A Medley of My Songs

We lost it (Pink) before we knew it. I thank you. Next (Ariana Grande).

And now I’m on the next level (Aston Wyld). 

 

Kamu diam membatu. Matamu meredup dan berkaca-kaca. Setiap kali kamu seperti itu, aku tahu kamu pasti berharap Ayahmu datang menemanimu dan kamu sangat ingin berkata pada dia, “It hurts to be human.” Kamu pernah berharap legacy dari ayahmu bukan untuk jadi manusia baik, tapi ketamakan, tipu muslihat, atau apapun yang jahat dan memang lebih mudah dilakukan.

Aku mendekatinya dan berkata, “To be human means lo boleh complain, teriak, apalagi nangis. Kecewa apalagi.”

Kamu menatapku, “Kok lo tahu?”

Aku mengangkat bahu dan tersenyum menatapmu, “Marah itu gampang. Kecewa lebih susah. Tuhan aja sering kecewa, nyet. Apalagi kita.”

“Gue udah sering banget tergoda jadi jahat, nyet. Tapi gagal terus.” Katanya lirih.

Be human then. Kalau udah kecewa kesekian kali, berarti gak layak dikasih kesempatan lagi, nyet. Tuhan cuma minjemin kamu ke orang-orang itu bentar. Buat nyadarin mereka. Nah, mereka mau berubah apa gak, itu urusan mereka. It’s their loss. You should move on and follow your own dot like the way you used to be.”

Because I’m not an angel?” Tanyanya berusaha mencerna.

Yes, you are not. Just be a good human being means bukan jadi hero, angel, atau savior. Your dad knew how big your heart is, makanya dia wanti-wanti kayak gitu. Stay true. Kalau lo stay true dan udah kasih banyak, tapi tetep gak dimengerti, ya bener kata Ariana Grande, ‘Thank You, Next‘. Itu bagian jadi a good human too kok, nyet.”

Dia tersenyum dan kami berpelukan beberapa saat. Lalu kami menikmati kopi kami masih sambil menerawang.

“Gue kadang gak ngerti sama orang-orang yang udah dipinjemin elo sama Tuhan. Orang segini baik, masih aja mau dirampok, dikelabui, dijahatin.” Kataku geleng-geleng kepala.

“Biasalah nyet, biar gw naik kelas kayaknya. I’m not a victim here but a lion who tries to be Yoda.”

Kita tertawa dan mulai bercanda. Aku suka melihatnya kembali tersenyum.

Kamu enggak pernah tahu, setiap kali aku ngeliat ada yang nyakitin kamu, orang itu aku bikin jauh-jauh dari kamu. Setiap saat kamu terluka, aku selalu menghujanimu dengan banyak kejutan menyenangkan. Setiap kali kamu menangis karena berusaha memaafkan walau tak pernah diminta, aku mengirim orang-orang baik buat menceriakan harimu. Setiap kamu jatuh, aku siap mengangkatmu lagi. Di setiap langkahmu, aku ada.

 

The end.

 

 

 

 

 

Iklan

Jangan Hilang

Related image

Hidup bukan petak umpet. Kalaupun iya, aku gak mau mencarimu. Aku mau kamu di sini. Gak kemana-mana.

Seharian gue nemenin dia dari satu pesta ke pesta lainnya. Tawanya terus menghias wajahnya. Sorot matanya berbinar. Semua tampak baik-baik aja. Lalu kita mengakhiri hari di balkon apartment-nya.

“Seharian gue perhatiin, you didn’t take any meds. Udah sembuh?” Tanyaku nyinyir.

Dia tertawa, menggelengkan kepalanya dengan jenaka.

So?” Tanyaku galak.

“Katanya ketawa itu juga obat, nyet. Gue seharian ini banyak ketawa.” Jelasnya ringan.

“Oh c’mon… gue gak mau ngerusak hari bahagia lo ini, but c’mon!” Celetukku gak pake babibu.

Tetiba tawanya lenyap, matanya berkaca-kaca. And here we go

“Coba deh lo minum obat 3 kali sehari, 3 macam jenis obat, selama setahun! Rasain aja! Rasain!” Ujarnya marah.

“Ya gue ngerti…” Jawabku lembut.

NO! Elo gak ngerti, nyet! Lo gak minum obat sialan itu! Even lo gak ngerasain, gue yang gak tau harus minum obat sampai kapan! Darimana lo bisa ngerti, nyet?” Sahutnya gusar.

Ok, gue gak ngerti, tapi gue pengin lo sembuh, makanya gue ingetin.” Sahutku sabar.

“NYET! Kalo lo udah minum obat 3 kali sehari selama setahun, LO mana bisa lupa?!” Sahutnya makin marah.

Selama beberapa saat kita bertatapan, gue dengan tatapan super sayang, dan elo dengan tatapan setan. Meradang. Sampai air mata lo menetes, dan lo cepat-cepat beranjak. Gue raih tangannya, tapi dengan cepat dia hempaskan.

Gue sengaja gak langsung nyusul. Dia selalu butuh space setiap kali abis marah. Lima belas menit kemudian, gue masuk dan dia lagi duduk di sofa, telponan sambil ketawa-tawa. Dia cuma melirik sekilas ke arahku. Dia mungkin gak pernah tahu, gue sakit tiap kali dia marah dan sedih.

Tepat saat gue ambil tas dan mau beranjak pergi, dia pamitan dengan yang di ujung telepon.

“Mau ke mana?” Tanyanya lirih.

Gue berhenti dan menengok ke arahnya. Wajahnya sedih lagi, air mata di pipi, dan tatapannya sayu. Pemandangan yang paling gue benci, dan pengin gue ubah dengan sekuat tenaga.

“Itu siapa? Cowok baru lagi?” Tanyaku lembut.

Dia diam dengan wajah sedihnya.

Another runaway?” Tanyaku lagi.

“Harus banget runaway? Harus banget ketawa terus buat gantiin obat sialan lo?” Kataku meninggi.

Akhirnya dia luluh, dan menangis sejadi-jadinya. Langsung kupeluk dia erat-erat. Tubuhnya makin kurus karena diet yang juga harus dia jalani.

Please, jangan hilang.” Bisikku.

I don’t know how.” Jawabnya lirih.

Keep trying. You’ve done well. Setahun dan angka lab lo at least statis, beberapa menurun. Your diet juga mulai kelihatan kan hasilnya. Hidup lo juga masih on the track. You look happier. Tapi… jangan hilang.” Jawabku lembut.

Dia mengangguk di pelukanku tanpa banyak bertanya. Dia yang tawanya adalah obat untukku. Dia yang kehadirannya melengkapi hidupku. Dia, yang tanpanya, aku hilang.

 

The end.

*Teddy Bear Art Print by Tommervik

 

White Christmas

Di kamar ini aku gak melihat bintang, tapi aku tahu sinarnya menemaniku.

Desember selalu jadi bulan yang meriah sekaligus melo buat gw. Selalu ada memori tentang santa claus yang konon bisa ngabulin semua permintaan kita, lagu-lagu natal yang mengharu biru, tentang ayah, hidup, dan Dia. Setelah setengah tahun terakhir ini bolak-balik rumah sakit, di penghujung tahun gw dirawat di rumah sakit tentunya jadi klimaks bagian hidup gw yang satu ini. Sedih? Melo? Enggak, nyet. Gw bahagia.

Kali ini gw mengikuti prosedur rumah sakit tanpa bantuan siapapun. Saat dokter menunjukkan hasil lab dan menyatakan keharusan untuk dirawat, gw mengangguk dan tersenyum tanpa beban. Lega malah. Dari klinik, transit di UGD, dan berujung di kamar perawatan, semua gw jalani sendiri. Mungkin gw gak normal, tapi keputusan untuk ngasih tau segelintir orang saja tentang kondisi gw ini, really urgent to be made. Gw butuh sendiri.

Akhir-akhir ini udara terasa begitu pengap. Gw butuh mengurai kekusutan itu, mengembalikan kehidupan ke poros gw sendiri, dan mengumpulkan semangat untuk kembali hidup.

Hari demi hari terasa ringan. Gw bisa tidur nyenyak, jadi gak perlu sering-sering merasakan sakit di tubuh gw. And you know what, once again I must say, I am happy. Banyak keinginan belum terwujud, banyak kekhawatiran menggantung, banyak rasa belum tersampaikan. Tapi gw tahu, gw tetap aja jauh lebih beruntung daripada banyak orang, and I’m grateful for that.

Molley sahabat gw datang menjenguk. Menghujani gw dengan peluk.

How are you, nyet?”

Fine laa. Kapan lagi bisa cuti dari kehidupan ini nyet.” Jawabku sambil tersenyum.

“Nyet, what do you feel now, selain demam, nyeri perut dan gejala penyakit dunia ketiga lo itu?” Tanyanya lagi.

Gw tertawa, selalu suka dengan cara bicaranya yang to the point sekaligus sarkastik, “Anehnya gw bahagia, nyet. Tenang. Dan di sela kemeriahan bakteri di perut gw, ada satu orang yang selalu nyantol di kepala gw. Udah disuntik antibiotik, tetep aja doi bertahan.”

Make you sad or add more happiness to you?” Katanya sambil menatap tajam.

Happy. Far far away dari melo. Gw menerima semua ini kok, nyet. Kalau emang masih belum bisa ngelupain, ya udah, biarin aja dia di kepala gw, coz there’s something bigger than that.”

Molley mengernyitkan keningnya, menunggu penjelasan gw berikutnya.

“Gw ngerasa Dia lagi sayang-sayangnya sama gw, nyet. Tiap hari rasanya gw dipeluk, so pengobatan lancar, and I feel nothing but happy. It’s more than enough for me.” Jawabku sambil tersenyum.

“Cinta lo nambah?” Tanyanya sambil tersenyum.

Gw mengangguk sambil tertawa. “Ini kali ya yang namanya faith?”

Tell me.” Sahutnya to the point.

You know my story kan, nyet. Sering banget gw sok heroik ngelakuin banyak cara, resah gak karuan karena hidup, dan nangis karena kehilangan banyak hal yang ujung-ujungnya emang ternyata gw mau dikasih yang lebih baik dari semua itu. So, kali ini gw bukan pasrah, tapi percaya. I believe in Him.” Kataku sambil tersenyum.

Yeah, I can see that from your face.” Katanya sambil menatapku, ikut lega.

“Tahun ini berasa cepet banget berlalu. Super roller coaster lengkap dengan agenda rumah sakit yang padat. Dikasih istirahat di ujung tahun tuh rasanya bonus. Tahun depan mau kayak apa, I just believe it will be marvelous, more more wonderful than this year. For everyone. For you too, nyet.”

Molley tersenyum dan memelukku lama. It’s all I need, tanpa banyak orang, tapi benar-benar hadir.

Sebelum pulang Molley cuma bilang gini, “buruan sembuh. Let’s have a great holiday with our beloved ones to close this amazing year in a magical way.”

The end.

 

 

 

 

 

To be Brave

Aku ingin bisa melangkah lebih jauh bersama kamu.

Terjebak hujan bikin aku dan Fey duduk melo di kafe favorit kami. Maunya kita mengakhiri hari minggu dengan teknis; pulang cepet, maskeran, siap-siap buat esok hari, tidur cukup. Ternyata hujan ngajakin nongkrong.

“Nah, crita deh ke gw sama hujan tentang cowok itu.” Tanya Fey gak pake babibu.

“Ah Fey, udah lewat ah.” Jawabku cepat.

“Yakin udah lewat?” Celetuknya menggoda.

Aku tersenyum, menyeruput coklat hangatku, dan menggeleng pelan.

“So?” Tanyanya lagi memaksa.

“Gw gak bisa lupa perasaan gw pertama kali liat dia, Fey. Rasanya he’s the one. Hahaha ngayal ya gw. Tapi dia emang pas sesuai sama bayangan gw. Dan cara dia menatap, bikin rasa ini makin kuat, Fey.” Jelasku sambil tersenyum.

“Terus kenapa masih gini-gini aja?” Celetuknya.

“Ada pada satu titik, gw pengin menghilang aja dari semua itu, Fey. Ada tentang dia yang bikin gw gak berani melangkah.” Jawabku lirih.

“Kali ini apalagi?” Tanyanya gemes.

“Akhir-akhir ini makin banyak yang sayang sama gw, Fey. Bikin gw terus pengin sembuh. Gw capek bolak-balik rumah sakit terus. Gw capek gak bisa lari ngejar yang gw mau kayak dulu. Capek minum obat banyak. Capek hidup sehat. Tapi semua gw jalanin, karena gw selalu pengin hidup buat mereka yang gw sayang, Fey. Termasuk elo. Kalo gw gak ada, siapa ntar yang nemenin lo midnite sale, iya kan Fey?” Jelasku santai.

“Hush! Ngomong apaan sih lo? Lo bakal baik-baik aja, tauk! Akan ada ribuan midnite sale yang lo sama gw bakal lewatin!” Sambar Fey dengan sewot.

“So, ada tentang cowok itu yang bikin gw meragu. Wanita ini butuh diyakinkan karena so far yang ada tentang dia cuma perasaan romantis. Tapi sebelum sempat mengenalnya lebih jauh, he made me shocked, dan gw menjauh. Gw ketakutan. Takut sakit, jatuh, apapun itu. Di saat gw lagi butuh strong buat diri gw sendiri, Fey.” Jawabku kali ini dengan mata berkaca-kaca.

“I know, babe. Siapapun cowok itu, kalo ada yang nyakitin lo, gw make up’in tuh cowok! ” Sela Fey sambil mulai merangkulku.

Mau gak mau aku tertawa, sampai akhirnya aku diam menunduk. Fey lalu melongok dan menatapku.

“Lo gak salah, babe. Standar cowok lo emang harus setinggi bokap lo. Sayangnya super gilak ke elo. Tapi lo emang worth it buat disayang sebegitunya. Gak usahlah gw sebutin kelebihan lo daripada lo mabuk pujian ya, babe. But yes, lo udah bener kok, babe.” Jelas Fey lembut.

“Tapi gw beneran suka sama cowok itu, Fey. Gw nya aja kali yang gak brave enough to love or at least to make a step.” Kataku sambil tersenyum.

Mendadak Fey langsung melonjak, melotot dan sewot, “Not brave you said?! Yang bener aja, babe! Dikhianatin orang seabrek-abrek dan masih bisa move on, dihempas cobaan sana-sini dan anaknya masih kekeh berusaha sampe sekali lagi impiannya tercapai, dan kalo dulu lo against depression then you survive, now you against the most hyped disease in the world dan masih bisa keep surviving.. Yang mana bagian lo gak beraninya, babe? Yang mana?!?!”

Langsung kupeluk Fey erat-erat, dan… “Fey, lo bikin gw mewek nih.”

Kami berpelukan beberapa saat. Nangis bareng-bareng. Malu-maluin. Tapi lega.

“Setahu gw, hati lo gak pernah salah. Kalo lo yakin, pasti jadi kenyataan. I knew it. But this time, let him convince you ya, babe. Lo seneng-seneng aja sama hidup lo.”

Aku mengangguk.

“Inget babe, hujan gak pernah salah timing. Apalagi cinta.” Kata Fey dengan genit.

“Ahahahahhahaa gombal lo, Fey! Balik yuk ah!” Kataku sambil tertawa lega.

The end.

Tuhan Punya Cerita

Hasil gambar untuk journey

Kalau masih boleh di sini, I will make it count. Kalau udah gak boleh, then I can’t wait to see you there.

 

Suatu hari saya terbangun dengan diagnosa dokter, sekumpulan obat, dan mimpi buruk. Namun begitu, matahari tak mau menunggu saya, sehingga saya harus cepat-cepat mengejarnya. Saat menapakkan kaki, saya merasa tak lagi punya pijakan. Kaki ini tak lagi bersahabat untuk menemani saya terus melangkah apalagi berlari. Kalau boleh jujur, saya ingin menangis keras-keras, tapi sekali lagi matahari mengingatkan saya untuk terus saja menjalani hidup.

Bukan, bukan penyakit yang terlalu parah. Semua masih bisa dikendalikan. Tapi entah ini keberuntungan atau tidak, saya sangat sensitif terhadap rasa sakit. Kalau kamu tertusuk jarum rasanya cuman nylekit, buat saya rasanya bisa seperti tertembak pistol. Sakit. Itu yang saya rasakan beberapa saat terakhir ini. Badan saya juga terasa lemas. Setiap ada waktu luang saya selalu bedrest, tak peduli banyaknya ajakan untuk party atau sekedar minum kopi. I have to.

Ada seorang sahabat mengingatkan saya, kalau kita diberi sakit, itu berarti Tuhan mau kita istirahat. Berhenti. Beberapa saat rasanya saya ingin menangis lagi. I can’t. I can’t stop now. I should run. I want to run. Tapi tubuh berkompromi dengan yang empunya kehidupan. Saya pun dengan legowo memutuskan, baiklah, saya break dulu.

Saya memutuskan untuk membungkam begitu banyak pikiran di kepala dan tangis di hati saya, dan fokus pada kesembuhan saya. Terus menjalani hari semampu saya bisa. Terus memiliki target. Terus berlari walau tak sekencang biasanya. Kadang saat menunggu hasil lab atau giliran terapi, saya sempatkan untuk merenung. Ah merenung, terasa berat. I’m just thinking. Light thinking. Bahwa ternyata ada benarnya, dengan sakit ini dan saya tak bisa lagi melangkah cepat, saya jadi lebih sabar terhadap banyak orang dan banyak hal. Saya jadi lebih melihat dan menghargai banyak hal dengan perspektif baru.

Bahkan saya bisa mulai menertawakan sakit saya ini. Sakit yang disebabkan karena makanan. Lalu saya bayangkan, berapa banyak nasi padang yang saya makan di sela-sela lembur saya, ramen yang saya jejalkan di perut untuk sedikit meredakan patah hati, atau berbotol minuman manis yang saya tenggak untuk melunturkan kepahitan dalam hidup. Jadi kalau benar-benar mau sembuh, saya harus hidup dengan pola makan sehat, dan LANGSING!

Bertahun-tahun Ibu saya berharap saya bisa langsing, dan saya tak mampu mewujudkannya, sekarang menjadi LANGSING adalah sebuah keharusan, supaya saya bisa tetap fit dan tentu saja kembali berlari. Tuhan memang cute.

Saya pun kemudian berusaha keras untuk selalu berpikir positif. Terapi. Bahkan di tempat terapi pun, saya memilih terapis yang baik hati dan memperlakukan kaki saya seperti kakinya sendiri. Bukan barang. Bukan kaki pasien. Bertemu dengan terapis seperti ini saja, saya makin percaya Tuhan selalu punya cara sendiri untuk terus membuat saya bersemangat menyongsong pagi dan kembali mengejar matahari.

Saya belum berhenti, saya malah makin kencang berlari. Saya yakin suatu hari nanti saya bakal LANGSING! Kaki saya akan kembali berdamai dengan bumi. Bahwa semua akan baik-baik saja.

“Just do your best, and I’ll do the rest.” He said.

The end.

 

 

 

 

You Jump, I Jump

Air gak akan semurah hati udara sama daratan yang memperbolehkan kamu menghirup nafas begitu saja. Kamu tidak akan bisa memeluk air, tapi kamu bisa menyelaminya.

 

Aku asing dengan air. Aku tidak pernah benar-benar mengenalnya sampai aku memutuskan untuk belajar berenang. Diantara berbagai pilihan untuk hidup sehat dengan nge-gym, yoga, atau ikut zumba, aku memilih berenang. Alasannya sederhana, aku paling malas berkeringat.

Saat pertama kubiarkan tubuhku sepenuhnya masuk ke dalam air, ada gelisah, ada ketakutan, dan ada rasa asing. Bahkan bernafas bersama air rasanya enggak semudah kita bernafas di daratan. Tarik dan buang nafas punya timingnya sendiri, apalagi kalau sambil melakukan gerakan berenang. Tiba-tiba aku merasa lebih ingin menghargai hidup, tangan yang tak mampu meraih bintang, kaki yang tak mampu berlari sampai ujung dunia, dan aku yang tak mampu menjadi kamu atau dia yang bisa menaklukan dunia.

Semakin aku menyelami air, aku juga tahu artinya rileks. Hidup tenang dan meninggalkan pola pikir ‘what’s next’. Hanya dengan rileks aku bisa mengambang di dalam air. Seperti menggandeng air untuk melangkah bersama di sampingku.

Aku juga bisa membasuh semua ketakutan dalam diriku dengan air yang jernih, sehingga menyelami air bagiku kini layaknya sebuah meditasi. Tenang dan fokus pada situasi tubuhku yang menyatu dengan air; merasakan gelombangnya, menyentuh dinginnya, dan tenggelam bersamanya.

Air memang tak akan semurah hati udara dan daratan, tapi air bisa menjadi sahabat baru yang menyenangkan, yang mampu memberi ruang di saat hidup terasa bising, dan sebaliknya memperkaya rasa di saat hidup terasa cerah, rasa yang hanya kamu sendiri yang bisa memilikinya.

The end.

*Title is taken from Titanic, Pic is taken from other site

 

 

 

The Smile that I Don’t Really Have

Maafin orang emang gak mudah, apalagi maafin orang yang gak pernah minta maaf ke elo, Vole. 

 

Mosh. Dari sekian temen-temen gue yang beraneka warna, gue paling nyaman sama Mosh. Makhluk hidup tanpa warna dan super enggan bergaul padahal banyak banget yang pengin jadi temen doi.

Hujan turun dengan deras setelah berhari-hari mengalah sama matahari yang masih pengin eksis dengan sinarnya yang terik di musim hujan.

“Lo tahu gak kenapa di musim hujan malah sering-seringnya panas?” Tanya Mosh ringan.

“Global warming kan.” Jawabku klise.

Mosh menggeleng tegas sambil ngeliatin hujan dengan senyum tipis.

“Mungkin kalau boleh memilih, hujan gak pernah pengin datang ke bumi, dan berkompetisi dengan matahari. Hujan cuma berusaha menyeimbangkan ekosistem.” Jelas Mosh dengan santai.

“Hah?” Aku menatap Mosh dengan kaget.

Mosh tersenyum dan menyodorkan wine kearahku. Aku menerima dan meminumnya, masih dengan mata mengernyit dan kerut di dahi.

“Pengin hadiah natal apa lo Vole dari gue?” Tanya Mosh dengan tatap mata jenaka.

“Ferrari boleh gak, Mosh?” Jawabku jujur dengan gelak tawa.

Joke-joke sampah pun mulai mengisi perbincangan gue sama Mosh selama beberapa saat sampai akhirnya diam kembali hadir, mengingatkan kalau hujan masih turun dan obrolan super melo bisa kapan aja kembali menyelinap.

“Mosh, kok gue belom bisa maafin mantan gue ya, padahal doi udah berulangkali minta maaf.” Tanyaku sedih.

“Maafin orang emang gak mudah, apalagi maafin orang yang gak pernah minta maaf ke elo, Vole.” Jawab Mosh tenang.

Aku merangkul lengan Mosh dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.

“Sakit banget ya, Mosh?” Tanyaku hati-hati.

Mosh tersenyum. Senyum yang selalu menghias wajahnya walaupun gue tahu hidupnya gak pernah mudah dan banyak yang berhutang maaf sama makhluk yang satu ini. Mosh selalu tersenyum. Mosh selalu memaafkan.

“Vole, lo maafin mantan lo ya.” Kata Mosh mengabaikan pertanyaanku.

“Will do, Mosh. Tapi Mosh, gak semua orang harus lo maafin juga kan, Mosh.” Jawabku tegas tapi lembut.

“Satu aja. Kadang gue pengin at least ada satu orang yang minta maaf ke gue, Vole. Pasti gue peluk-peluk dan gue traktir kopi mahal!” Jawab Mosh selalu dengan senyum dan tawa, dan mata yang berkaca-kaca. Oh, Mosh!

“Mosh, maafin gue ya.” Kataku sambil mengerling jenaka.

Mosh tergelak dan kita balik lagi hanyut ke joke-joke sampah. Mosh, sosok yang paling hebat keluar dari situasi melo dengan gelak tawanya, walaupun hatinya selalu kelabu.

The end.

 

 

 

 

 

 

 

Happy Sunday

Kamu selalu suka pagi di hari minggu. Being the day of the sun, harinya mentari katamu. Hari yang cerah buat aku dan kamu bertemu.

 

Tak terhitung berapa kali aku memilih berjuta kegiatan lain daripada menemuimu. Gak lupa, tujuan-tujuanku yang selalu bias tiap kali menemuimu; entah jajan-jajan makanan di deket rumah kamu, karena lagi butuh banget sama kamu, atau cuma mau duduk-duduk aja.

Pun makin tak terhitung berapa kali aku lupa sama kamu dan berbuat sesuka hati yang mungkin bikin kamu sakit hati.

Sunday. Aku selalu menunggumu dan kalau bisa temui aku di hari minggu ya. Itu pesan singkatmu. Tanpa amarah, tanpa prasangka, tanpa paksaan.

Padahal kamu punya seribu satu alasan untuk membenci dan meninggalkanku. Belum ditambah bibir nyinyir orang-orang, rumor yang berhembus, dan tentu saja kesalahan-kesalahan yang kulakukan sendiri.

Tapi kamu selalu menggandengku. Kamu gak pernah kemana-mana. Kamu di sini. Di sebelahku.

“Why do you love me?” 

“Why not?”

Pagi itu di hari minggu, di bawah mentari yang bersinar cerah, aku menangis di pelukanmu.

“Mau jajan apa pagi ini?” Tanyamu riang dengan nada ringan.

Aku menggeleng.

“I’m here to love you more.” Jawabku.

Kamu tersenyum dan memelukku lebih erat.

 

The end.

*pic is taken from pinterest

 

 

 

 

 

Am I Losing Your Magic?

Aku gak pernah salah orang. Apalagi salah menilai. Dan apalagi ini kamu.

 

Kalau aku merasa diperlakukan sebagai vas utuh saat bertemu denganmu, sementara di saat itu sebenarnya aku merasa retak dan hampir hancur, aku melihatmu sebagai sesosok manusia. Walaupun aku mengagumimu setengah mati, tapi aku tak pernah lupa kalau kamu juga seorang manusia. Karakter yang kuat dan menonjol dengan sisi rapuh yang tampak jelas terlihat karena ada benteng yang kamu bangun di sekelilingmu.

Sampai sekarang pun aku masih mengagumimu, dan berusaha memahami situasi dan segenap kamu dengan perspektif seseorang yang masih sama manusianya.

Mungkin bagimu aku seperti menjauh dan dingin. Mungkin kamu kira aku akan mundur begitu saja saat melihat sisi rapuhmu. Tapi bukankah kamu yang lebih bisa menerimaku apa adanya saat itu? I learn from the best and I stay then. Aku memilih diam, karena aku tahu tiap sudut gelap yang kamu rasakan dan hadapi. Dan aku mencoba mengerti.

Let me remind you again about your magic.

Kamu paling jeli melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Entah itu kebaikan hati, bakat, atau motivasi terdalam seseorang. Kamu juga paling pintar membaca ekspresi dan mimik muka. Tentu tak semua benar saat kamu membacaku, karena aku tahu kamu bisa membaca, dan aku pintar menyembunyikannya.

Kamu juga selalu punya kata-kata penuh strategi untuk membuat atau mengarahkan lawan bicaramu berbalik mendukung pendapatmu seolah-olah itu hasil pemikiran mereka sendiri. Fantastis.

Kamu dan semua ide gilamu, selalu sukses membawa orang ke tingkat berpikir yang lebih tinggi atau lebih dalam.

Kamu unik. Aku selalu suka kejujuranmu dalam bersikap. Percayalah, setiap kali kamu berusaha menjawab diplomatis, aku tahu jawabanmu yang sebenarnya. Akhirnya, sering-seringnya kamu lebih suka menjadi jujur di depanku, dan aku suka.

Dari sederet orang hebat yang pernah berdiskusi denganku, kamu adalah keajaiban yang pernah kutemui. Kamu hebat dan kuat sekaligus jujur dalam bersikap. Tentu ada orang yang tetap menuntutmu lebih. Tentu kamu juga melakukan kesalahan. But once again, I understand it. Kamu masih manusia. Manusia yang aku kagumi setengah mati.

Tapi aku gak mau sendirian menghadapi semua ini.

Stay with me. With us.

 

The end.