangkan yang selalu mampu membuat Jakarta menjadi hangat dan tetap ramah bagi saya untuk terus melangkahkan kaki saya di Jakarta.

Tentu tulisan ini barangkali tak disukai atau tak diamini oleh kebanyakan orang yang tinggal di Jakarta, saya pun bisa memahami itu. Namun, ada beberapa alasan sepele yang sangat penting untuk saya dan yang membuat saya betah tinggal di Jakarta. Saya ini hedonis. Saya suka akses terakselerasi tiada batas, modernitas, kemudahan transportasi dan tentu saja hal-hal yang tampak muluk namun menyajikan kenyamanan. Bukan hal glamor, tapi hal lain yang tak hanya memiliki faktor fungsional namun juga sophisticated value seperti misalnya gerai favorit saya.

Namun, suka juga bukan berarti saya berencana untuk tinggal selamanya, walaupun saya belum mau menentukan hal itu sekarang ini. Kalaupun saya harus meninggalkan Jakarta, saya inginnya hidup di kota besar yang ada di negara lain, karena tak ada kota lain di negara saya yang sanggup menandingi pesona Jakarta untuk saya.

Ini Jakarta bagi saya. Sekali lagi belum tentu sama dengan Jakarta bagi kamu atau kalian. Namun, kalau boleh saya mengingatkan, sesekali nikmatilah dan lihatlah Jakarta dengan perspektif saya, atau setidaknya sempatkan untuk menerima Jakarta tak hanya sebagai tempat mengadu nasib dan sebaliknya tempat dugem, namun sahabat yang memberi ruang bebas untuk anda bisa berkarya lebih.

Terima kasih Jakarta, terima kasih karena sudah banyak memenuhi keinginan saya dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang beraneka ragam dan beberapa di antaranya sungguh melekat di hati saya. Sematkan saya di tiap sudut kotamu. Biarkan saya terus memeriahkanmu. Selalu.

The end.