To be Brave

Aku ingin bisa melangkah lebih jauh bersama kamu.

Terjebak hujan bikin aku dan Fey duduk melo di kafe favorit kami. Maunya kita mengakhiri hari minggu dengan teknis; pulang cepet, maskeran, siap-siap buat esok hari, tidur cukup. Ternyata hujan ngajakin nongkrong.

“Nah, crita deh ke gw sama hujan tentang cowok itu.” Tanya Fey gak pake babibu.

“Ah Fey, udah lewat ah.” Jawabku cepat.

“Yakin udah lewat?” Celetuknya menggoda.

Aku tersenyum, menyeruput coklat hangatku, dan menggeleng pelan.

“So?” Tanyanya lagi memaksa.

“Gw gak bisa lupa perasaan gw pertama kali liat dia, Fey. Rasanya he’s the one. Hahaha ngayal ya gw. Tapi dia emang pas sesuai sama bayangan gw. Dan cara dia menatap, bikin rasa ini makin kuat, Fey.” Jelasku sambil tersenyum.

“Terus kenapa masih gini-gini aja?” Celetuknya.

“Ada pada satu titik, gw pengin menghilang aja dari semua itu, Fey. Ada tentang dia yang bikin gw gak berani melangkah.” Jawabku lirih.

“Kali ini apalagi?” Tanyanya gemes.

“Akhir-akhir ini makin banyak yang sayang sama gw, Fey. Bikin gw terus pengin sembuh. Gw capek bolak-balik rumah sakit terus. Gw capek gak bisa lari ngejar yang gw mau kayak dulu. Capek minum obat banyak. Capek hidup sehat. Tapi semua gw jalanin, karena gw selalu pengin hidup buat mereka yang gw sayang, Fey. Termasuk elo. Kalo gw gak ada, siapa ntar yang nemenin lo midnite sale, iya kan Fey?” Jelasku santai.

“Hush! Ngomong apaan sih lo? Lo bakal baik-baik aja, tauk! Akan ada ribuan midnite sale yang lo sama gw bakal lewatin!” Sambar Fey dengan sewot.

“So, ada tentang cowok itu yang bikin gw meragu. Wanita ini butuh diyakinkan karena so far yang ada tentang dia cuma perasaan romantis. Tapi sebelum sempat mengenalnya lebih jauh, he made me shocked, dan gw menjauh. Gw ketakutan. Takut sakit, jatuh, apapun itu. Di saat gw lagi butuh strong buat diri gw sendiri, Fey.” Jawabku kali ini dengan mata berkaca-kaca.

“I know, babe. Siapapun cowok itu, kalo ada yang nyakitin lo, gw make up’in tuh cowok! ” Sela Fey sambil mulai merangkulku.

Mau gak mau aku tertawa, sampai akhirnya aku diam menunduk. Fey lalu melongok dan menatapku.

“Lo gak salah, babe. Standar cowok lo emang harus setinggi bokap lo. Sayangnya super gilak ke elo. Tapi lo emang worth it buat disayang sebegitunya. Gak usahlah gw sebutin kelebihan lo daripada lo mabuk pujian ya, babe. But yes, lo udah bener kok, babe.” Jelas Fey lembut.

“Tapi gw beneran suka sama cowok itu, Fey. Gw nya aja kali yang gak brave enough to love or at least to make a step.” Kataku sambil tersenyum.

Mendadak Fey langsung melonjak, melotot dan sewot, “Not brave you said?! Yang bener aja, babe! Dikhianatin orang seabrek-abrek dan masih bisa move on, dihempas cobaan sana-sini dan anaknya masih kekeh berusaha sampe sekali lagi impiannya tercapai, dan kalo dulu lo against depression then you survive, now you against the most hyped disease in the world dan masih bisa keep surviving.. Yang mana bagian lo gak beraninya, babe? Yang mana?!?!”

Langsung kupeluk Fey erat-erat, dan… “Fey, lo bikin gw mewek nih.”

Kami berpelukan beberapa saat. Nangis bareng-bareng. Malu-maluin. Tapi lega.

“Setahu gw, hati lo gak pernah salah. Kalo lo yakin, pasti jadi kenyataan. I knew it. But this time, let him convince you ya, babe. Lo seneng-seneng aja sama hidup lo.”

Aku mengangguk.

“Inget babe, hujan gak pernah salah timing. Apalagi cinta.” Kata Fey dengan genit.

“Ahahahahhahaa gombal lo, Fey! Balik yuk ah!” Kataku sambil tertawa lega.

The end.

Iklan

Tuhan Punya Cerita

Hasil gambar untuk journey

Kalau masih boleh di sini, I will make it count. Kalau udah gak boleh, then I can’t wait to see you there.

 

Suatu hari saya terbangun dengan diagnosa dokter, sekumpulan obat, dan mimpi buruk. Namun begitu, matahari tak mau menunggu saya, sehingga saya harus cepat-cepat mengejarnya. Saat menapakkan kaki, saya merasa tak lagi punya pijakan. Kaki ini tak lagi bersahabat untuk menemani saya terus melangkah apalagi berlari. Kalau boleh jujur, saya ingin menangis keras-keras, tapi sekali lagi matahari mengingatkan saya untuk terus saja menjalani hidup.

Bukan, bukan penyakit yang terlalu parah. Semua masih bisa dikendalikan. Tapi entah ini keberuntungan atau tidak, saya sangat sensitif terhadap rasa sakit. Kalau kamu tertusuk jarum rasanya cuman nylekit, buat saya rasanya bisa seperti tertembak pistol. Sakit. Itu yang saya rasakan beberapa saat terakhir ini. Badan saya juga terasa lemas. Setiap ada waktu luang saya selalu bedrest, tak peduli banyaknya ajakan untuk party atau sekedar minum kopi. I have to.

Ada seorang sahabat mengingatkan saya, kalau kita diberi sakit, itu berarti Tuhan mau kita istirahat. Berhenti. Beberapa saat rasanya saya ingin menangis lagi. I can’t. I can’t stop now. I should run. I want to run. Tapi tubuh berkompromi dengan yang empunya kehidupan. Saya pun dengan legowo memutuskan, baiklah, saya break dulu.

Saya memutuskan untuk membungkam begitu banyak pikiran di kepala dan tangis di hati saya, dan fokus pada kesembuhan saya. Terus menjalani hari semampu saya bisa. Terus memiliki target. Terus berlari walau tak sekencang biasanya. Kadang saat menunggu hasil lab atau giliran terapi, saya sempatkan untuk merenung. Ah merenung, terasa berat. I’m just thinking. Light thinking. Bahwa ternyata ada benarnya, dengan sakit ini dan saya tak bisa lagi melangkah cepat, saya jadi lebih sabar terhadap banyak orang dan banyak hal. Saya jadi lebih melihat dan menghargai banyak hal dengan perspektif baru.

Bahkan saya bisa mulai menertawakan sakit saya ini. Sakit yang disebabkan karena makanan. Lalu saya bayangkan, berapa banyak nasi padang yang saya makan di sela-sela lembur saya, ramen yang saya jejalkan di perut untuk sedikit meredakan patah hati, atau berbotol minuman manis yang saya tenggak untuk melunturkan kepahitan dalam hidup. Jadi kalau benar-benar mau sembuh, saya harus hidup dengan pola makan sehat, dan LANGSING!

Bertahun-tahun Ibu saya berharap saya bisa langsing, dan saya tak mampu mewujudkannya, sekarang menjadi LANGSING adalah sebuah keharusan, supaya saya bisa tetap fit dan tentu saja kembali berlari. Tuhan memang cute.

Saya pun kemudian berusaha keras untuk selalu berpikir positif. Terapi. Bahkan di tempat terapi pun, saya memilih terapis yang baik hati dan memperlakukan kaki saya seperti kakinya sendiri. Bukan barang. Bukan kaki pasien. Bertemu dengan terapis seperti ini saja, saya makin percaya Tuhan selalu punya cara sendiri untuk terus membuat saya bersemangat menyongsong pagi dan kembali mengejar matahari.

Saya belum berhenti, saya malah makin kencang berlari. Saya yakin suatu hari nanti saya bakal LANGSING! Kaki saya akan kembali berdamai dengan bumi. Bahwa semua akan baik-baik saja.

“Just do your best, and I’ll do the rest.” He said.

The end.

 

 

 

 

You Jump, I Jump

Air gak akan semurah hati udara sama daratan yang memperbolehkan kamu menghirup nafas begitu saja. Kamu tidak akan bisa memeluk air, tapi kamu bisa menyelaminya.

 

Aku asing dengan air. Aku tidak pernah benar-benar mengenalnya sampai aku memutuskan untuk belajar berenang. Diantara berbagai pilihan untuk hidup sehat dengan nge-gym, yoga, atau ikut zumba, aku memilih berenang. Alasannya sederhana, aku paling malas berkeringat.

Saat pertama kubiarkan tubuhku sepenuhnya masuk ke dalam air, ada gelisah, ada ketakutan, dan ada rasa asing. Bahkan bernafas bersama air rasanya enggak semudah kita bernafas di daratan. Tarik dan buang nafas punya timingnya sendiri, apalagi kalau sambil melakukan gerakan berenang. Tiba-tiba aku merasa lebih ingin menghargai hidup, tangan yang tak mampu meraih bintang, kaki yang tak mampu berlari sampai ujung dunia, dan aku yang tak mampu menjadi kamu atau dia yang bisa menaklukan dunia.

Semakin aku menyelami air, aku juga tahu artinya rileks. Hidup tenang dan meninggalkan pola pikir ‘what’s next’. Hanya dengan rileks aku bisa mengambang di dalam air. Seperti menggandeng air untuk melangkah bersama di sampingku.

Aku juga bisa membasuh semua ketakutan dalam diriku dengan air yang jernih, sehingga menyelami air bagiku kini layaknya sebuah meditasi. Tenang dan fokus pada situasi tubuhku yang menyatu dengan air; merasakan gelombangnya, menyentuh dinginnya, dan tenggelam bersamanya.

Air memang tak akan semurah hati udara dan daratan, tapi air bisa menjadi sahabat baru yang menyenangkan, yang mampu memberi ruang di saat hidup terasa bising, dan sebaliknya memperkaya rasa di saat hidup terasa cerah, rasa yang hanya kamu sendiri yang bisa memilikinya.

The end.

*Title is taken from Titanic, Pic is taken from other site

 

 

 

The Smile that I Don’t Really Have

Maafin orang emang gak mudah, apalagi maafin orang yang gak pernah minta maaf ke elo, Vole. 

 

Mosh. Dari sekian temen-temen gue yang beraneka warna, gue paling nyaman sama Mosh. Makhluk hidup tanpa warna dan super enggan bergaul padahal banyak banget yang pengin jadi temen doi.

Hujan turun dengan deras setelah berhari-hari mengalah sama matahari yang masih pengin eksis dengan sinarnya yang terik di musim hujan.

“Lo tahu gak kenapa di musim hujan malah sering-seringnya panas?” Tanya Mosh ringan.

“Global warming kan.” Jawabku klise.

Mosh menggeleng tegas sambil ngeliatin hujan dengan senyum tipis.

“Mungkin kalau boleh memilih, hujan gak pernah pengin datang ke bumi, dan berkompetisi dengan matahari. Hujan cuma berusaha menyeimbangkan ekosistem.” Jelas Mosh dengan santai.

“Hah?” Aku menatap Mosh dengan kaget.

Mosh tersenyum dan menyodorkan wine kearahku. Aku menerima dan meminumnya, masih dengan mata mengernyit dan kerut di dahi.

“Pengin hadiah natal apa lo Vole dari gue?” Tanya Mosh dengan tatap mata jenaka.

“Ferrari boleh gak, Mosh?” Jawabku jujur dengan gelak tawa.

Joke-joke sampah pun mulai mengisi perbincangan gue sama Mosh selama beberapa saat sampai akhirnya diam kembali hadir, mengingatkan kalau hujan masih turun dan obrolan super melo bisa kapan aja kembali menyelinap.

“Mosh, kok gue belom bisa maafin mantan gue ya, padahal doi udah berulangkali minta maaf.” Tanyaku sedih.

“Maafin orang emang gak mudah, apalagi maafin orang yang gak pernah minta maaf ke elo, Vole.” Jawab Mosh tenang.

Aku merangkul lengan Mosh dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.

“Sakit banget ya, Mosh?” Tanyaku hati-hati.

Mosh tersenyum. Senyum yang selalu menghias wajahnya walaupun gue tahu hidupnya gak pernah mudah dan banyak yang berhutang maaf sama makhluk yang satu ini. Mosh selalu tersenyum. Mosh selalu memaafkan.

“Vole, lo maafin mantan lo ya.” Kata Mosh mengabaikan pertanyaanku.

“Will do, Mosh. Tapi Mosh, gak semua orang harus lo maafin juga kan, Mosh.” Jawabku tegas tapi lembut.

“Satu aja. Kadang gue pengin at least ada satu orang yang minta maaf ke gue, Vole. Pasti gue peluk-peluk dan gue traktir kopi mahal!” Jawab Mosh selalu dengan senyum dan tawa, dan mata yang berkaca-kaca. Oh, Mosh!

“Mosh, maafin gue ya.” Kataku sambil mengerling jenaka.

Mosh tergelak dan kita balik lagi hanyut ke joke-joke sampah. Mosh, sosok yang paling hebat keluar dari situasi melo dengan gelak tawanya, walaupun hatinya selalu kelabu.

The end.

 

 

 

 

 

 

 

Happy Sunday

Kamu selalu suka pagi di hari minggu. Being the day of the sun, harinya mentari katamu. Hari yang cerah buat aku dan kamu bertemu.

 

Tak terhitung berapa kali aku memilih berjuta kegiatan lain daripada menemuimu. Gak lupa, tujuan-tujuanku yang selalu bias tiap kali menemuimu; entah jajan-jajan makanan di deket rumah kamu, karena lagi butuh banget sama kamu, atau cuma mau duduk-duduk aja.

Pun makin tak terhitung berapa kali aku lupa sama kamu dan berbuat sesuka hati yang mungkin bikin kamu sakit hati.

Sunday. Aku selalu menunggumu dan kalau bisa temui aku di hari minggu ya. Itu pesan singkatmu. Tanpa amarah, tanpa prasangka, tanpa paksaan.

Padahal kamu punya seribu satu alasan untuk membenci dan meninggalkanku. Belum ditambah bibir nyinyir orang-orang, rumor yang berhembus, dan tentu saja kesalahan-kesalahan yang kulakukan sendiri.

Tapi kamu selalu menggandengku. Kamu gak pernah kemana-mana. Kamu di sini. Di sebelahku.

“Why do you love me?” 

“Why not?”

Pagi itu di hari minggu, di bawah mentari yang bersinar cerah, aku menangis di pelukanmu.

“Mau jajan apa pagi ini?” Tanyamu riang dengan nada ringan.

Aku menggeleng.

“I’m here to love you more.” Jawabku.

Kamu tersenyum dan memelukku lebih erat.

 

The end.

*pic is taken from pinterest

 

 

 

 

 

Am I Losing Your Magic?

Aku gak pernah salah orang. Apalagi salah menilai. Dan apalagi ini kamu.

 

Kalau aku merasa diperlakukan sebagai vas utuh saat bertemu denganmu, sementara di saat itu sebenarnya aku merasa retak dan hampir hancur, aku melihatmu sebagai sesosok manusia. Walaupun aku mengagumimu setengah mati, tapi aku tak pernah lupa kalau kamu juga seorang manusia. Karakter yang kuat dan menonjol dengan sisi rapuh yang tampak jelas terlihat karena ada benteng yang kamu bangun di sekelilingmu.

Sampai sekarang pun aku masih mengagumimu, dan berusaha memahami situasi dan segenap kamu dengan perspektif seseorang yang masih sama manusianya.

Mungkin bagimu aku seperti menjauh dan dingin. Mungkin kamu kira aku akan mundur begitu saja saat melihat sisi rapuhmu. Tapi bukankah kamu yang lebih bisa menerimaku apa adanya saat itu? I learn from the best and I stay then. Aku memilih diam, karena aku tahu tiap sudut gelap yang kamu rasakan dan hadapi. Dan aku mencoba mengerti.

Let me remind you again about your magic.

Kamu paling jeli melihat sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Entah itu kebaikan hati, bakat, atau motivasi terdalam seseorang. Kamu juga paling pintar membaca ekspresi dan mimik muka. Tentu tak semua benar saat kamu membacaku, karena aku tahu kamu bisa membaca, dan aku pintar menyembunyikannya.

Kamu juga selalu punya kata-kata penuh strategi untuk membuat atau mengarahkan lawan bicaramu berbalik mendukung pendapatmu seolah-olah itu hasil pemikiran mereka sendiri. Fantastis.

Kamu dan semua ide gilamu, selalu sukses membawa orang ke tingkat berpikir yang lebih tinggi atau lebih dalam.

Kamu unik. Aku selalu suka kejujuranmu dalam bersikap. Percayalah, setiap kali kamu berusaha menjawab diplomatis, aku tahu jawabanmu yang sebenarnya. Akhirnya, sering-seringnya kamu lebih suka menjadi jujur di depanku, dan aku suka.

Dari sederet orang hebat yang pernah berdiskusi denganku, kamu adalah keajaiban yang pernah kutemui. Kamu hebat dan kuat sekaligus jujur dalam bersikap. Tentu ada orang yang tetap menuntutmu lebih. Tentu kamu juga melakukan kesalahan. But once again, I understand it. Kamu masih manusia. Manusia yang aku kagumi setengah mati.

Tapi aku gak mau sendirian menghadapi semua ini.

Stay with me. With us.

 

The end.

 

My Gratitude

I live the present as a present.

 

Menjelang ulang tahun saya kali ini, tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saya tak memiliki banyak cerita bahkan kata untuk dituliskan karena saat ini saya sedang merasa baik-baik saja dan lebih ingin menikmati hidup ketimbang menuliskannya. Namun, saya pun tak ingin melewatkan kesempatan menjadikan hari ulang tahun saya ini sebagai titik di mana saya boleh menandai perjalanan saya lagi dengan sebuah cerita seperti hari-hari ulang tahun saya yang sebelumnya.

Kisah kali ini adalah kisah bahagia penuh terima kasih sekaligus permintaan maaf saya. Semenjak peristiwa yang saya alami beberapa tahun yang lalu, saya tak lagi sama pun hidup saya. Berat untuk dijalani, namun begitu saya bertemu dengan banyak orang-orang baik yang membantu proses saya mengikhlaskan banyak hal bahkan hingga saat ini. Lalu mengapa saya tak pernah memposting kebahagiaan saya bersama mereka?

Sejak beberapa tahun yang lalu, saya memutuskan dengan sangat berat hati untuk hanya mau bertemu bahkan berteman dengan segelintir orang saja. Alasannya sederhana; saya merapuh dan tak mau menyakiti lebih banyak orang dengan keputusan dan sepak terjang saya. Saya tak ingin memutarbalikkan dunia orang lain dengan kehidupan kontroversial yang saya jalani waktu itu. Dan kalau boleh saya jujur, saya tak sanggup lagi menerima judging dari orang lain, saya hanya butuh segelintir orang yang sialnya mereka orang-orang baik yang mau memahami saya apa adanya jadi saya maunya juga cuma sama mereka.

Hari-hari penuh senyum di wajah saya, pelangi di mata saya, gelak tawa yang renyah dan riang tak lagi saya share di media sosial, karena pada akhirnya saya lebih ingin membagikannya dengan orang-orang yang sudah bersusah payah membuat saya tersenyum lagi. Hangat dan bahagia. Rasa yang saya rasa tak perlu dipamerkan namun dirasakan. Toh saya juga bukan artis YouTube atau jejaring sosial yang harus lebih luwes dalam hal privasi.

Dengan begitu saya minta maaf kalau saya tak lagi rajin bersosialisasi baik di dunia nyata maupun maya. Bahkan sapaan pun kadang saya acuhkan. Bukan, bukan maksud hati ingin begitu atau congkak hati, pun bukan salah siapapun, saya hanya butuh waktu untuk memulihkan diri. Alhasil kini saya merasa sudah cukup baik-baik saja dan sedang mencoba membuka pintu saya lagi dengan lebih lebar. Terima kasih kalau mau memaklumi saya dan syukur-syukur tak jera untuk mampir dalam kehidupan saya.

Terima kasih. Kata ini adalah kata yang paling ingin saya suguhkan di cerita kali ini. Tentu ada banyak impian yang belum tercapai, tapi setelah semua yang saya alami akhir-akhir ini, masih bisa hidup dan utuh aja rasanya pengin peluk-peluk yang empunya kehidupan. Belum orang-orang yang semakin ke sini, kok makin lucu-lucu dan baik-baik yang diberikan ke saya. Bikin saya takjub dan menangis bahagia. Bikin saya makin gampang move on dari masa lalu. Bikin saya makin pengin ngejalanin hidup. Bikin saya makin gemes pokoknya.

Analogi hidup saya kali ini adalah parcel hari raya. Diberikan kepada saya untuk dinikmati. Saya tak lagi punya alasan untuk mengeluh apalagi bermuram durja. Saya juga menjalani hidup dengan lebih simple, gak mau lagi heroik. Tentu masih ada harapan ini-itu, dan hidup tak selalu sempurna, but that’s life, right? Senyumin aja, kata anak-anak alay.

So guys, once again, maafkan saya dan terima kasih banyak. Let’s live our present as a present.

Cheers!

 

 

*Pic taken from Kinfolk

What Took You so Long?

Nyari jodoh kayak nyari Uber?

Gue selalu tahu mana orang yang layak ditunggu apa enggak, dan elo tuh emang super layak ditunggu. Cuman emang butuh telepati, signal GPS yang kuat, peta digital yang akurat dan timing yang tepat buat mempertemukan lo sama gue.

Lo inget gak obrolan gue sama Low dan Phe waktu lagi nungguin Uber bareng? Persis deh kayak nungguin lo tapi ini versi miniaturnya.

“Yuk mencet request-nya barengan yaa.” Celetuk Low, cowok ganteng yang udah pacaran 2 tahun sama aktor yang lagi naik daun.

Setelah mencet, Low semringah karena langsung dapet. Phe, cewek asik yang manis dan jomblo, mukanya sama buteknya kayak muka gue.

“Nah gegara cowok kayak Low nih, kita susah dapet.” Celetuk gue spontan sambil mantengin hp.

“Ahahahaha kita pesen uber yee, bukan cowok!” Sambar Low dengan jenaka.

“Dipencet susah nih, hp gue hang!!” Keluh Phe.

“Nah, gitu tuh, penginnya buruan ketemu jodoh, tapi sebenarnya belum siap, hati lo belum kebuka. Sini-sini gue benerin.” Kata Low riang.

Sambil cemberut Phe pasrah nyerahin hpnya ke Low. Sementara gue ngakak-ngakak happy liat mereka berdua.

“Suami gue bentar lagi nyampe nih.” Celetuk gue iseng.

“You wish, babe!” Sambar Low secepet kilat.

Gue sama Phe ketawa.

“Makanya nih cewe-cewe kayak kalian harus kayak gue dalam hal menggaet cowok, mau tahu cara jitunya? Gini nih-” Lanjut Low sotoy.

“Ssttt… suami gue telepon nih!” Potong gue sambil angkat telepon.

“Iya pak… kalo dari arah Thamrin, bapak tinggal puter balik aja. Iya pak, apa?… Kok cancel? Apa?… Macet?” Jawab gue di telepon.

“Kenapa, babe?” Tanya Phe khawatir.

“Cancel, nih.” Jawab gue sambil nutup telepon dengan cemberut.

“OOOHHH SUAMINYA CANCEL??” Celetuk Low dengan super riang.

“Ah sialan lo!” teriak gue gemes.

Phe walau sempat ikut ngetawain dengan riang, tapi dengan cepat dia langsung nenangin gue,”Ya udah, cari aja lagi kayak gue. Nih udah dapet nih gue.”

Akhirnya gue coba cari Uber lainnya. Kali ini langsung dapet tapi Uber-nya gak sampai-sampai, sementara Uber-nya Low sama Phe udah sampai dan ikutan nongkrong nungguin gue dapat Uber.

Gue, Low dan Phe melototin peta Uber di HP gue.

“Ya ampuuuun, kok dia lewat situ sih? Muter-muter gitu!” Low nyeletuk kesal.

“Wah udah jelas nih nyasar nih doi!” Teriak Phe.

“Kok gak telepon aja sih doi? Mana ditelepon gak diangkat juga!?” Keluh gue gak kalah kesal.

“Apa cancel aja cari yang lain?” Usul Phe lemas.

“Eh bentar-bentar, tuh dia udah mulai bener kok cari jalannya. Sama halnya kayak nyari jodoh babe, kudu sabar!” Celetuk Low sambil nyengir centil.

Low pun spontan dihujani cubitan dari dua cewe kece nan jomblo di kanan-kirinya.

“Duh semoga peta jodoh gue gak kayak peta Uber gue ini!” Seloroh gue gemes.

“Eits babe, we never know lho, bisa aja jodoh lo emang tersesat kayak Uber lo ini, tapi begitu nyampe ternyata emang doi worth it buat ditungguin, dan please ya kalo udah ketemu, jangan biarkan doi tersesat di hati lo!” Jelas Low sambil cengar-cengir.

Malam itu akhirnya kita bertiga pulang selamat dengan Uber masing-masing. Ternyata Uber yang sempet nyasar itu, servicenya memuaskan. Bintang lima pokoknya.

Gitu tuh cerita gue pas nungguin elo. Lama, berkelok-kelok, painful, tapi emang sih lo layak banget ditungguin. Anyway, “What took you so long?”

The end.

 

 

 

What I Call Home

You gave me home. But you know that it won’t never be enough for me, without you.

 

Sore ini sepulang dari ngabur bentar di kedai kopi favorit, gue cuma pengin cerita ini ke elo, nyet.

Akhir-akhir ini gue ngerasa stabil dan bahagia, tapi kangen. Gue kangen sama dia yang udah bukain pintu ke rumah kecil gue yang baru ini. After what I went through, lo pasti kebayanglah nyet perasaan gue ini. Gue juga masih selalu punya keinginan yang sama tiap kali ngeliat sosoknya, pengin jejeritan dan meluk sambil bilang makasih. Gue juga ngerti kalau dia gak kemana-mana, masih di situ, dan masih ngejagain kita semua, tapi gue kangen ngobrol tanpa kata sama dia.

Setiap orang pasti punya seseorang, rasa atau apapun yang disebut rumah. Tempat buat kita tinggal dan balik dari mana pun kita pergi. Tempat yang nyaman buat pulang. Tempat kita bisa ngelepas segala atribut kita dan diterima dengan apa adanya.

Gue juga gitu, nyet. Layaknya manusia normal, gue juga selalu butuh pulang ke rumah. Rumah yang gue sebut ini gak jauh dari definisi yang elo punya. Cuma kali ini rumah ini spesial, paling enggak buat gue.

Gue udah berulangkali ditawari sebuah rumah. Bukan, bukan sama agen properti, tapi selalu sama yang empunya rumah itu sendiri. Tentu gue tetap berterimakasih pernah ditawari tinggal walaupun selalu dengan berat hati gue harus ninggalin rumah-rumah itu. Tapi, rumah yang satu ini beda.

Gue gak akan pernah lupa saat pertama pintunya terbuka, nyaman. Gue gak ngeliat apapun, tapi gue cuma merasa dan rasanya bener. It’s something right. Lo pasti juga pernah ngerasa kayak gitu kan nyet, just feel right and you can’t explain it. I was blushing at that time and yes I still can blush every time I remember that moment. Rumah itu berbicara dengan sendirinya, ngeyakinin gue kalau-kalau gue mau tinggal di situ nanti gue bakal happy. Trus gue diajak berkeliling, literally and not. Bagian gak literally-nya yang paling gue suka, soalnya kayak menjelajah ruang dan waktu. Penuh fantasi dan gimmick yang atraktif. Rumah yang satu ini gak terbatas sama tembok, ruang bersekat, dan desain interior yang cantik dan menarik. Rumah ini hidup. Gue pun langsung jatuh hati.

Sampai sekarang gue masih bahagia tinggal di rumah ini, tapi ada satu yang hilang. Dia.

The soul of this home is him. Still him. 

Rumah yang satu ini memang menawarkan sebentuk kehidupan yang menyenangkan lengkap dengan pernak-perniknya, as I told you nyet. Tapi cuma satu yang bisa bikin gue blushing dan gue pengin blushing lagi biar gue tetap pengin tinggal di sini. Joke yang renyah, tatap mata yang berbicara, kata yang penuh emosi dan makna, kehadiran yang jujur, dan cara berpikir serta merasa yang belum pernah gue dapetin dari orang lain. Cuma dia yang bisa bikin gue blushing. Bahkan dengan duduk berdiam, gue tahu dia bisa ngertiin gue. Gue kangen dengan hubungan yang abstrak ini nyet, soalnya cuma sama dia, gue bisa ngerasa lega nemuin makhluk lain yang kurang lebih sama kayak gue.

Udah nyet, gitu aja. Itu yang pengin gue ceritain sore ini. Intinya cuma satu.

I need to go home. 

 

The end.